Belajar Dari Nepal : Bangunan Tradisional Lebih Tahan Gempa

Belajar Dari Nepal : Bangunan Tradisional Lebih Tahan Gempa

Dahsyatnya gempa Nepal

Dahsyatnya gempa Nepal

Gempa Nepal yang berkekuatan Mw 7,8 sungguh begitu menakutkan. Sejauh ini tercatat menewaskan, 3.617 jiwa dan melukai 6.833 orang. Jumlah ini masih bisa membengkak dalam hari-hari ke depan.

Berada pada zona tumbukan lempeng sub-benua India ke Eurasia, Nepal memang rentan terdampak gempa. Bagi kita yang melihatnya, alam selalu dijadikan kambing hitam. Alam-lah yang salah, dan manusia senantiasa menjadi korbannya. Apakah memang demikian ?

Padahal sesungguhnya, ada hal lain yang memicu jatuhnya banyak korban jiwa. Faktor dominan itu adalah respons budaya, selain itu juga struktur ekonomi dan politik (dalam Ahmad Arif, Kompas, 29 April 2015).

Seperti gempa-gempa yang menimpa dunia ketiga, di Nepal juga dari laporan menunjukkan bahwa korban tewas rata-rata tertimpa reruntuhan bangunan. Dan rata-rata bangunan di sana menggunakan material batu bata.

Batu bata merupakan struktur yang rapuh untuk gempa. Maka tidaklah aneh, di daerah yang material bangunannya menggunakan batu bata, seperti juga di negara kita, maka korban akibat gempa dipastikan sangatlah besar.

Bandingkan dengan Jepang. Negara ini adalah salah satu negara yang rawan gempa. Namun masyarakat di sana lebih siap. Di Jepang, masyarakatnya tidak lagi menggunakan batu bata. Pilihan mereka jatuh pada konstruksi kayu, dan baja dengan dinding dari papan kayu, fiber atau beton.

Menurut sebuah penelitian, bangunan tradisional, seperti juga yang ada di Nepal yang kebanyakan dari kayu relatif lebih tahan gempa. Hal yang sama juga terjadi di Indonesia dengan bangunan tradisional yang didominasi kayu, relatif lebih tahan gempa.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Syamsul Maarif dalam satu kesempatan, mengatakan pentingnya untuk kembali kepada kearifan lokal.

“Kearifan lokal merupakan salah satu hal yang tidak dapat dihilangkan dalam upaya menanggulangi bencana. Namun sayangnya, sampai saat ini, belum banyak kearifan lokal yang diadopsi untuk pembangunan rumah tahan gempa yang dibangun di Indonesia,”

Lebih lanjut, Maarif mengatakan, saat ini di pedesaan sudah jarang ditemukan rumah-rumah tradisional dengan arsitektur vernakular yang sebenarnya terbukti ampuh menanggulangi bencana. Padahal, negara semodern Jepang saja masih mengadopsi model rumah tradisional.

Jadi meskipun fenomena alam, gempa di suatu tempat bisa berbeda jumlah korbannya. Hal ini disebabkan kesiapan masyarakatnya. Minimnya antisipasi, dan seperti di ulas di atas, struktur bangunan tradisional justru bisa lebih tahan gempa dibanding bangunan yang bermaterial batu bata.
Dari beragam sumber.

Comments

About author

You might also like

Gaya Hidup 0 Comments

Vision, Karakter Baru di Avengers Age of Ultron.

Sejak rumor kemunculan film “Avengers: Age of Ultron”, ramai¬†perbincangan mengenai karakter yang akan muncul dalam film ini. Salah satunya¬†adalah Vision, terutama semenjak Marvel Studio merilis trailer ke-3. Sambil menunggu penayangan

Budaya

budaya politik di indonesia masih dipengaruhi oleh ikatan primordial

Gak apa-apa donk siloka.com membahas Budaya politik, sedikit obrolan tengah malam yang membuat mengerutkan dahi.

Sains

Penampakkan Beruang di Mars Asli Atau Pareidolia ?

Mengikuti penemuan-penemuan terbaru di Planet Mars sungguh menarik. Benarkah ada kehidupan di sana ? Bukti-bukti semakin menguatkan.

1 Comment

  1. Balqie
    May 01, 18:21
    mitigasi bencana...

Leave a Reply