Kecap Blitar Nomor Satu Di Dunia (1)

Kecap Blitar Nomor Satu Di Dunia (1)

Tulisan ini merupakan tulisan wartawan senior Susanto Pudjomartono yang pernah dimuat di Majalah Gatra, 9 Juni 2001

Tulisan ini merupakan rangkaian dari edisi peringatan 100 tahun Sang Proklamator, Bung Karno, yang pada tahun itu genap 100 tahun. Cerita di dalamnya adalah merupakan pengalaman Pribadi Susanto yang pernah berinteraksi dengan Bung Karno. Berikut ceritanya :

Saya lupa tanggalnya yang pasti, tapi peristiwa itu mungkin terjadi sekitar Oktober 1966. Pagi itu, sekitar pukul 10.00, setelah meliput acara penyerahan surat-surat kepercayaan duta besar asing. Seperti biasa kami, para wartawan yang meliput kegiatan Presiden, mengobrol dengan Presiden Soekarno.

Tiba-tiba Bung Karno, begitu ia biasa dipanggil, bertanya : “Kalian sudah sarapan ?” Serentak kami menjawab, “Belum”, dengan harapan akan diajak sarapan presiden. Betul juga, Bung Karno lalu berkata : “Kalau begitu, ayo sarapan bersama Bapak.”

Beriringan kami, sekitar delapan atau 10 wartawan yang masih tinggal seusai meliput acara resmi presiden masuk ke dalam menuju beranda belakang Istana Merdeka, ke separangkat kursi rotan yang sudah tua tapi enak diduduki. Beranda tersebut waktu itu sangat terkenal karena disitulah Bung Karno, secara informal sering dengan mengenakan kaus oblong tanpa peci, menerima para tamunya, dari diplomat asing, pejabat, seniman, sampai teman pribadi.

Begitu semua orang duduk, Bung Karno segera memanggil kepala pelayan istana dan meminta agar disediakan sarapan buat kami semua. Untuk sarapan, Bung Karno sendiri hanya makan pisang rebus dan air putih (kata Bung Karno dicampur semacam kapur sebagai obat).

Sekitar seperempat jam berlalu, dan sarapan yang dijanjikan tak juga muncul. Bung Karno pun memanggil kepala pelayan tadi. “Mana sarapannya ?” tanyanya. Yang ditanya tampak kebingungan. “Tidak ada, Pak.” Katanya. “Tidak ada bagaimana ?” tanya Bung Karno.”Tidak ada makanan untuk sarapan,” Jawabnya. “Yang ada cuma sepiring nasi goreng dingin.”

sumber : Majalah Gatra, Edisi 9 Juni 2001

Comments

About author

You might also like

Napak Tilas 0 Comments

Braga Tempo Dulu

Braga sebuah kawasan yang sejak zaman “baheula” sampai “kiwari” menjadi ikon kota Bandung. Jalan yang pernah dijuluki Jalan Culik karena terkenal kerawanannya ini disebut juga Jalan Pedati pada 1900-an. Disebut

DJUANDA DAN HARI NUSANTARA

Kita mengenal Djuanda sebagai nama lapangan terbang di Surabaya. Di Bandung sendiri, nama Djuanda diabadikan menjadi nama sebuah jalan dan sebuah nama hutan raya yang terletak di Dago Pakar, yaitu

Hits

Tupai Vampir Ditemukan di Kalimantan Barat

Berdasarkan cerita rakyat Kalimantan, tupai vampir ekor rumbai ini pernah menyerang rusa hutan dan meminum darahnya.