Jenderal Soedirman, Pejuang Gigih Nan Sederhana

Jenderal Soedirman, Pejuang Gigih Nan Sederhana

Jika superhero hanya ada dalam benak khayali, pahlawan sejati muncul dalam setiap zaman dan nyata. Salah satunya adalah Jenderal Soedirman.

Mengangkat tokoh pahlawan ke dalam sebuah film mesti menjadi budaya. Bung Karno pernah berkata, “jangan sekali-kali melupakan sejarah” atau disingkat Jas Merah.

Film Indonesia berjudul “Jenderal Soedirman” ini merupakan film yang bercerita tentang biografi tokoh Jendral Soedirman yang dikisahkan pada tahun 1946 hingga 1949. Pada saat itu, Belanda menyatakan secara sepihak sudah tidak memiliki kaitan dengan perjanjian Renville serta penghentian gencatan senjata.

Film yang diproduseri Sekar Ayu Asmara dari Padma Pictures dan disutradarai Viva Westi ini dibintangi, antara lain, oleh Adipati Dolken (Soedirman), Baim Wong (Sukarno), Nugie (Hatta), dan Mathias Muchus (Tan Malaka). Yayasan Kartika Eka Paksi dan Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat merupakan pendukung pembuatan film ini.

Film itu dibuat dengan berlokasi di empat kota (Bandung, Magelang, Yogyakarta, dan Wonosari) selama 43 hari. Di dalam konferensi pers, Letnan Jenderal (purn) Kiky Syahnakri mengungkapkan biaya pembuatan film itu berkisar antara Rp 10-15 miliar. Dalam film diceritakan terutama masa gerilya Soedirman selama tujuh bulan setelah agresi militer Belanda ke Yogyakarta, 19 Desember 1948.

19 Desember tahun 1948, Jenderal Simons Spoor seorang Panglima Tentara Belanda memimpin agresi militer ke 2 untuk melakukan penyerangan ke Yogyakarta yang pada saat itu sebagai ibukota Republik. Saat itu, Presiden dan Wakil Presiden Soekarno-Hatta ditangkap dan diasingkan ke Pulau Bangka.

Jenderal Soedirman melakukan sebuah perjalan menuju arah selatan dan memimpin perang gerilya hingga tujuh bulan, meskipun saat itu Beliau sedang didera sakit berat. Saat itu juga, Belanda menyatakan Indonesia sudah tidak ada. Jenderal Soedirman dari kedalaman hutan menyerukan dan menyatakan bahwa Republik Indonesia masih ada dan tetap kokoh berdidi bersama para tentara nasionalnya yang kuat.

Dengan adanya Jenderal Soedirman, dan para tentara nasional serta pejuang Indonesia, Pulau Jawa menjadi lautan perang gerilya yang luas hingga membuat Belanda kehabisan logistik dan waktu. Hingga akhirnya terjadi perjanjian Roem-Royen, Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia secara utuh.

 disarikan dari beragam sumber.

 

Comments

About author

You might also like

Guling : “Dutch Wife” yang Tidak Bisa Kentut

Belum lengkap rasanya jika kita tidur tanpa kehadiran guling. Rasanya ada yang kurang gitu. Satu hal pasti, jika kita lihat film-film Barat, kita tidak pernah menemukan barang satu ini di

Gaya Hidup 0 Comments

Motor Antik: Legenda, Jati Diri dan Investasi (2)

Artikel ini lanjutan dari artikel sebelumnya, all about motor antik dan klub MACI. Nah, catatan tentang legenda motor antik dan klasik menjadikan para penggemar terus berburu selain karena nilai sejarah,

Gaya Hidup 1Comments

Suatu Sore Bersama Gandhi, MLK dan Mandela (4)

MLK : “Oh, iya, bagaimana dengan keadaan Negeri Tuan sendiri ? Saya : “Founding Father kami memiliki prinsip yang sama dengan Tuan. Namun, apa yang terjadi puluhan tahun setelah kami