Istimewa-nya Yogyakarta (2)

Istimewa-nya Yogyakarta (2)

jogjakarta-istimewa

Secara budaya dan situs, keistimewaan Yogyakarta terletak pada konservasi bangunan Keraton Yogyakarta sebagai artefak budaya maupun manusia Jawa dengan kekuasaannya.

Meskpun konservasi bangunan keraton terdapat di beberapa daerah yang pernah memiliki kerajaan, namun Banguan Keraton Yogyakarta dianggap sebagai artefak yang masih bertahan hidup dengan lengkap, baik bangunan maupun budaya serta dinamika kehidupan yang masih kental sejak lama hidup semenjak keraton ini didirikan.

Banyak peninggalan sejarah yang dapat dijadikan bahan belajar tentang manusia dengan kehidupannya, manusia dengan perjuangannya, kini dan masa silam. Kita dapat menyaksikan bagaimana hubungan antara Kerajaan Belanda dengan Yogyakarta, terlihat dari berbagai kereta Kencana yang di miliki oleh keraton, atau dari senjata yang dimiliki.
Keraton Yogyakarta memiliki 18 kereta dan semua kereta yang tersimpan di Museum Kereta Kencana Keraton Yogyakarta di Jl. Rotowijayan.

Kereta ini dianggap sebagai Warisan Kraton dan diberi nama khusus masing-masing, seperti Kereta Nyai Jimat, Kereta Kyai Garudayaksa, Kereta Jaladara, Kereta Kyai Ratapralaya, Kereta Kyai Jetayu, Kereta Kyai Wimanaputra, Kereta Kyai Jongwiyat, Kereta Kyai Harsunaba, Kereta Bedaya Permili, Kereta Kyai Manik Retno, Kereta Kyai Kuthakaharjo, Kereta Kyai Kapolitin, Kereta Kyai Kus Gading, Landower Kereta, Kereta Surabaya Landower, Wisman Landower Kereta, Kereta Kyai Puspoko Manik dan Kereta Kyai Mondrojuwol.

Kereta kencana tersebut sering dihadirkan pada saat kirab budaya atau kirab agung kegiatan keraton, seperti pernikahan para putri raja.

Selain itu juga bangunan keraton dengan situs landscaping yang utuh sebagai kota modern namun berbasis pada lokalitas, sangat terlihat jelas dari hadirnya konsep “mandala”, di mana Keraton sebagai pusat kegiatan ditopang dengan adanya sarana publik, yakni tempat ibadah, alun-alun, pasar, tempat para prajurit atau abdi dalem berada, serta tempat rekreasi bagi para anggota keraton, seperti air pancuran Taman Sari. Alun-alun Selatan (alun-alun kidul) dan Alun Utara (Alun-alun lor), merupakan tempat pertemuan dengan rakyat dan sering digunakan tempat latihan perang para prajurit Keraton.

Di sebelah barat alun-alun kidul terdapat bangunan Masjid Gedhe tempat para ulama Islam Keraton beribadah sekaligus tempat tersimpanan gamelan pusaka yang ditabuh tiap menjelang sekaten.

Sedangkan di sisi masyarakatnya, sebagaian besar masyarakat kota Yogyakarta merupakan pendatang dari berbagai daerah di Indonesia. Sebagaian dari mereka berasal dari para mahasiswa yang menuntut ilmu di berbagai perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta, yang kemudian menetap.

Beberapa perguruan tinggi yang tercatat dalam perjalanan bangsa yakni, Perguruan Tinggi Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara, Universitas Gadjah Mada, Universitas Islam Indonesia, dan lain sebagainya. Kehadiran mereka tidak hanya membawa budaya lokal asal, tetapi juga agama yang mereka anutnya.

Sungguh suatu permata di mana kehidupan masyarakat yang beda agama bisa hidup berdampingan. Pendirian rumah ibadah begitu dihormati karena setiap agama memiliki umatnya. Walaupun paska Mataram Islam, keraton memilih Islam sebagai ageman, namun kehidupan agama selain Islam dipelihara oleh keraton. Kenyataan ini dianggap sebagai modal masyarakat untuk menjadikan Yogyakarta sebagai kota yang toleran terhadap berbagai iman, pluralis. Kenyataan ini juga sering dijadikan bahan penelitian yang menarik untuk menguji teori-teori pluralisme dalam hubungan beragama di masyarakat, karena itulah kajian dalam bidang sosiologi atau antropologi agama tumbuh subur di Yogyakarta.

Beberapa catatan tersebut, menjadikan Yogyakarta tetap istimewa bagi peradaban Indonesia ke depan. Tidak hanya sebagai simbol, akan tetapi menjadi oase takkala Indonesia kehilangan kekuatan nilai untuk meretas ulang kekuatan diri menghadapi gempuran zamannya.

Yogyakarta memang istimewa, ia ibarat utaian permata kehidupan yang besar, selain untaian permata-kerajaan-kerajaan yang masih hadir di dalam peradaban kini. Mereka semua adalah cermin peradaban bagi masa depan Indonesia. Bukankah kita suatu saat ketika kehampaan melanda hati, memerlukan tempat bercermin diri?

Penulis : Munawar Ahmad

About author

You might also like

Tokoh

Bagaimana Kesan Eddi Brokoli Kehilangan Rambut Khas-nya?

Apa yang latar belakangi Eddi Brokoli mencukur habis rambutnya menjadi botak di tahun 2013.

Napak Tilas

Kota-Kota Kuno Yang Tenggelam Ke Dasar Laut (bagian-1)

Peradaban manusia berlangsung ribuan tahun. Banyak kota yang telah dibangun, namun tak sedikit yang hilang tenggelam ke dasar laut. Penyebabnya bisa beragam. Dari unsur kesengajaan, hingga bencana alam yang meluluhlantakkan

Artikel 1Comments

PSSI Dibekukan, Bagaimana Nasib Kompetisi ?

PSSI VS Kemenpora Kementerian Pemuda dan Olahraga akhirnya mengeluarkan surat pembekuan terhadap PSSI pada tanggal 17 April 2015. Hal ini disinyalir dilatarbelakangi oleh tidak diakuinya hasil rekomendasi Badan Olahraga Profesional,

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply