Bicara Soal Seks, Kamasutra Jawa Ini Jauh lebih Dahsyat

Bicara Soal Seks, Kamasutra Jawa Ini Jauh lebih Dahsyat

Bagi pembaca membicarakan “Kamasutra” mungkin tidaklah aneh. Namun, bicara soal seks, Kamasutra Jawa dalam Serat Centhini ternyata lebih dahsyat.

Banyak para pengamat Sastra Jawa yang menyebut Centhini lebih dahsyat dibandingkan dengan kitab seks Kamasutra dari India yang mendunia itu. Buku tersebut mengajarkan banyak hal termasuk untuk tidak melakukan hal-hal yang mengikuti hawa nafsu manusia. Mengenal bagaimana peradaban budaya seks Jawa.

Padahal selama ini wanita Jawa, selalu digambarkan malu-malu, pendiam, sopan, sangat berbakti pada suami, dan tabu ketika membicarakan masalah kehidupan seksualnya. Namun tidak demikian halnya kalau kita membuka Serat Centhini, yang merupakan Kamasutra Jawa, yang mengupas masalah itu dengan lebih blak-blakan.

Karya sastra itu muncul pada abad ke-19 yang terdiri atas 722 tembang (lagu Jawa).  Bernama lain Suluk Tembangraras, karya sastra itu dibuat oleh tiga pujangga keraton Surakarta yaitu Yasadipura 11, Ranggasutrasna dan R. Ng. Sastradipura atas perintah K.G.P.A.A. Amengkunegara II. Uniknya meski saat itu kehidupan masih keraton dan kuno, Serat Centhini menguraikan dengan gamblang soal permainan seks sampai cara mempercepat orgasme perempuan.

Memang kemunculan Serat Centhini seakan-akan di luar kebiasaan. Meski kebudayaan Jawa di masa kejayaan keraton bersifat represif-feodalistik, demikian tulis Otto Sukatno CR dalam Seks Para Pangeran: Tradisi dan Ritualisasi Hedonisme Jawa (Bentang, 2002), namun dalam bidang seksual ternyata sangat jauh dari apa yang kita bayangkan. Masalah seksualitas muncul dalam ekspresi seni, terutama sastra dan tari.

Misalnya tertulis dalam Centhini IV (Pupuh Balabak) yang menjelaskan mengenai Pratingkahing Cumbana atau gaya berhubungan intim serta sifat perempuan yang bisa membangkitkan nafsu asmara. Sehingga bagi Anda para pria, bisa terungkap dalam karya sastra itu bahwa wanita tak selamanya bersikap lugu atau pasif dalam masalah seks.

Dalam Centhini II (Pupuh Asmaradana) diuraikan dengan gamblang soal “ulah asmara” yang berhubungan dengan lokasi genital yang sensitif dalam kaitannya dengan permainan seks. Misalnya, cara membuka atau mempercepat orgasme bagi perempuan, serta mencegah agar lelaki tidak cepat ejakulasi. Lalu dalam Centhini IV (Pupuh Balabak) diuraikan secara blak-blakan bagaimana pratingkahing cumbana yaitu gaya persetubuhan, serta sifat-sifat perempuan dan bagaimana cara membangkitkan nafsu asmaranya.

disarikan dari beragam sumber.

 

Comments

About author

You might also like

Artikel

“Dewi Adalah Sumber Inspirasi, Sumber Kehidupanku”

Salah satu istri Bung Karno yang sering diperbincangkan adalah Dewi Soekarno. Nama aslinya adalah Naoko Nemoto, berkebangsaan Jepang.

Ekonomi

Resort Kampung Sumber Alam, Resort Berbasis Green Tourism

Membincangkan Garut seakan tak pernah habis. Garut memang sudah menjadi tujuan pelancong sejak zaman “baheula.”

Hits

7 Gunung Terindah di Dunia (1)

Bagi para pendaki gunung atau pecinta petualangan alam tentu selalu mengidamkan pemandangan yang indah dan memukau saat berkelana.