Belajar Dari Kartini : Habis Gelap Terbitlah Terang

Belajar Dari Kartini : Habis Gelap Terbitlah Terang

habis-gelap-terbitlah-terang-kartini

 

Setiap tahun, setiap 21 April kita memeringati hari Kartini. Yang muncul ke permukaan, kita berbatik atau berkebaya ria tetapi lupa akan makna sesungguhnya.

Emansipasi yang diperjuangkan R.A Kartini merupakan barang mahal semasa beliau masih hidup. Namun kini, emansipasi merupakan sesuatu yang lumrah. Perempuan Indonesia bisa berkiprah di mana pun mereka suka, tanpa hambatan yang berarti.

Hambatan di masa kini lebih kepada hambatan ekonomi, di mana masyarakat umumnya, tidak memandang apakah dia lelaki atau perempuan kesulitan untuk mengakses pendidikan, kesehatan dikarenakan persoalan ekonomi semata.

Hambatan yang ditemui Kartini seratus tahun lalu, seperti hambatan budaya, ketidaksetaraan gender hampir tidak ditemui lagi sekarang ini. Nah, apa yang bisa kita pelajari dari Kartini ?

Kartini sering berkorespodensi dengan sahabat penanya, antara lain Estella H Zeehandelaar, Nyonya Ovink-Soer, Nyonya RM Abendanon-Mandri, Tuan Prof Dr GK Anton dan Nyonya, Hilda G de Booij, dan Nyonya van Kol. Semuanya dalam bahasa Belanda.

Dalam surat-suratnya, Kartini mencurahkan isi hatinya. Selepas Kartini wafat, surat-surat tersebut kemudian dibukukan dalam bahasa Belanda, yaitu “Door Duistemis Tot Licht.”

Buku tersebut kemudian diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang” versi terjemahan Armijn Pane yang terbit tahun 1938. Apa sebenarnya yang dibahas Kartini dalam surat-suratnya itu ?

Dalam surat-suratnya, Kartini mengungkapkan bahwa jalan yang dia tempuh sekarang, berbatu-batu, terjal, dan belum dirintis. Itulah jalan menuju kebebasan perempuan bumiputera. Kartini bahagia karena boleh mengajar jadi guru. Baginya, pendidikan adalah perkara penting. Rasanya satu mimpi sudah terwujud.

Di mata koleganya, Kartini memang dikenal suka bercerita dan bersemangat di setiap kata-katanya. Bagaimana ia bercerita tentang seorang anak malang yang ia temui di jalan, dan mendorongnya untuk tetap berjuang. Dan banyak perihal perkara lain yang dihadapinya.

Kartini juga membahas mengenai masalah perkawinan dan praktek poligami yang sangat marak di zamannya. Kartini tidak menyukai poligami, karena ayahnya sendiri berpoligami. Tampak bagaimana gundahnya Kartini akan perkawinan, dan akan cinta yang rasanya mustahil ada.

Kartini adalah sosok perempuan yang maju untuk ukuran zamannya. Beruntunglah kita memiliki sosok seperti Kartini. Melalui Kartini kita bisa belajar banyak hal. Ia berani dan bertekad kuat agar kaumnya sejajar dan mendapatkan hak-hak yang sama dengan kaum Adam.

 

“Tahukah engkau semboyanku ? Aku mau ! Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata “Aku tiada dapat !” melenyapkan rasa berani. Kalimat “Aku mau !” Membuat kita mudah mendaki puncak gunung” (R.A.Kartini)

 

About author

You might also like

Budaya

Masjid Dengan Arsitektur Paling Unik dari Berbagai Negara (2)

Masjid menjadi titik sentral aktivitas kaum muslimin. Namun, arsitektur Masjid di berbagai pelosok dunia berbeda dan unik.

Hits

Reaktor Nuklir Kuno Lebih Canggih Dari Reaktor Nuklir Modern?

Menarik, dampak termal dari Reaktor Nuklir Kuno pada lingkungan hanya sebatas radius 40 meter ke semua sisi.

Napak Tilas

Setelah Little Boy, Fat Man Meluluh Lantakkan Nagasaki Sekejap

Sejarah senantiasa mencatat, pada Agustus ini selain Hiroshima, Nagasaki adalah kota yang terpapar tragedi kemanusiaan terbesar.

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply