Budaya Malu Bangsa Jepang, Bagaimana Dengan Kita ?

Budaya Malu Bangsa Jepang, Bagaimana Dengan Kita ?

Belajar pada bangsa lain wajib dilakukan, sebab setiap bangsa memiliki etos dan karakter yang berbeda dengan kita, dan kita tidak perlu segan mengakuinya.

Salah satu karakter bangsa Jepang yang perlu diacungi jempol adalah rasa malu jika berbuat kesalahan. Budaya malu (shame culture) sejatinya merupakan sikap dan sifat bangsa Timur/Asia termasuk bangsa kita.Intinya merupakan wujud hati nurani yang benar, bukan hanya di permukaan saja atau cari-cari publisitas saja. Namun, pada bangsa Jepang, sifat ini begitu menonjol. Sehingga tidaklah aneh jika kita lihat dalam pemberitaan atau film-film bertemakan Jepang, jika seseorang melakukan kesalahan, atau melalaikan tugas, maka mereka lebih memilih mengundurkan diri atau malah yang lebih ekstrem memilih “bunuh diri” ketimbang harus hidup menanggung malu.

Sampai kinipun, bagi masyarakat Jepang moral atau akhlak dalam konsep rinri (bertata-krama), jiwanya datang dari China kuno. Ajaran Konfusianisme di Jepang sebagai falsafah hidup dijunjung tinggi sebagai panduan yang  menjiwai identitas dan tanggung jawab tidak hanya dalam keseharian keluarga, tapi juga dalam  keseharian pelayanan brokrasi dan kelincahan bisnis/mencari untung dengan pertanggungjawaban sosial.

Filsuf kuno Konfusius sudah sejak zaman dulu mengungkapkan secara halus berikut ini “… kesalahan mendasar kita adalah mempunyai kesalahan dan tidak sudi memperbaikinya (the real fault is to have faults and not to amend it).” Setiap kali orang Jepang membuat kesalahan fatal, karena malu menggugat diri/introspeksi diri dengan melakukan meditasi dan kemudian memperbaiki diri atau mengundurkan diri bahkan ada yang sampai ber-harakiri (bunuh diri), karena rasa malu.

Setiap anggota masyarakat di Jepang harus berani dan fokus menatap cermin, setiap  pagi sebelum sarapan dan malam sebelum tidur selama 60 detik (satu menit), mengugat diri/introspeksi diri dan bertanya yang ada di cermin, masihkah menghayati etika & norma yang ada atau budaya malu sudah luntur dalam dirinya..??

Seorang menteri di Jepang mengundurkan diri setelah ketahuan korupsi. Atau pengunduran diri Perdana Menteri Jepang, Naoto Kan pada 2011 karena malu tidak bisa mengatasi bencana gempa bumi dan tsunami yang menyebabkan krisis nuklir di Fukushima Jepang.

Lalu bagaimana dengan Indonesia ? Adakah cerita di negara kita, pejabat diindikasikan korupsi lalu mengundurkan diri ? Adakah yang merasa malu jika sudah terbukti tertangkap tangan oleh KPK ? Silakan jawab sendiri.

dari berbagai sumber.

Comments

About author

You might also like

Hits

Kota London Merayakan Idul Fitri.

Tanpa pawai, pesta kembang api dan pukul beduk di malam takbiran, bagaimana Idul Fitri di London?

Teknologi

Transplantasi Kepala: Ilmiah? atau Fiksi Ilmiah? (1)

Tahun 1970, transplantasi kepala seekor monyet hidup berakibat kelumpuhan akibat penolakan dari sistem kekebalan tubuh terhadap kepala.

Jalan-Jalan 0 Comments

Kuburan-Kuburan Paling Unik di Nusantara

Kematian. Moment kesedihan ini ditanggapi secara beragam oleh berbagai kebudayaan. Jika di Mesir sana, jenazah seorang Fir’aun di balsam dan di mummi-kan, maka di belahan dunia lain moment tersebut di