Gigi Hitam dan Runcing Sebagai Simbol Kecantikan

Gigi Hitam dan Runcing Sebagai Simbol Kecantikan

Gigi yang hitam sebagai simbol kecantikan

Gigi yang hitam sebagai simbol kecantikan

Apa yang menjadi ukuran seseorang wanita disebut cantik ? Jawabannya pasti beragam.

Namun, tentunya lebih banyak diukur dari yang sifatnya lahiriah. Bisa jadi yang dilihat adalah paras muka, kulit, rambutnya, atau bentuk tubuhnya.

Tapi, penilaian tadi ternyata tidak universal. Sebagian kebudayaan melihat kategori cantik atau tidaknya seorang wanita dinilai dari giginya ! Ya, gigi. Tapi, jangan dibayangkan seperti gigi di iklan-iklan televisi yang putih dan cemerlang.

Ada sebagian kebudayaan menilai wanita yang giginya hitam mengilap itu cantik. Ada juga kebudayaan lain menilai gigi yang runcing itu cantik.

Jadi, definisi cantik atau tidaknya tergantung kebudayaan masing-masing. Mari kita bahas keunikan budaya ini.

Kita mungkin tak pernah tahu, bahwa beberapa abad berselang, gigi yang dihitamkan adalah lambang kecantikan dan keningratan.

Dan gigi hitam mengilap bukan saja sebagai status sosial, namun terbukti zat penghitam ini dapat melindungi gigi dari kekeroposan (karies) dan juga menjaga kesehatan tubuh secara umum.

Di masa lampau, khususnya di kawasan Asia, Melanesia dan Mikronesia, menghitamkan gigi merupakan tradisi yang harus dijalani pada saat memasuki usia akil baliq.

Di Jepang, menghitamkan gigi ini dinamakan dengan ‘ohaguro’.
Bagaiamana caranya ? Yakni dengan melarutkan bubuk besi (iron filing) pada cuka atau sake, lalu dioleskan pada permukaan gigi.

Supaya warna hitam ini bertahan lebih lama dan memberi kesan mengilap, maka dioleskan kulit buah delima (rind of pomegranate).

Tradisi ini dijalankan berabad-abad lamanya, pada gadis yang akan memasuki jenjang pernikahan, juga dilaksanakan pada geisha.

Baru pada tahun 1873, gigi hitam ini dilarang oleh kaisar Jepang dan permaisuri kaisar memberi contoh dengan tidak menghitamkan giginya dan justru memamerkan gigi yang putih bersinar seperti mutiara (pearly white) (Kusno, Gustaaf, Kompasiana, 2013).

Di negara China, tradisi menghitamkan gigi juga dijalankan pada wanita. Secara budaya, gigi hitam pada wanita selain melambangkan kecantikan, juga ’berguna’ untuk menyembunyikan ekspresi mulut sang wanita, seperti halnya penggunaan kipas atau tangan yang ditutupkan di depan bibir.

Kalau kita amati, sampai sekarang pun, wanita Asia yang akan tertawa pasti secara refleks menutupi mulut dengan tangannya.

Tradisi gigi hitam ini, secara meluas juga dianut di seantero Mikronesia, Melanesia, dan Asia, seperti di Vietnam, Laos, Thailand, India, Malaya, dan juga Indonesia.

Gigi Runcing sebagai simbol kecantikan

Gigi Runcing sebagai simbol kecantikan

Selain gigi yang hitam mengilap, sebagian kebudayaan menilai gigi yang runcing menjadi ukuran kecantikan. Salah satunya adalah Suku Bagobo.

Suku ini adalah sebuah suku yang mendiami wilayah Mindanao, yakni wilayah paling timur dari Filiphina.
Ya, wanita di suku diharuskan untuk memiliki gigi runcing layaknya seorang drakula.

Tidak mudah memang untuk membuat gigi menjadi runcing seperti taring. Namun itulah yang dilakukan para wanita di suku ini, untuk dianggap sebagai wanita yang cantik, mereka harus merasakan sakit terlebih dahulu.

Para wanita suku Bagabo ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk merubah gigi mereka menjadi runcing. Bentuk gigi-gigi merekapun sebenarnya jadi terlihat aneh dan menyeramkan.

Untuk mendapatkan bentuk taring yang sempurna sangatlah dibutuhkan kesabaran. Biasanya mereka meruncingkan gigi dengan cara dipahat menggunakan bambu ataupun kayu.

Wanita yang memiliki gigi paling runcing nantinya akan mendapatkan predikat sebagai wanita paling cantik di sukunya.

tradisi suku mentawai

Di Indonesia, yang serupa dengan suku Bagabo adalah suku Mentawai yang hidup di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Dalam tradisi Suku Mentawai gigi runcing merupakan simbol kecantikan dari wanita suku ini.

Semakin runcing gigi mereka, semakin cantiklah wanita itu. Selain sebagai simbol kecantikan, tradisi mengukir gigi ini juga menjadi simbol keseimbangan antara tubuh dan jiwa.

Mereka percaya bahwa saat fajar menyingsing, tubuh manusia akan terpisah dengan roh atau jiwa.

 

Disarikan dari beragam sumber.

Comments

About author

You might also like

Komunitas 0 Comments

Motor Antik: Legenda, Jati Diri dan Investasi (1)

  Motor antik atau motor klasik merupakan sebutan bagi motor-motor yang sudah berumur ujur. Walaupun sebenarnya tidak ada batasan apa yang disebut antik atau klasik tersebut hanya diukur dari tahun

Ki Asep, Sang Maestro Wayang Golek

Membicarakan Seni Wayang Golek, tak terlepas dari sosok Asep Sunandar Sunarya. Ia adalah Maestro Wayang Golek yang dimiliki Indonesia. Melalui tangannya, Seni Wayang Golek menjadi lebih hidup dan semarak. Inovasi

Hits

Bagaimana Wajah Garut Tempo Dulu ?

Garut sudah semenjak lama terkenal hingga ke mancanegara. Bahkan artis sekelas Charlie Chaplin pernah 2 kali datang ke Garut.