Cerita Unik & Lucu Seputar Konferensi Asia Afrika 1955

Cerita Unik & Lucu Seputar Konferensi Asia Afrika 1955

Para Pemimpin Negara Pada KAA 1955

Para Pemimpin Negara Pada KAA 1955

KAA Pada 1955 banyak mengguratkan sejarah yang hebat. Sehabis KAA, banyak negara-negara di Asia dan Afrika beroleh kemerdekaannya.

Namun, KAA 1955 juga banyak meninggalkan cerita unik dan lucu. Cerita-cerita kecil di seputaran Konferensi namun tetap merupakan sejarah tersendiri. Seperti diketahui, KAA 1955 banyak dihadiri “Founding Fathers” dan Pemimpin-Pemimpin Besar dari beragam bangsa. Sebut saja Nehru, Perdana Menteri India, Presiden Mesir, Gamal Abdel Nasser, Chou En Lai, Perdana Menteri Tiongkok dan banyak lagi. Tak ketinggalan sebagai tuan rumah, Bung Karno, Bung Hatta dan Perdana Menteri Ali Sastroamijoyo adalah tokoh-tokoh berkaliber besar juga.

Selain pencapaiannya yang hebat, KAA meninggalkan cerita unik dan terkadang lucu. Ceritanya tak lepas dari tokoh-tokoh besar itu tadi. Berikut di antara cerita-cerita tersebut :

Rumah Makan Madrawi

Rumah Makan Madrawi

1. Nehru, minum kobokan. Ceritanya begini. Rumah Makan Madrawi di Jalan Dalam Kaum Bandung sangat dekat dalam keseharian Presiden pertama Indonesia Bung Karno.

Pada saat KAA 1955, Soekarno-lah yang menyarankan sate dan gulai RM Madrawi jadi menu sajian bagi delegasi KAA.

Suatu hari, sempat terjadi kejadian unik saat Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru datang ke RM Madrawi. Saat itu, ia bersama beberapa orang lainnya memesan sate kambing dan nasi rames. Sebelum pesanan datang, para pelayan seperti biasa meletakkan kobokan untuk mencuci tangan. Tanpa disangka, kobokan cuci tangan tersebut diminum oleh Nehru.

“Untung baru sedikit. Saya langsung cegah,” ujar Padlie Badjuri,pemilik RM Madrawi.

Nehru sendiri menyambut kejadian tersebut dengan tertawa. Namun, setelah peristiwa tersebut, Padlie mengawasi kegiatan di meja itu karena khawatir kejadian konyol tersebut terulang.

Mobil Untuk Peserta KAA 1955

Mobil Untuk Peserta KAA 1955

2. Panitia pusing kumpulan mobil untuk KAA 1955. Mendapatkan sarana transportasi untuk sekitar 1.500 tamu bukan soal mudah kala itu. Maka panitia Bandung pun membentuk tim khusus untuk meminjam mobil.

Abah Landung adalah salah satu relawan di Bandung. Aktif di kepanduan, dia bergabung dengan panitia lokal. Bersama kawan-kawannya, Landung melanglang ke segala penjuru kota, melacak mobil-mobil yang bisa dipinjam.

“Saat itu jumlahnya puluhan,” ujarnya. Landung, 23 tahun, saat itu bekerja sebagai guru privat. Posisi ini memudahkan dia masuk ke kalangan kaum berada Kota Kembang.

“Semuanya rela meminjamkan mobil dan tidak minta bayaran,” tuturnya.
Dari gerilya di dua kota, Sekretariat Bersama berhasil mengumpulkan 143 mobil sedan, 30 taksi, dan 20 bus. Panitia pun menyiapkan 230 sopir. Tak hanya untuk peserta Konferensi, semua moda transportasi tersebut disediakan pula untuk pewarta dari dalam dan luar negeri yang jumlahnya sekitar 377 orang (Tempo.co).

Suasana Gedung Merdeka pada KAA 1955

Suasana Gedung Merdeka pada KAA 1955

3. Atap Gedung Merdeka Bocor ! Kisah lucu ini terekam dalam buku milik Roeslan Abdulgani yang berjudul “The Bandung Connection.” Dalam bukunya, Roeslan menuliskan bahwa saat makan siang, ia didatangi penjaga Gedung Merdeka. Gawat! Ia mendapat laporan bahwa Gedung Merdeka bocor. Tak tanggung-tanggung, bocornya di bagian ruang sidang pleno.

