Gagalnya Penculikan Kepala Negara & Sabotase KAA 1955

Gagalnya Penculikan Kepala Negara & Sabotase KAA 1955

Para Kepala Negara Pada KAA 1955

Para Kepala Negara Pada KAA 1955

Sepuluh tahun semenjak Proklamasi 17 Agustus 1945, Indonesia mampu mengadakan sebuah perhelatan besar. Sebuah perhelatan atau konferensi yang menyatukan dua benua, Asia dan Afrika.

Negara kita yang baru tertatih-tatih melepaskan diri dari kolonialisme, ternyata mampu menjadi tuan rumah bagi sebuah konferensi berskala internasional. Namun, mungkin belum banyak yang tahu, di tengah gegap gempitanya konferensi, ternyata ada sebuah rencana untuk menggagalkan acara ini. Bahkan rencana ini disusun sedemikian rupa yang pada intinya memermalukan wajah Indonesia di hadapan dunia internasional.

Pemilihan Bandung sebagai tempat atau tuan rumah konferensi sesungguhnya mengandung dilema. Pemberontakan Darul Islam atau DI/TII pimpinan Kartosuwiryo menempatkan Jawa Barat sebagai pusat gerakannya, sehingga Bandung sebagai ibukota Jawa Barat tentu beresiko jika ada perhelatan besar diadakan di kota ini. Jangan-jangan penyusup bisa mengacaukan dan menggagalkan acara tersebut.

Bahkan belum lama berselang, 5 tahun sebelumnya, yakni pada 1950, pemberontakan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) pimpinan Raymond Westerling mencoba mengobrak-abrik kota Bandung meski tak lama kemudian berhasil ditumpas. Nah, bagaimana dengan Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 yang rencananya akan dilaksanakan di Bandung ?

Sebelum KAA 1955, didahului Konferensi Lima Negara yaitu Birma, India, Pakistan , Srilangka dan Indonesia yg berlangsung dari 28 sampai 30 desember 1954 dengan maksud membahas persiapan akhir penyelenggaraan KAA. Pada saat Konferensi Bogor sebetulnya sudah ada ancaman keamanan dari DI TII Kartosuwiryo dan sisa-sisa APRA Westerling yang ingin mengacaukan persiapan KAA.

Dalam Pikiran Rakjat edisi 5 Mei 1955 terungkap soal adanya rencana sebuah gerombolan bersenjata untuk mengacaukan Konferensi Asia-Afrika yang berhasil digagalkan.Menurut Perwira Pers Nawawi Alif setelah Konferensi Bogor Gerombolan DI/TII pada 1 Januari 1955 berkumpul di Gunung Haruman, Garut. Komandan mereka antara lain, OZ Mansyur, Harumanja Godjin, Udin Sadikin, Kurnia dan Danu. Rapat DI/TII dipimpin Taolikul Rachman menamakan dirinya Sekjen Pertahanan DI/TII. Rencananya adalah pertempuran di dalam kota sebelum konferensi.

Namun pihak keamanan terlebih dahulu mengadakan razia di Bandung dan menahan sekitar seratus orang yang dicurigai. Selama April 1955 terjadi 52 kontak senjata yang menewaskan 33 anggota gerombolan. Di pihak TNI gugur 5 orang dan 43 orang sipil (rakyat) terbunuh. Sebanyak 44 pucuk senjata milik gerombolan dirampas. Usaha pengacauan konferensi tidak pernah berhasil. Pada hari H Senin, 18 April 1955, Jalan Raya Asia-Afrika ditutup. Pasukan bersenjata tersebar di daerah itu.(Irvan Syafari, Kompasiana, 2 May 2013).

AE Kawilarang memberikan kesaksian bahwa pada saat KAA di Bandung 1955, selaku Panglima Divisi III Siliwangi telah mengerahkan pasukan Kesko III (pasukan cikal bakal Kopassus) untuk menghadapi ancaman keamanan yg dilakukan DI/TII Kartosuwiryo dan sisa-sisa pasukan Westerling yg ingin menculik para Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan yang hadir pada KAA.

Tujuan penculikan dan pengacauan KAA ini agar nama Republik Indonesia dan TNI buruk dimata internasional. Namun ancaman itu dapat diredam dan keamanan dapat dijaga, DI/ TII dan sisa APRA tak bisa bergerak, sehingga KAA dapat terselenggara dengan aman dan Indonesia dapat memasukkan agenda perjuangan pembebasan Irian Barat.

Terselenggaranya KAA dengan sukses telah mendapatkan apresiasi dari PBB dan mengangkat citra nama Indonesia dan TNI di forum Internasional.

Semoga saja perhelatan memeringati 60 tahun KAA pada 24 April 2015 nanti berlangsung dengan aman dan kota Bandung yang kita cintai semakin dikenal dunia.

Dari beragam sumber

Comments

About author

You might also like

Ki Asep, Sang Maestro Wayang Golek

Membicarakan Seni Wayang Golek, tak terlepas dari sosok Asep Sunandar Sunarya. Ia adalah Maestro Wayang Golek yang dimiliki Indonesia. Melalui tangannya, Seni Wayang Golek menjadi lebih hidup dan semarak. Inovasi

Hits

Tim Hunt; Peraih Nobel dan Candaan yang Buruk Soal Perempuan

Peraih nobel fisiologi harus mengundurkan diri dari University of College London karena candaannya mengenai perempuan.

Budaya

Pasca Legalisasi Pernikahan Sejenis di AS dan Mereka yang Membela

melegalkan pernikahan sejenis tidak serta merta menyelesaikan masalah diskriminasi, serta perbedaan pandangan antara yang menolak dan menerima.

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply