Ku Antar Ke Gerbang, Kisah Cinta Soekarno Dan Inggit (2-tamat)

Ku Antar Ke Gerbang, Kisah Cinta Soekarno Dan Inggit (2-tamat)

Satu pembelajaran penting setelah membaca buku ini. Kesuksesan seorang suami tak lepas dari dorongan isterinya, itulah Inggit bagi Soekarno.

Dalam buku “Kuantar Ke Gerbang” ini digambarkan mengenai rumah tangga Soekarno dan Inggit. Sebagai suami istri, tentu saja ada hubungan timbal balik antara Ibu Inggit dan Bung Karno. Buku ini menceritakan perilaku dan kebiasaan Bung Karno yang membuat Ibu Inggit jatuh cinta sekaligus setia kepadanya.

Bung Karno adalah tipe orang yang sangat memperhatikan hal-hal kecil, seorang gentleman. Seperti kata Ibu Inggit, “ia pun adalah seorang yang sangat penuh romantika.” (hal. 2) Contohnya saja sebelum berpergian, Bung Karno membantu merangkaikan bunga untuk dipasang di sanggul Ibu Inggit. Perilaku perhatian kepada istri yang langka pada zaman tersebut.

Dalam hal menjalin kehidupan rumah tangga, walau usia Inggit lebih tua 13 tahun ketika menikah dengan Bung Karno namun Inggit mampu menjadi seorang pendamping yang sepadan bagi Bung Karno. Perbedaan usia yang mencolok ini malah menjadi keuntungan bagi Bung Karno karena baginya Inggit bukan hanya sekedar kekasih dan istri, namun sekaligus ibu yang mengemong dan membimbingnya.

Bung Karno pandai menempatkan istri  yang berbeda umur dan pendidikannya. Bung Karno menempatkan Ibu Inggit di tempat yang sepatutnya. Walau mengetahui bahwa Ibu Inggit tidak mengenyam sekolah terlalu lama, Bung Karno percaya Ibu Inggit itu cerdas. Ibu Inggit selalu diikutkan dalam berbagai rapat partai maupun pertemuan dengan tokoh-tokoh bangsa. Hingga Ibu Inggit menyebutkan bahwa menjadi istri Bung Karno itu tidak jauh beda dengan bersekolah.

“Dengan secara gampang aku dididik olehnya dan oleh percakapan-percakapan dengan teman-temannya, ditarik ke depan, sehingga mengetahui banyak hal tanpa menghapal seperti anak sekolah. Pelbagai kesempatan memberikan kemungkinan kepadaku untuk mengetahui hal-hal yang baru, hal-hal yang penting,” tutur Ibu Inggit. (hal. 53)

inggit-soekarno

Dengan ditemani seorang sekondan yang memiliki kecerdasan emosional di atas rata-rata, Bung Karno pun naik pelahan tapi pasti ke langit-langit pergerakan nasionalisme di Hindia Belanda. Dengan Inggit yang telaten, Bung Karno mampu menyelesaikan kuliahnya kendati aktivisme politik makin membuatnya kehilangan waktu. Bersama seorang sekondan yang punya karat kesetiaan tak tertandingi itulah, tak aneh jika Bung Karno bisa melewati karang-karang terjal.

Tetapi Inggit akhirnya juga menjadi kartu mati bagi seorang Bung Karno. Ketika usia Bung Karno makin beranjak tua, hasrat untuk menimang anak tentu saja makin tak terbendung. Sayangnya, Inggit tak bisa memberinya buah hati. Ia perempuan mandul. Sebuah drama kehidupan datang ketika Bung Karno sedang diasingkan ke Bengkulu. Bung Karno justru terpikat oleh salah satu anak angkatnya sendiri, Fatmawati. Kedekatan keduanya makin tak tertahan ketika Inggit harus pergi ke Yogya untuk mengantarkan Omi, putri angkat Bung Karno yang pertama, mendaftar sekolah di Taman Siswa.

Sekembalinya dari Yogya, Inggit menyadari situasi telah berubah. Awalnya Bung Karno ingin memadu Inggit. Tapi Inggit menampik. Ia mengijinkan Bung Karno menikah tapi minta diceraikan terlebih dahulu. Perceraian itu pun terjadi pada 1942 ketika mereka sudah tinggal di Pegangsaan Timur, Jakarta.

Inilah yang membuat riwayat Inggit menjadi istimewa. Ia memang mencintai Bung Karno luar dalam; sebuah kecintaan yang membuatnya rela menderita dan melarat. Tetapi, kecintaan itu tak membuatnya kehilangan karakter sebagai seorang perempuan agung. Dari hulu hingga hilir, Inggit tetap konsisten menolak poligami, bahkan ketika ia harus kehilangan lelaki yang sangat dicintainya.

disarikan dari beragam sumber.

About author

You might also like

Napak Tilas 0 Comments

Melacak Industri Perak di Kota Gede, Yogyakarta

  Munculnya kerajinan perak di Kotagede bersamaan dengan berdirinya Kotagede sebagai ibu kota Mataram Islam pada abad ke-16. Ada bukti yang menunjukkan bahwa seni kerajinan perak, emas, dan logam pada

Gaya Hidup 0 Comments

Bandung, Kota Terpadat di Dunia ?

Dengan luas hanya 16.767 hektare dan jumlah penduduk mencapai 2.771.138 jiwa (2012), Bandung merupakan kota terpadat di dunia. Tiga wilayah di kota Bandung diduga menjadikan Bandung sebagai kota terpadat Dunia.

Hits

Boen Tek Bio, Tempat Wisata di Tangerang yang Masih Jarang Diketahui

Tempat wisata di Tangerang tidak hanya mall atau waterboom saja. Melainkan ada juga tempat wisata yang sarat akan nilai sejarah.