Waktu itu air hujan menggenang dimana-mana. Hujan deras menjebol atap hingga lantai ruang sidang utama tergenang air. Saat rehat sidang pleno (sekitar pukul 13.00-15.00), hujan deras mengguyur Kota Bandung. Ini terjadi setelah para delegasi meninggalkan ruangan. Waktu itu, Sekretaris Jenderal Konferensi Asia-Afrika, Roeslan Abdulgani, sedang rehat di Hotel Trio. Dan betapa kagetnya Roeslan melihat kebocoran hebat di pinggir sisi barat gedung. Kursi delegasi, menteri, dan pembesar lain basah.

Roeslan pun melepas pakaian luarnya dan ikut mengeringkan lantai.
Roeslan memerintahkan agar kebocoran pada genteng yang menyebabkan air tergenang itu segera diatasi. Setelah sekitar pukul 14.00, hujan berhenti, para petugas Dinas Pekerjaan Umum pun kemudian dengan sigap memperbaiki atap yang menjadi biang keladi kebocoran.

Ember-ember, kain lap, dan karung goni dikerahkan untuk mengeringkan ruangan. Pokoknya penanganan dilakukan secepat dan sesigap mungkin. Hampir sejam lamanya mereka membersihkan hingga ruangan utama Gedung Merdeka kembali seperti semula saat ditinggalkan para tamu.

Jalan Raya Pos yang diubah menjadi Jalan Asia Afrika

Jalan Raya Pos yang diubah menjadi Jalan Asia Afrika

4. Bung Karno merubah nama jalan dan gedung sebelum KAA. Disebutkan berita kecil pada koran De Telegraaf 9 April 1955, yang memberitakan soal penggantian nama jalan di lokasi berlangsungnya KAA yang tertulis sebagai berikut:President Soekarno van Indonesië heeft tijdens een bezoek aan Bandoeng voorgesteld de naam „Grote Postweg”, waaraan hel vergadergebouw voor deAziatisch – Afrikaanse conferentie is gelegen, te wijzigen in „Aziatisch-Afrikaanse laan”. Verder meende hij dat „Gebouw Merdeka (Vrijheid) een goede naam zou zijn voor het conferentiegebouw de Nederlandse sociëteit “Concordia”

Yang kurang lebih bermakna: Presiden Soekarno dari Indonesia dalam kunjungannya ke Bandung mengusulkan penggantian nama Jalan Pos Raya di mana Konferensi Asia Afrika ini diselenggarakan menjadi Jalan Asia Afrika. Beliau juga percaya bahwa penamaan Gedung Merdeka merupakan pilihan yang tepat untuk menggantikan sebutan balai pertemuan Concordia (Kusno, dalam Kompasiana, 19 April 2015).

Itulah sekelumit cerita unik dan lucu yang menghiasi peristiwa KAA 1955. Di April 2015 ini kita memeringati KAA yang ke-60. Semoga Tujuan atau “goals” acara ini dapat tercapai seperti KAA 1955 lalu. Namun, tidak ada salahnya kita juga menantikan cerita unik dan lucu pada momentum KAA 2015 ini, yang bisa kita ceritakan kembali kepada generasi penerus bangsa.

Disarikan dari beragam sumber.

Comments

About author

You might also like

Artikel

Sejarah Sebenarnya Permainan Tiki-Taka Barcelona

Gaya tiki-taka versi terbaru yang lebih pragmatis diperagakan raksasa Catalan Barcelona telah menelan korban terbaru yakni dengan menghancurkan Bayern Muenchen 3-0 tanpa balas di stadium Nou Camp. Isitlah tiki-taka dimulai

Artikel 0 Comments

Belajar Dari Kartini : Habis Gelap Terbitlah Terang

  Setiap tahun, setiap 21 April kita memeringati hari Kartini. Yang muncul ke permukaan, kita berbatik atau berkebaya ria tetapi lupa akan makna sesungguhnya. Emansipasi yang diperjuangkan R.A Kartini merupakan

Artikel

Jasa Soekarno Menyelamatkan Universitas Al-Azhar Mesir

Mesir bukan semata soal Piramida. Di sana ada Universitas Al-Azhar. Mesir dan Universitas ini ibarat dua sisi mata uang.

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply