Angkringan, Belajar Iso Rumongso

Angkringan, Belajar Iso Rumongso

Angkringan, Jogja

Angkringan, Jogja

Mungkin salah satu yang dimiliki Yogyakarta berbeda dengan daerah lain, adalah angkringan.

Angkringan berasal dari kata angkring atau nongkrong sering disebut juga warung HIK, singkatan dari Hidangan Istimewa Kampung, merupakan sebutan bagi pedagang kudapan atau makanan yang berjualan pada malam hari. Mereka baru buka magrib hingga larut malam, sebagai penyedia kudapan bagi mereka yang bekerja malam.

Berbeda dengan angkringan saat ini yang memakai gerobak, diawal kemunculannya angkringan menggunakan pikulan. Dahulu, seorang Mba Pairo berjualan angkringan bertempat di emplasemen Stasiun Tugu. Pada masa Mbah Pairo berjualan, angkringan dikenal dengan sebutan ting-ting hik. Hal ini disebabkan karena penjualnya berteriak “Hiiik…iyeek” ketika menjajakan dagangan mereka. Istilah HIK sering diartikan sebagai Hidangan Istimewa Kampung. Sebutan hik sendiri masih ditemui di Solo hingga saat ini, tetapi untuk di Jogja istilah angkringan lebih populer.

Para pencinta warung HIK atau angkringan, berasal dari berbagai profesi dan kalangan, wartawan, seniman, budayawan, tukang becak, mereka bisa bertemu dan berbincang santai. Kini warung angkringan sudah tersebar di berbagai sudut kota Yogyakarta.

Angkringan Mba Pairo, kini dilanjutkan putranya oleh Lik Man merupakan angkringan legendaris, sebab pedagangnya adalah generasi awal pedagang angkringan di Yogyakarta yang umumnya berasal dari Klaten. Begitu sampai di angkringan yang buka pukul 18.00 ini, anda bisa memesan bermacam minuman yang ditawarkan, panas maupun dingin. Berbagai makanan juga disediakan, ada sego kucing berlauk oseng tempe dan sambal teri hingga gorengan dan jadah (makanan dari ketan yang dipadatkan berasa gurih) bakar.

Sego kucing di Angkringan tak kalah lezat dengan masakan lainnya sebab nasinya pulen dan oseng tempe dan sambal terinya berbumbu pas. Menikmati sego kucing yang selalu disajikan dalam keadaan hangat dengan lauk gorengan atau sate telur selain lezat juga tak menguras uang. Jika menjumpai makanan dalam keadaan dingin, anda dapat meminta penjual untuk menghangatkannya dengan cara dibakar. Lauk pauk menjadi lebih lezat ketika dibakar adalah mendoan (tempe goreng tepung), tahu susur, tempe bacem, endas (kepala ayam) dan tentu saja jadah.

Bila tak nyaman makan dengan bungkus nasi saja atau anda makan dalam jumlah banyak, penjual angkringan menyediakan piring untuk menyamankan acara makan kita .
Kita bisa memilih tempat duduk di dua tempat yang disediakan. Jika ingin berbincang dengan pedagang, anda bisa duduk di dekat bakul atau anglo. Selain dapat bercerita dengan penjualnya, duduk di dekat bakul akan mempermudah jika ingin tambah makanan. Tetapi bila ingin lebih berakraban dengan teman, anda bisa duduk di tikar yang digelar memanjang di trotoar seberang jalan. Tak perlu khawatir ruang yang tidak cukup sebab panjang trotoar yang digelari tikar.
Sambil duduk, kita diberi kebebasan untuk berbicara apapun.

Orang-orang yang sering datang ke angkringan ini membicarakan berbagai hal, mulai tema-tema serius seperti rencana demostrasi dan tema edisi di majalah mahasiswa hingga yang ringan seperti kemana hendak liburan atau sekedar tertawaan tak jelas yang sering disebut dengan gojeg kere. Tak ada larangan formal, tetapi yang jelas perlu menjaga budaya angkringan, yaitu tepo sliro (toleransi), kemauan untuk berbagi dan biso rumongso (menjaga perasaan orang lain). Bisa diartikan tak perlu berebut tempat dan menghargai orang lain yang duduk berdekatan.
Kini, beberapa orang memandang angkringan telah menjadi trade mark jenis usaha kuliner yang menjanjikan, sehingga dibeberapa tempat di Jakarta sudah membuka lapak angkringan bahkan di acara walimah penganten pun, terkadang disediakan angkringan dengan menunya.

“Dengan adanya pergeseran makna dari nongkrong, yang dahulu lebih dianggap buang-buang waktu, kini nongkrong menjadi trend untuk berdiskusi secara santai.”

Dengan adanya pergeseran makna dari nongkrong, yang dahulu lebih dianggap buang-buang waktu, kini nongkrong menjadi trend untuk berdiskusi secara santai. Maka tak heran warungan angkringan semakin menjamur di Yogyakarta.

Berbagai tema pembicaraan banyak berseliweran mulai dari politik, budaya, sepak bola, hingga persoalan di kamar di ruangan angkringan, hangat, gayeng dan terkadang penuh semangat. Semua isu beredar dengan terbuka, semua orang bisa mendengar dan nimbrung dalam putaran diskusi. Diskusi akan selesai seiring dengan bubarnya orang-orang, dan kembali sepi setelah pagi menyingsing.

Suasana inilah yang sering orang-orang rindu kembali ke Yogyakarta, mereka yang sudah sukses bekerja di luar kota, akan kembali men-charging energi hidupnya dengan merasakan kembali berseliwerannya wacana penggelitik sanubari dan pikiran.

Meskipun berbagai berita dapat mereka cari di gadget, namun pada dasarnya manusia butuh teman-nyata yang membuat kita tertawa melihat tingkah dan polahnya atau kita bisa merenung dengan kepolosan ujaran-urannya mereka. Angkringan hadir sebagai ruang budaya yang mampu menekan egois dan individualisme kita sendiri. Iso rumongso.

Penulis : Munawar Ahmad

Comments

About author

You might also like

Artikel

budaya politik di indonesia masih dipengaruhi oleh ikatan primordial

Gak apa-apa donk siloka.com membahas Budaya politik, sedikit obrolan tengah malam yang membuat mengerutkan dahi.

Artikel

Perang Tomat, Ritual Mensyukuri Hasil Bumi

Perang kali ini tidak berdarah-darah. Perang ini juga tidak terjadi di luar negeri, namun di Indonesia, tepatnya di Lembang, Jawa Barat

Budaya

Bagaimana Kesan Eddi Brokoli Kehilangan Rambut Khas-nya?

Apa yang latar belakangi Eddi Brokoli mencukur habis rambutnya menjadi botak di tahun 2013.

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply