Kenangan Suasana Ramadhan Bandung Tempo Dulu

Kenangan Suasana Ramadhan Bandung Tempo Dulu

bupati bandung pada perayaan lebaran 1926

Memasuki Bulan Ramadhan, banyak hal unik yang terjadi di tengah masyarakat kita. Budaya ngabuburit, takjil, bedug dan lainnya.

Banyak buku yang membahas tradisi Ramadhan di Nusantara. Salah satu buku yang tidak boleh dilewatkan adalah buku karya Haryanto Kunto. Bukunya sendiri berjudul, “Ramadhan di Priangan.” Buku ini diterbitkan oleh penerbit Granesia pada 1996 lalu.

Nama Haryoto Kunto (alm) atau Kang Harry di Bandung bukan sesuatu yang asing. Beliau terkenal sebagai penulis buku sejarah perkotaan Bandung dan juga pernah menjadi kolumnis khusus masalah perkotaan di harian Pikiran Rakyat. Kang Haryanto Kunto sering dijuluki “kuncen Bandung” karena referensinya mengenai sejarah Bandung yang “molotok.”

Buku ini secara lengkap menjelaskan suasana Ramadhan Tempo Doeloe

Buku ini secara lengkap menjelaskan suasana Ramadhan Tempo Doeloe

Buku ini adalah salah satu bacaan yang menarik untuk menghabiskan waktu menanti waktu berbuka puasa tiba. Meskipun di dalamnya banyak membahas sejarah dan hal-hal berbau tempo doeloe, buku ini ditulis menggunakan bahasa tutur sehingga lebih mudah dipahami. Suasana Ramadhan masa lalu pasti sudah banyak berbeda.

Diceritakan bahwa pada masa lalu, masyarakat Bandung benar-benar membuat “sambutan” khusus untuk bulan Ramadhan ini. Salah satunya adalah cerita bahwa dulu bunyi kentongan Mesjid Agung Bandung bisa terdengar sampai ke wilayah Bandung Utara seperti wilayah Dago Simpang, Mentos (Jl.Siliwangi), Terpedo (Wastukencana).

Fenomena ini tidak akan lagi bisa terulang sebab meskipun kentongan sudah diganti dengan pengeras suara, tetap saja bunyi dari Masjid Agung tersebut tidak akan terdengar lagi ke wilayah Dago. Kondisi ini bisa menjadi cermin tentang bagaimana kondisi alam dan masih sepinya Bandung hingga awal tahun 1900-an.

Selain itu, dalam buku ini akan kita baca cerita tentang suasana Bandung di bulan Ramadhan. Saat dimana malam-malam Ramadhan setiap rumah menyalakan lampu minyak di depan rumah mereka serta menyalakan obor untuk menerangi jalan dan lorong yang gelap. Padahal saat itu aliran listrik belum ada. Jalanan di malam hari masih gelap. Maka pada bulan Ramadhan jalan-jalan di Bandung menjadi terang oleh lampu-lampu yang dinyalakan oleh warga.

Ketika datang bulan Ramadhan, Warga Bandung menyambutnya dengan mengecat atau mengapur ulang dinding-dinding rumah. Membuat lampion-lampion dan saling bersaing dengan tetangga mengenai keindahan dan kehebatan lampion masing-masing. Sayang keriuhan macam ini tidak akan lagi dijumpai di masa kini.

Selain itu dengan membaca buku ini kita akan lebih banyak tahu mengenai sejarah Mesjid Agung Bandung dan wilayah sekitar alun-alun Bandung. Mesjid Agung Bandung memiliki catatan sejarah yang panjang dengan 7 kali renovasi yang mengubah bentuk Masjid Agung Bandung menjadi seperti sekarang. Selain itu diceritakan pula mengenai alun-alun yang sejak dulu menjadi pusat kegiatan masyarakat. Alun-alun menjadi salah satu tujuan ngabuburit warga Bandung dengan berbagai jajanan yang dijajakan penjual.

Gaya penulisan Haryoto Kunto memang terkesan ringan sehingga menyenangkan untuk dibaca. Sejarah tidak harus menjadi hal yang membosankan dan serius. Namun meskipun ringan, tulisan Haryoto Kunto pun sangat informatif. Selain itu di dalam buku ini juga ditampilkan foto-foto yang menggambarkan kondisi Bandung tempo doeloe.

Disarikan dari beragam sumber.

About author

You might also like

Nasional

GBK Jadi Penentu Siapa Jawara Piala Presiden, Persib atau Sriwijaya FC ?

Minggu, 18 Oktober nanti jadi tanggal penentuan, siapa juara sejati ? Siapa juara Piala Presiden, apakah Persib atau Sriwijaya FC ?

Tokoh

Cara Bung Karno Memilih Buah Durian

Bagaimana memilih durian yang matang ? Kesulitan ini tidak hanya terjadi pada rakyat awam, bahkan Bung Karno pernah mengalaminya.

Artikel

Timothy Doner, Pemuda Amerika Serikat yang Menguasai 20 Bahasa

Timothy Doner memiliki hobby yang unik, yaitu ia menyukai berkomunikasi dengan banyak orang dari berbagai macam bangsa.