Guling : “Dutch Wife” yang Tidak Bisa Kentut

Guling : “Dutch Wife” yang Tidak Bisa Kentut

asal-mula-guling

Belum lengkap rasanya jika kita tidur tanpa kehadiran guling. Rasanya ada yang kurang gitu.

Satu hal pasti, jika kita lihat film-film Barat, kita tidak pernah menemukan barang satu ini di ranjang mereka. So, apakah guling hanya ada di Indonesia saja ? Bagaimana awal mula sejarahnya ?

Beberapa kalangan memercayai bahwa guling memang hanya ada di Indonesia. Sebut saja, sastrawan Indonesia terkemuka, Pramoedya Ananta Toer yang menceritakannya dalam Novel Jejak Langkah, Novel ketiga dari Tetralogi Buru yang terkenal itu. Namun, sebagian sejarawan mengungkapkan guling ada juga di beberapa negara Asia Tenggara, tetapi dengan bentukan dan konstruksi yang berbeda dari guling yang selama ini kita kenal.

Dalam Novelnya, Pram menerangkan mengenai asal mula guling ini. Dalam sebuah percakapan dijelaskannya mengenai guling ini :

“Dalam sebuah percakapan sesama mahasiswa STOVIA atau Sekolah Pendidikan Dokter Pribumi, Wilam membicarakan lelucon-lelucon dari kehidupan tuan tanah bangsa Inggris kepada sahabat-sahabatnya, termasuk Minke. “Tahu kalian apa sebab di dalam asrama tidak boleh ada guling?”
Dia pun mulai bercerita. Menurutnya, guling takkan ditemukan di negeri-negeri lain di dunia –setidaknya menurut mamanya.

Ini bermula ketika orang-orang Belanda dan Eropa lainnya datang ke Hindia (Indonesia). Karena tak membawa perempuan, mereka terpaksa menggundik. “Tapi orang Belanda terkenal sangat pelit. Mereka ingin pulang ke negerinya sebagai orang berada. Maka banyak juga yang tak mau menggundik. Sebagai pengganti gundik mereka membikin guling –gundik yang tak dapat kentut itu.”

Wilam juga bilang bahwa guling takkan ditemukan dalam sastra Jawa lama maupun sastra Melayu. “Memang tidak ada. Itu memang bikinan Belanda tulen –gundik tak berkentut. Dutch wife… “
“Dan tahu kalian orang pertama-tama yang menamainya? Raffles, Letnan Gubernur Jenderal Hindia.”

Dari Novelnya Pram ini diketahui, bahwa kehadiran “guling” demi memenuhi kesepian yang melanda orang-orang bule kolonial di Nusantara yang jauh dari kampung halaman mereka di Eropa sono. Guling ini juga dijuluki “Dutch Wife”, atau isteri Belanda yang tak bisa kentut.

Meski hanyalah novel, novel sejarah Pram ini dikenal memuat fakta-fakta sejarah yang ada sumber sejarahnya. Guling lahir dalam kebudayaan Indisch abad ke-18-19, percampuran antara kebudayaan Eropa, Indonesia, dan China. Kebudayaan ini kemudian menjadi gaya hidup golongan atas.

“Percampuran kebudayaan ini bisa dilihat misalnya pada pemakaian perabot seperti kursi Eropa, meja, dan tempat tidur dengan bantal, termasuk perlengkapan baru yang disebut guling atau Dutch wife, yang tidak ada dalam perlengkapan tempat tidur Eropa, jadi khusus Indisch,” tulis Hadinoto, dosen Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Kristen Petra Surabaya, dalam “Indische Empire Style”, yang dimuat Jurnal Dimensi Arsitektur, Desember 1994 (dalam Isnaeni, “Siapa Peluk Istri Belanda, majalah Historia).

Disarikan dari beragam sumber.

Comments

About author

You might also like

Hits

Jutaan Batu Akik Terhampar di Pantai Ini !

Bagaimana jika pantai tempat anda berwisata tidak berpasir putih seperti yang dibayangkan, tapi terhampar jutaan batu akik?

Jalan-Jalan

Kuliner Khas Sunda di Majalengka Part 1

Jika anda kangen dengan masakan sunda jaman baheula atau jadul, maka anda akan kesulitan mencarinya di kota besar seperti Bandung. Tapi kalau anda sempat jalan-jalan ke daerah Majalengka, anda akan menemukan kuliner tersebut di kabupaten ini

Budaya

Permainan Tradisional Ini Sudah Hampir Punah (1)

Beruntunglah mereka yang mengalami masa kecil di era 80 hingga 90-an. Dikarenakan mereka masih sempat menikmati permainan tradisional.

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply