10 Mei, Hari Lupus Sedunia, Yes We Care !

10 Mei, Hari Lupus Sedunia, Yes We Care !

logo_low_10may

Mungkin belum banyak yang tahu, apa sih yang dimaksud penyakit Lupus ? Ingatan sebagian orang tertuju pada tokoh remaja kocak era 90-an bernama “Lupus” dalam novel remaja karya Hilman Hariwijaya.

Tentu saja hal ini salah ! Lupus atau tepatnya SLE (Systemic Lupus Erythematosus) memang nama penyakit yang belum banyak diketahui kalangan awam.

Dengan kata lain, kebanyakan orang merasa asing dengan penyakit ini. Lupus berasal dari bahasa latin yang berarti serigala.

Nama ini diambil karena gejala kemerah-merahan di wajah penderita Lupus yang menyerupai gigitan serigala. Secara medis, SLE merupakan penyakit sistem daya tahan tubuh atau kekebalan (autoimun).

Berkebalikan dengan HIV-AIDS yang mematikan sistem kekebalan tubuh manusia, penyakit ini justru memproduksi sel-sel kekebalan tubuh secara berlebihan.

Antibodi disini ibarat tentara di suatu negara yang seharusnya melindungi rakyatnya (organ tubuh) dari musuh (penyakit) malah bekerja salah arah, menyerang rakyatnya sendiri, merusak organ tubuh sendiri, diantaranya : kulit, syaraf, otot persendian, mata, jantung, darah, hati, ginjal dan paru-paru.

Lupus sering disebut juga sebagai penyakit wanita aktif, karena sebagian besar penderitanya adalah wanita produktif usia 15 tahun sampai 40 tahun. Di Indonesia, jumlah penderitanya diperkirakan mencapai 1,5 juta orang, 90% penderitanya adalah wanita.

Sampai sekarang, penyebab lupus yang sebenarnya belum diketahui. Dugaan sementara, lupus disebabkan oleh kombinasi antara gen yang cacat dan faktor lingkungan, seperti sinar matahari, stres, obat-obatan tertentu, hormon, infeksi dan virus tertentu.

Diduga, walaupun belum terbukti secara ilmiah, orang tua dapat mewariskan faktor tertentu kepada keturunannya sehingga mereka rentan terhadap lupus. Akan tetapi, lupus bukanlah penyakit menular.

Penyakit lupus seringkali disebut sebagai penyakit “seribu wajah”, karena dapat meniru berbagai macam penyakit dari keadaannya. Gejalanya pun sangat beragam dan dapat berbeda antara satu pasien dengan pasien yang lainnya, membuatnya sulit untuk dideteksi.

Dari demam, nyeri otot dan sendi, rasa lelah dan lemas yang berkepanjangan, sariawan yang terus menerus, gangguan pencernaan, anemia, sakit kepala, sensitif terhadap sinar matahari, tekanan darah tinggi, hingga gagal ginjal dan stroke.

Jika Lupus dapat terdeteksi lebih dini dan diobati dengan tepat, maka penderita Lupus dapat hidup normal layaknya orang sehat. Kalau tidak, susah untuk mendeteksinya dalam tubuh karena Lupus menyebar dengan cepat.

Meski Lupus dikenal sebagai penyakit berisiko tinggi, penderita Lupus tidak perlu merasa khawatir berlebihan, karena para ahli kedokteran akan terus memperbaiki cara dan penanganan yang tepat bagi penyembuhan Lupus.Sekarang ini, sudah semakin banyak pilihan pengobatan untuk SLE yang memberikan harapan baru.

Untuk peringatan Hari Lupus Sedunia pada 10 Mei 2015 ini –seperti dilansir tabloidbintang.com- Tiara Savitri, Ketua YLI (Yayasan Lupus Indonesia), mengatakan rentetan perayaan Hari Lupus Sedunia akan dimulai dengan mengirim Surat Cinta kepada Presiden Jokowi

Intinya, untuk meminta perhatian beliau agar Odapus (Orang yang hidup dengan Lupus), yang diperkirakan berjumlah sekitar 1.500.000 tidak didiskriminasi dengan sistem Kartu Sehat dan BPJS yang sama sekali tidak memberikan keadilan pagi para Odapus.
Disarikan dari beragam sumber.

About author

You might also like

Budaya

Budaya Malu Bangsa Jepang, Bagaimana Dengan Kita ?

Belajar pada bangsa lain wajib dilakukan, sebab setiap bangsa memiliki etos dan karakter yang berbeda dengan kita, dan kita tidak perlu segan mengakuinya.

Artikel

Milyarder China Sewa Artis Porno Menjadi Asisten Pribadinya !

Anda penikmat film-film dewasa dari negeri Sakura ? Siap-siap saja Anda kecewa, karena idola Anda sudah disewa orang lain. Seorang miliader dari China misterius yang tak diketahui nama dan wajahnya

Budaya

Perang Tomat, Ritual Mensyukuri Hasil Bumi

Perang kali ini tidak berdarah-darah. Perang ini juga tidak terjadi di luar negeri, namun di Indonesia, tepatnya di Lembang, Jawa Barat