Benarkah Tongkat Bung Karno Mengandung Kesaktian ?

Benarkah Tongkat Bung Karno Mengandung Kesaktian ?

Banyak mitos yang dilekatkan dengan sosok Bung Karno. Salah satu mitos yang masih menjadi misteri adalah kesaktian tongkat beliau.

Mungkin karena kharisma beliau yang luar biasa, banyak hal yang berhubungan dengannya dikaitkan dengan kesaktian dan hal-hal mistis. Mulai dari kacamata, peci hingga tongkat komando yang sering dibawa dalam berbagai acara.

Proklamator RI ini kabarnya memiliki ratusan pusaka. Padahal, Putra Sang Fajar itu dikenal sebagai sosok lelaki yang rasional dan bervisi jauh ke depan. Kendati demikian, dalam sejarah kehidupannya ternyata tidak lepas dengan hal-hal yang bersifat spiritual budaya, termasuk kepemilikan atas pusaka.

Bentuk pusaka itu bermacam-macam. Ada keris, tombak, tongkat komando dan sebagainya. Pusaka Bung Karno kebanyakan berasal dari jalur ayah, kakek moyang yang kebetulan berdarah Majapahit.

Sementara dari nenek atau ibu berasal dari keturunan Raja Buleleng. Dengan begitu, ada juga pusaka yang berasal dari Singosari. Pusaka itu dikumpulkan sejak Bung Karno masih muda hingga jadi presiden, lalu sesudahnya. Jumlahnya masih terus diinventarisir.

Namun, berkali-kali Bung Karno dalam berbagai kesempatan mengatakan bahwa tongkat komandonya tidak memiliki daya sakti; daya linuwih. “Itu hanya kayu biasa yang aku gunakan sebagai bagian dari penampilanku sebagai pemimpin dari sebuah negara besar,” kata Bung Karno kepada Cindy Adams, penulis biografinya, pada suatu saat di Istana Bogor.
Sampai detik ini, baru sepersepuluh benda peninggalan Bung Karno yang pernah dipamerkan. Keluarga Bung Karno merasa tidak heran bila ada beberapa pihak mengaku memiliki ‘tongkat komando’ Bung Karno. Sebab, segala sesuatu yang berhubungan dengan Bung Karno selalu menjadi fenomena menarik. Tidak hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri.*
(disarikan dari berbagai sumber).

Comments

About author

You might also like

Makanan

Sagu, Makanan Pokok yang Terlupakan

Sebagian besar masyarakat Nusantara mengandalkan beras sebagai makanan pokoknya. Tapi tidak semua, di beberapa tempat beras diganti Sagu.

Artikel

Si Jalak Harupat

Fotonya memang menghiasi uang pecahan Rp.20.000,- Namun, sepak terjang Pahlawan satu ini seolah terlupakan. Padahal Ia adalah tokoh besar pada masanya. Siapakah Ia sebenarnya ? Selepas Proklamasi, Ia pernah didapuk

Artikel

Sehabis Lebaran, Semoga Menjadi Lebih Baik.

Lebaran telah berlalu. Yang mudik ke kampung halaman mulai berdatangan kembali ke kota-kota untuk melanjutkan pergumulannya.