Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Masih Relevankah ?

Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Masih Relevankah ?

world-no-tobacco-day

Perlunya memaknai kembali Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) yang jatuh pada 31 Mei tiap tahunnya.

Jangan sampai hari ini menjadi sekadar rutinitas dan seremonial belaka. Sebenarnya masih relevankah gerakan ini ?

Negara-negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencetuskan Hari Tanpa Tembakau Sedunia ini pada tahun 1987.

Adanya hari ini diharapkan mampu membuat para perokok sadar untuk menghentikan kebiasaan buruknya itu.

Tujuan lain dari Hari Tanpa Tembakau Sedunia ini untuk mendidik masyarakat tentang upaya WHO dalam memerangi epidemi tembakau global.

Lebih dari dua dasawarsa lebih gerakan ini, bagaimana dengan realisasinya ?
Iklan rokok sudah sedemikian rupa dihilangkan dari ruang-ruang publik.

Berbagai peringatan, himbauan sudah diupayakan, baik oleh pemerintah maupun organisasi kemasyarakatan, namun asap rokok masih mengepul, dan generasi perokok terus bertumbuhan.

Rokok merupakan salah satu faktor risiko utama terjadinya penyakit tidak menular seperti kardiovaskuler, stroke, penyakit paru obstruktif kronik, kanker paru, kanker mulut, dan kelainan kehamilan.

Setiap detik, satu orang meninggal akibat merokok. Rokok, juga membunuh separuh dari masa hidup perokok, dan separuh perokok mati pada usia 35 sampai dengan 69 tahun.

Data epidemi di dunia menunjukkan, tembakau membunuh lebih lima juta orang setiap tahunnya.
Jika hal ini terus berlanjut, diproyeksikan pada tahun 2020 terjadi 10 juta kematian, dengan 70% kematian di negara sedang berkembang.

Global Youth Tobacco Survey (GYTS) Indonesia tahun 2006 melaporkan, 64,2% anak sekolah yang disurvey terpapar asap rokok selama mereka di rumah.

Sebanyak 37,3% pelajar merokok, dan 3 diantara 10 pelajar pertama kali merokok sebelum berumur 10 tahun (30,9%).
Tingginya populasi dan konsumsi rokok, menempatkan Indonesia pada urutan ke-3 konsumen tembakau/rokok di dunia setelah China dan India dengan konsumsi 220 milyar batang per tahun 2005.

Asap rokok dari tembakau mengandung lebih dari 4.000 senyawa kimia, 43 diantaranya bersifat karsinogen. Tidak ada kadar paparan minimal dalam asap rokok/tembakau yang “aman”. Separuh lebih (57%) rumah tangga di Indonesia mempunyai sedikitnya satu perokok, dan hampir semua perokok (91,8%) merokok di rumah.

Seseorang bukan perokok yang menikah dengan perokok mempunyai risiko kanker paru sebesar 20 sampai 30%, dan mempunyai risiko terkena penyakit jantung.

Menurut data Badan Kesehatan Dunia, jumlah perokok di Indonesia adalah terbesar ke tiga di dunia dan kematian akibat kebiasaan merokok mencapai 400 ribu orang per tahun.

 

Disarikan dari beragam sumber.

About author

You might also like

Makanan

Kota Padang Bakal Jadi Tuan Rumah Festival Sate dan Soto Nusantara

Bagi masyarakat Indonesia, sate dan soto menjadi kuliner khas yang tak boleh dilewatkan. Kuliner ini sudah menjadi ikon kuliner tradisional.

Artikel

Transplantasi Kepala: Ilmiah? atau Fiksi Ilmiah? (1)

Tahun 1970, transplantasi kepala seekor monyet hidup berakibat kelumpuhan akibat penolakan dari sistem kekebalan tubuh terhadap kepala.

Hits

Wow, Gedung Kantor Ini Akan dibuat Memakai Printer 3D !

Entah, kreatif atau berlebihan, sebuah gedung perkantoran baru di Dubai memakai printer 3D untuk materialnya !