Hari Buku Nasional: Napak Tilas Sejarah Buku di Dunia

Hari Buku Nasional: Napak Tilas Sejarah Buku di Dunia

Momentum Peresmian Perpustakaan Nasional 17 Mei Tahun 1980 silam oleh Menteri Pendidikan Nasional, Abdul Malik Fajar, menjadi momen peringatan Hari Buku Nasional. Berbeda dengan Hari Buku sedunia yang dirayakan setiap tanggal 23 April (klik: Sejarah Hari Buku Sedunia). Ide awal pencetusan Hari Buku Nasional datang dari golongan masyarakat pecinta buku.

Para pecinta buku kala itu ingin memacu minat baca di Indonesia, sekaligus menaikkan angka penjualan buku. Sejak itulah, banyak orang menyadari betapa pentingnya mengembangkan diri, baik secara pengetahuan maupun kerohanian. Salah satu cara mengembangkan diri secara pengetahuan adalah dengan banyak membaca. Dengan membaca, seseorang akan mendapatkan banyak wawasan baru, dan pengetahuannya akan terus diperbarui.

Mungkin banyak dari kita yang belum mengetahui bahwa Indonesia memperingati Hari Buku Nasional setiap tanggal 17 Mei. Pencanangan tanggal tersebut diambil dari momentum peresmian Perpustakaan Nasional 35 tahun silam tepatnya di tahun 1980 oleh Menteri Pendidikan Nasional RI, pada saat itu Abdul Malik Fajar.

Andrie Wongso pernah mengatakan: “Saya dan kita semua sungguh beruntung dan patut berterima kasih kepada para penulis buku. Mereka adalah para dermawan ilmu pengetahuan, pembuka jendela wawasan dunia, dan informasi bagi manusia, pembaca dan pembelajar”. Memang benar, kita sadari atau tidak, ternyata semua aspek kehidupan kita membutuhkan buku sebagai hal primer.

Napak Tilas Sejarah Buku Di Dunia

Secara sederhana buku adalah kumpulan kertas atau bahan lainnya yang dijilid menjadi satu yang berisi tulisan-tulisan atau gambar. Sejarah sendiri mencatat Mesir (2400-an SM) merupakan negeri pertama yang melahirkan buku (kuno). Namun Buku itu, belumlah berbentuk seperti sekarang. Buku kuno ketika itu masih berupa tulisan yang tercetak diatas keping-keping batu (prasasti) atau kertas yang terbuat dari daun Papyrus (tumbuhan sejenis alang-alang yang tumbuh di tepi sungai Nil).

Mesir juga tercatat sebagai bangsa pertama yang mengenal tulisan, tulisan mesir kuno umumnya disebut Hieroglif: yaitu tulisan yang bentuk hurufnya berupa gambar-gambar. Memasuki awal abad pertengahan Papyrus kemudian diganti dengan codek (lembaran kulit domba terlipat yang dilindungi kulit kayu) kemudian diganti lagi menjadi perkamen (kertas kulit). Perkembangan dari codek ke perkamen sendiri besar dipengaruhi oleh orang-orang Timur Tengah yang menggunakan kulit domba yang disamak kemudian dibentangkan, bentangan kulit ini yang awalnya dinamakan “pergamenum” kemudian disebut perkamen.

Perkamen lebih kuat dan mudah dipotong serta mudah dilipat sehingga lebih mudah digunakan, inilah yang menjadi cikal awal sebuah buku yang dijilid. Di Indonesia sendiri, pada zaman dulu Buku kuno umumnya ditulis di atas daun lontar yang kemudian dijilid hingga membentuk sebuah buku.

Momen Peringatan Hari buku Nasional diharapkan dapat meningkatkan dan melestarikan budaya baca buku, karena dengan terciptanya budaya baca yang baik dan teratur maka ilmu pengetahuan akan semakin bertambah. Untuk itu, buku ataupun sumber bacaan yang lain sangat diperlukan oleh masyarakat Indonesia supaya keterampilan dan pengetahuan mereka bisa dikembangkan.

Disarikan dari beragam sumber

 

Comments

About author

You might also like

Hits

Selama Sebulan Daffa Bocah SD Ini Hadang Pengendara Motor yang Melaju di Trotoar

SEMARANG, Dalam Sepekan ini Netizen dihebohkan dengan sosok anak kecil pemberani yang melakukan aksi heroik dijalanan trotoar untuk menghadang pengendara motor yang melakukan pelanggaran.  Selama Sebulan Daffa Bocah SD Ini Hadang

Gaya Hidup

Duo Batu Akik Dari Tanah Sulawesi Yang Begitu Ajaib

Khazanah batu akik di Indonesia seakan tidak pernah habis. Begitu pula dengan keunikannya yang mengundang takjub para pemerhati batu.

Napak Tilas 0 Comments

Cerita Unik & Lucu Seputar Konferensi Asia Afrika 1955

KAA Pada 1955 banyak mengguratkan sejarah yang hebat. Sehabis KAA, banyak negara-negara di Asia dan Afrika beroleh kemerdekaannya. Namun, KAA 1955 juga banyak meninggalkan cerita unik dan lucu. Cerita-cerita kecil