Cara Bung Karno Memilih Buah Durian

Cara Bung Karno Memilih Buah Durian

Bagaimana memilih durian yang matang ? Kesulitan ini tidak hanya terjadi pada rakyat awam, bahkan Bung Karno pernah mengalaminya.

Peristiwa lucu ini diceritakan dalam buku “Bung Karno, Bapakku, Kawanku dan Guruku” Karya Guntur Soekarno. Beginilah ceritanya…

Sebagaimana biasanya bila aku (Guntur) dan adikku Mega (Megawati) liburan sekolah, Bapak (Bung Karno) selalu mengajak kita keliling-keliling kota Jakarta untuk relax di malam hari secara incognito. Kesempatan yang begitu itu sekaligus oleh Bapak digunakan untuk melihat dari dekat keadaan hidup rakyat banyak.

Waktu keliling-keliling naik mobil Bapak kadang-kadang mengajak berhenti di lokasi-lokasi tertentu yang menarik perhatiannya, seperti misalnya : Glodok, Kebayoran Lama, Condet, Grogol, Senen plus daerah hitamnya yaitu Planet, Clincing dan lain sebagainya.

Pada suatu kesempatan keliling-keliling kota Bapak (Bung Karno) mengajak untuk mampir di Restoran tepi laut “Layar Terkembang” dekat Cilincing untuk makan-makan sate Madura. Sambil menunggu pak sate membakar sate ayamnya maka Bapak berkeliling-keliling halaman restoran tadi dan secara kebetulan bertemu dengan seorang abang-abang penjaja durian yang kebetulan berada di situ.

Bung Karno (BK) : “Eh, jang eta kadu sabaraha harganya ? (Eh, Jang itu durian berapa harganya ?)

Pedagang  : “Eh..eh..

BK : “Sabaraha Jang ?”

Pedagang : “Ehm..apaan yaah ??

BK : “Haah..Kau bisa bahasa Sunda ??

Pedagang : “Ndak….dak..Pak.

BK : “Ah, darimana kau punya asal ?”

Pedagang : “Dari sini-sini sajjjah..”

BK : “Oh, bapak kira kau dari Priangan…Durennya harganya satu berapa ?”

Pedagang : ” Aaaaah…harganya sih….berapa aja dah Pa…!

BK : “Lhooo…yang bener !! Berapa harganya satu ??

Setelah harganya cocok, Bapak kemudian mulai memilih durian-durian tadi satu per satu.

BK : “Heeh Tok (Panggilan akrab Guntur : Mas Tok).. sini ! Perhatikan caranya Bapak memilih durian yang bagus !”

Guntur : “Wah Pak, kalau soal milih saja kan gampang…cium aja mana yang paling harum…pasti itu yang paling manis.”

BK : “Huuuh…Bodooog Kau ! (Bodog =bodoh), begini caranya…perhatikan Bapak..

Guntur : “Ya dehh..

BK : “Mula-mula harus kaulihat lebih dahulu tangkainya ; kalau kering segar dan bentuk ujungnya halus nyoplok…nah itu satu pertanda bahwa durian itu jatuhan….sudah itu perhatikan duri-durinya…kalau ujung-ujungnya runcing dan bentuk kerucutnya padat berarti durennya tua dan mateng. Yang penghabisan cium baunya….tapi ingat harus dari sebelah pantatnya ! Jangan dari samping atau di tangkainya. Kalau baunya sengak segar dan ndak sengak bau busuk atau bau karbit itu tandanya duren tua di pohon.

Jadi Bapak ulangi….

Satu !….periksa tangkainya.

Dua !….lihat duri-durinya.

Tiga ! ….Cium baunya dari sebelah pantat.

Kalau ketiga-ketiganya baik itu tandanya duriannya jempolan ! Nanti kau bisa buktikan setelah durian-durian ini Bapak pilih terlebih dahulu.

Guntur : “Mau sekalian dimakan di sini juga Pak ?”

BK : “Ndak ! Nanti saja di rumah…lebih afdol !!”

Setelah kembali ke Istana Bapak segera memanggil Pak Tamin dan memerintahkan agar durian-durian yang sudah dipilih oleh Bapak berdasarkan teorinya tadi dibelah…

Guntur : “Yaa…Pak !! Kok durennya bosooook !

BK : “Min…coba nu eta ! (Coba yang itu !)

Tamin : “Yeeeiii..anyep Pak !!”

BK : “Wah ??…Mosok iyo !? (Masak iya) !! buka kabeh (buka semuanya !)

Guntur : “Duuilaaah…!!! Gimana sih Bapak milihnya ??…kok butut semua durennya ?? Uuuhhh..teori Bapak ngga laku kalau begitu !!”

BK : “Ndak tahulah !…sekali ini Bapak meleset pilih durian ! uuh ini duren barangkali jenis baru…

Guntur : “Emangnya jenis apa Pak ?”

BK : “Jenis duren…Kontra Revolusii !!

Guntur : “Haaaah ! ?”

 

About author

You might also like

Budaya

Permainan Tradisional Ini Sudah Hampir Punah (1)

Beruntunglah mereka yang mengalami masa kecil di era 80 hingga 90-an. Dikarenakan mereka masih sempat menikmati permainan tradisional.

Hits

Harta Karun di Perairan Indonesia Diperkirakan Bernilai 127,6 Triliun ! (1)

Sudah semenjak dulu perairan Nusantara banyak dikunjungi kapal-kapal dagang. Seperti tercatat di buku-buku sejarah, Nusantara menjadi tujuan pencarian rempah-rempah dan sumber alam yang menjadi incaran para pedagang dari Barat.

Gaya Hidup 0 Comments

Onani, Dari Zaman Mesir Purba Hingga Abad 21

  Jika ada perbuatan yang dilakukan banyak orang, namun tidak banyak diakui, maka onani salah satunya. Istilah Onani sendiri memunculkan perdebatan, sebagian orang menganggap “Onani” adalah istilah dari bangsa Jepang