Kesaksian Seorang Ajudan, “Lalat pun Tak Dibunuhnya”

Kesaksian Seorang Ajudan, “Lalat pun Tak Dibunuhnya”

Cerita ini diambil dari buku “Sewindu Dekat Bung Karno” cerita seorang ajudan yang menemani keseharian Bung Karno.

Ajudan yang dimaksud adalah Bambang Widjanarko. Ia menjadi ajudan Bung Karno dari November 1960 hingga Juni 1967. Ini adalah sekelumit kisahnya bersama Bung Karno.

Allen Pope, seorang penerbang Amerika yang juga seorang mercenary (serdadu bayaran), telah disewa pemberontak permesta dalam tahun 1958. Dengan pesawat terbang ia mengadakan pemboman dan penembakan di Ambon dan akhirnya jatuh tertembak dan tertangkap.

Maukar, seorang penerbang Angkatan Udara Indonesia, telah melanggar disiplin militer, sumpah prajurit, dan membelot. Dengan menggunakan pesawat militer ia telah menembaki Istana Merdeka dengan senapan mesin, dalam usaha membunuh Presiden RI yang telah mengeluarkan perintah membasmi pemberontakan PRRI/Permesta. Akhirnya Maukar tertangkap.

Sewaktu kedua peristiwa tersebut di atas terjadi, saya (Bambang Widjanarko) masih aktif dalam pasukan KKO-AL (Korps Marinir) yang secara terus menerus melakukan tugas operasi di seluruh wilayah Indonesia dalam dekade-50-an, mempertahankan dan memperkuat NKRI. Karena itu, betapa terkejut dan heran saya sewaktu mendengar berita bahwa Allan Pope dibebaskan dan boleh segera meninggalkan Indonesia. Begitu pula sewaktu Maukar tidak dijatuhi hukuman mati atau hukuman berat lainnya.

Sebagai prajurit biasa, waktu itu saya berpikir sederhana, siapa yang melanggar hukum harus diberi hukuman yang setimpal dan siapa yang telah berjasa atau berbuat baik pantas diberi penghargaan. Mengapa kedua pelanggar hukum itu tidak diberi hukuman terberat ? Sungguh saya tidak mengerti. Tetapi juga sebagai seorang prajurit biasa, akhirnya saya menerima kenyataan itu, karena semua itu telah menjadi keputusan penguasa tertinggi/pemerintah yang mempunyai wewenang penuh. Seorang prajurit bawahan tidak boleh meragukan apalagi menyalahtafsirkan keputusan atasan.

Setelah bertahun-tahun menjadi ajudan Bung Karno, melihat juga menyaksikan berpuluh kejadian besar maupun yang kecil-kecil, saya mulai dapat mengerti banyak hal yang tadinya merupakan tanda tanya dalam diriku. Khususnya mengenai pribadi Bung Karno, sebagai sumber yang menentukan atas segala keputusan yang diambilnya.

Mungkin karena dasar sifatnya, mungkin pula karena ajaran agama yang telah merasuk ke dalam jiwanya, mungkin juga karena ia seorang seniman yang berjiwa amat halus, atau gabungan dari itu semua-yang jelas saya dapat mengatakan, Bung Karno adalah seorang yang amat menghargai jiwa atau kehidupan, Bung Karno mencintai setiap makhluk Tuhan berupa apapun. Baginya hidup itu diberikan oleh Tuhan dan hanya Dia-lah yang berhak mengambil hidup itu.

Bung Karno tidak mau membunuh seseorang atau sesama makhluk. Berkali-kali saya menyaksikan Bung Karno mengusir semut atau nyamuk yang hinggap di badannya yang mungkin juga telah mengigitnya. Ia tidak memukul atau membunuh hewan itu, tetapi menyuruhnya pergi. Begitu pula lalat yang hinggap, diusirnya terbang menjauh.

Kini saya mengerti mengapa Allan Pope dan Maukar tidak dijatuhi hukuman mati atau hukuman berat lainnya, meskipun jelas-jelas telah melanggar hukum. Di samping pertimbangan politis, pribadi Bung Karno yang mencintai sesama makhluk jelas turut berperan dalam hal ini.

sumber : Sewindu Dekat Bung Karno

About author

You might also like

Hits

Ditemukan, Mutiara Kuno Berusia 2000 Tahun

Peradaban manusia memang menakjubkan. Sudah beribu tahun lamanya, manusia mengenal perhiasan. Selain emas dan perak, mutiara menjadi salah satu ikon perhiasan manusia.

Teknologi

Wow ! Muda Usia dan Kaya Raya

Memang terdengar di dunia fantasi. Muda, kaya raya…dan mungkin mati masuk surga. Tapi tidak dengan cerita Evan. Usianya masih di bawah 10 tahun, malah tepatnya 9 tahun. Tapi coba tebak

Napak Tilas

Arti Kujang Bagi Masyarakat Sunda

Sejak duduk di bangku sekolah dasar kita diajarkan bahwa masyarakat Nusantara memiliki senjata tradisional. Salah satunya yang terkenal adalah Kujang.