Warisan Dunia dengan Kondisi Mengkhawatirkan (2-tamat)

Warisan Dunia dengan Kondisi Mengkhawatirkan (2-tamat)

Pariwisata memang menjadi salah satu primadona bagi setiap negara untuk meningkatkan devisa negara. Memiliki destinasi wisata seolah menjadi sebuah kewajiban bagi semua negara. Apalagi objek wisata yang merupakan warisan dunia, tentunya menjadi sebuah kebanggaan tersendiri.

Namun, kebanggaan memiliki warisan dunia ibarat pisau bermata dua. Tingginya jumlah kunjungan wisatawan berdampak bagus pada peningkatan pendapatan, tapi juga berdampak buruk pada objek wisata itu sendiri.

Berikut destinasi wisata warisan dunia yang terancam rusak versi siloka.com :

Great Barrier Reef, Queensland Australia
Adalah ekosistem terumbu karang terbesar di dunia yang membentang seluas 350.000 kilometer persegi. Dengan jumlah sekitar 2900 jenis terumbu karang berbeda, Great Barrier Reef merupakan kebanggaan Australia dan bahkan menjadi icon negara bagian Queensland. Selain dari terumbu karang juga merupakan ekosistem dari berbagai jenis spesies laut.

Keindahan dari ekosistem laut ini tentu menjadi daya tarik wisata dunia. Para ilmuwan memprediksi pada tahun 2050, ekosistem ini terancam punah sebagai dampak dari pemanasan global.
Selain pemanasan global, ulah wisatawan juga turut mengancam kepunahan ekosistem terumbu karang. Bahkan ada kemungkinan ‘kiamat’ ini akan terjadi lebih cepat.

Great Barrier Reef, Australia. (NatGeo Expedition)

Great Barrier Reef, Australia. (Foto: National Geographic Expedition)

 

Sistine Chapel, Italia
Terletak di lingkungan Istana Apostolik Vatikan, Italia. Arsitektur bangunan serta dekorasi interior Kapel Sistine menjadi magnet untuk menarik kunjungan wisatawan. Pada dinding seluas 1115 meter persegi, membentang banyak lukisan karya seniman zaman Renaissance; Michaelangelo. Proses pembuatan lukisan memakan waktu selama 4 tahun sejak tahun 1508 hingga 1512 Masehi, bersama Raphael dan Sandro Botticelli.

Untuk mencegah kerusakan pigmen pada lukisan dinding tersebut, pengelola memberlakukan pelarangan fotografi menggunakan flash. Namun peraturan ini belum cukup untuk meminimalisir kerusakan pada lukisan.

Jutaan wisatawan yang masuk ke Sistine Chapel setiap tahun menghasilkan kumpulan residu karbondioksida dari nafas. Selain itu, uap keringat atau cairan tubuh pun menghasilkan residu karbondioksida serta mempengaruhi tingkat kelembaban ruangan.

Pihak Kapel Sistine saat ini memberlakukan sistem pemanas dan pendingin ruang, serta memasang kamera dan sensor panas untuk menghitung jumlah pengunjung sebagai upaya untuk menjaga kelembaban ruangan.

Lukisan di dinding Chapel Sistine karya Michaelangelo.

Lukisan di dinding Chapel Sistine karya Michaelangelo.

 

Goa Altamira, Spanyol
Goa ini berusia 20.000 tahun dan terletak di pantai utara Spanyol, 30 kilometer dari kota Santander. Pada dinding Goa Altamira terdapat lukisan indah seekor bison dan juga hewan-hewan lainnya. Bukan hanya lukisan biasa, tapi juga lukisan ini bercerita mengenai proses alam seperti perburuan, memasak, hingga reproduksi bison. Hasil penelitian dengan cara carbon-dating menunjukan hasil bahwa lukisan-lukisan tersebut dibuat pada tahun 18.500 Sebelum Masehi. Sebuah bukti bahwa manusia prasejarah telah memiliki kapasitas intelektual untuk memproduksi karya seni dan berekspresi.

Tingginya jumlah wisatawan menyebabkan kerusakan pada lukisan-lukisan di dinding Goa Altamira, sehingga pemerintah Spanyol memutuskan untuk menutup Goa Altamira pada tahun 2002.
Beberapa tahun lalu pemerintah Spanyol membuka kembali Goa Altamira dengan peraturan yang sangat ketat; hanya memperbolehkan 5 orang wisatawan berkunjung dalam seminggu dan juga wajib menggunakan pakaian pelindung khusus.

Lukisan bison di dinding Goa Altamira, dibuat pada zaman Paleolithikum.

Lukisan bison di dinding Goa Altamira, dibuat pada zaman Paleolithikum.

 

Makam Firaun Tutankhamun, Mesir
Makam ini ditemukan oleh Howard Carter pada tahun 1922 di Lembah Raja-Raja Mesir. Tutankhamun adalah putra sekaligus pewaris tahta dari Akhenaten (Amenhotep IV). Pada usia sembilan atau sepuluh tahun, Tutankhamun sudah menjadi raja. Peneliti egyptology meyakini bahwa Tutankhamun adalah raja termuda di Mesir. Hasil CT-Scan dari mumi mengungkapkan bahwa King Tut -sebutan untuk Tutankhamun, meninggal pada usia 19 tahun.

Beberapa tahun lalu, makam ini telah ditutup untuk umum. Penyebabnya adalah uap air dari nafas pengunjung membuat situs sejarah dunia ini menjadi lapuk.

Untuk menghindari resiko terburuk, Mesir bekerjasama dengan sebuah perusahaan dari Spanyol untuk membuat replika makam didekat makam asli.*

Makam Firaun Tutankhamun

Makam Firaun Tutankhamun

 

Comments

About author

You might also like

Makanan

Kaki Sapi Kang Herry, Nendang Di Siang Bolong

Jika keseharian anda disibukan di daerah pasar baru, Pagarsih dan Kalipah apo, alangkah baiknya anda menyimpang di gerobak mie kocok Kang Herry. Meski lokasi tempat makan ini dipinggiran jalan, jangan

Foto

17 Fakta Unik Tentang Benua Antartika

Fakta unik Antartika – Benua paling terpencil, paling tinggi, paling kering, paling berangin, paling kosong, dan tempat paling dingin di muka bumi.

Hits

Charlotte Elizabeth Diana Puncaki Trending Topik

Semenjak Diumumkannya nama dari Royal Princess, putri dari pangeran William dan Kate Middletone ke publik Charlotte Elizabeth Diana langsung memuncaki trending topic dunia di twitter. Rasa penasaran publik Inggris yang beberapa hari