Makna Sebenarnya Dibalik “Habis Gelap Terbitlah Terang” dan Jasa R.A. Kartini yang tidak Terekspos

Makna Sebenarnya Dibalik “Habis Gelap Terbitlah Terang” dan Jasa R.A. Kartini yang tidak Terekspos

Makna Dibalik Habis Gelap Terbitlah Terang

Ternyata, makna sebenarnya dari kalimat Door Duisternis Tot Licht yang merupakan kalimat yang selalu diulang-ulang ketika R.A. Kartini berkirim surat kepada sahabat Pena nya di Belanda adalah Dari Kegelapan Menuju Cahaya, bukan Habislah Gelap Terbitlah Terang. Prof. Haryati Soebadio (cucu tiri R.A Kartini) pun membenarkan bahwa kalimat “Door Duisternis Tot Licht” seharusnya diartikan “Dari Gelap Menuju Cahaya” yang berasal dari Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 257.

Salah Satu Jasa R.A. Kartini yang Tidak Terekspos

Diceritakan bahwa terjadi sebuah percakapan antara Raden Ajeng Kartini dengan seorang ulama besar dari Darat, Semarang, Kyai Mohammad Sholeh Sholeh bin umar namanya.

“Perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka diaog.

Kyai Sholeh tertegun. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.

“Kyai, selama hidupku, baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al-Fatihah, Surah pertama dan Induk Al-Quran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.

“Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran ke dalam Bahasa Jawa (Aturan Pemerintah Belanda melarang penerjemahan). Bukankah Al-Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Singkat cerita, Kyai Sholeh Darat memutuskan untuk melanggar aturan Belanda yang pada saat itu tidak mengijinkan penerjemahan Al-Quran ke dalam Bahasa Jawa. Raden Ajeng Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan sebuah pekerjaan besar, yaitu menerjemahkan Al-Quran ke dalam Bahasa Jawa.

Untuk menutupinya, Sang Kyai menerjemahkan Al-Quran dengan menggunakan tulisan “pegon”, huruf yang dipakai adalah Bahasa Arab, namun bahasa yang dituliskan adalah Bahasa Jawa. Kitab tafsir dan terjemahan Al-Quran ini diberi nama Kitab Faidhur-Rohman, tafsir pertama di Nusantara dalam Bahasa Jawa dengan aksara Arab Pegon.

Tak lama setelah itu, R.A. Kartini menikah dengan R.M. Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang. Sebagai penghargaan dan semangat dakwah, kitab tafsir tersebut dihadiahkan kepara R.A Kartini.

Salah satu tafsir ayat yang menggugah hati R.A. Kartini dan senantiasa diulang-ulangnya dalam berbagai “surat” nya kepada Sahabat Pena nya di Belanda adalah Surah Al-Baqarah ayat 257.

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).

Kalimat: “minazh-zhulumaati ilannuur” yang dalam Bahasa Belanda, Door Duisternis Tot Licht, itu sebenarnya berarti “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”, jadi bukan “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Terlanjur diartikan seperti itu tidak menghilangkan pemikiran R.A. Kartini yang menginginkan perubahan dari kegelapan menuju cahaya terang.

Raden Ajeng Kartini ditakdirkan Allh tidak berumur panjang, setahun setelah menikah, beliau dipanggil Ilahi beberapa hari setelah melahirkan anak pertamanya. Namun, di hari-hari terakhirnya, dakwah Islam yang diikutinya serta cahaya yang dibawa oleh terjemahan Al-Quran karya Kyai Sholeh Darat, telah mulai menyinari hati dan kehidupannya.

Dalam surat kepada Ny. Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, putri Bupati Jepara ini menulis:
“Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat Rahmat dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama yang disukai.”

Kemudian, dalam surat ke Ny. Abendanon, tertanggal 1 Agustus 1903, R.A. Kartini menulis:
“Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu, Hamba Allah.”

Hal inilah yang sebenarnya membesarkan nama beliau dan terkenal hingga saat ini, yaitu karena atas jasa R.A. Kartini lah, upaya penerjemahan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa Pegong dan bisa dinikmati dan dimengerti makna per makna dari Ayat Suci Al-Quran.

-Mr Free from any resources-

 

Comments

About author

You might also like

Napak Tilas

Batu Giok, Dari Perhiasan, Senjata, Hingga Baju Pemakaman Raja Tiongkok

Dalam kebudayaan Tiongkok, batu giok sudah dikenal ribuan tahun lalu. Pemakaiannya tidak terbatas pada perhiasan semata, bahkan untuk pemakaman !

Napak Tilas

Nama Soekarno di Abadikan Di Negara-Negara Ini (2)

Gaung Soekarno ternyata tidak saja menggema di tanah air. Imbasnya terasa di mancanegara dan jejaknya ada hingga kini.

A Tribute to R.A.Kosasih

Setelah demam “K-Pop” mulai pudar, belakangan masyarakat dibawa kembali ke epos Mahabharata, Ramayana. Sebuah stasiun televisi swasta membobardir serial dari negeri Hindustan ini setiap hari di tengah ruang keluarga masyarakat