Masangin : Ritus Mengukur Kelurusan Hati

Masangin : Ritus Mengukur Kelurusan Hati

Beringin Kembar di Alun-Alun Yogyakarta

Beringin Kembar di Alun-Alun Yogyakarta

Datang ke Yogya tidak mantap kalau tidak merasakan ritus masangin di Alun-alun Kidul (Alkid), selain berwisata kuliner malam hari di sana.

Kalau waktu siangnya memang tidak begitu ramai. Biasanya orang yang datang ke Alun-alun ini melakukan sebuah permainan yang bernama “masangin”.(masuk di sela beringin kembar). Permainan ini dilakukan dengan cara berjalan melintasi pohon beringin kembar, ini dilakukan dengan mata tertutup menggunakan kain hitam.

Mitos masyarakat Yogyakarta tentang permainan ini adalah siapa pun yang berhasil melintasi pohon ini secara lurus berarti hati kita bersih.Masangin awalnya berasal dari tradisi topo bisu yakni ritual yang dilakukan dengan berkeliling benteng pada malam 1 Suro atau hari jadi berdrinya Keraton Yogyakarta, namun kini setiap hari, khususnya malam minggu banyak orang yang mencoba masangin.

Aturan saat mengelilingi benteng termasuk melintasi beringin kembar ini, semua pelaku ritual harus dalam keadaan diam (mbisu).Bagi masyarakat Yogyakarta , konon katanya ada semacam rajah atau jimat di antara kedua pohon beringin tersebut, apabila bala tentara berhasil berjalan di antara kedua beringin itu maka kekuatan musuh bisa hilang (menurut legenda).

Jimat tersebut memiliki fungsi yang sama dengan benteng Keraton hanya dalam bentuk gaib. Sayangnya, makna budaya yang sakral tersebut kini bergeser dan hanya menjadi permainan untung-untungan saja, alias hiburan semata.

Mengenai asal mula pohon beringin kembar tersebut, terdapat berbagai versi sejarah yang terdapat di dalamnya. Ada yang mengatakan Sultan Hamengkubuwono I mempunyai putri yang cantik jelita yang membuat banyak lelaki terpikat akan kecantikannya serta ingin melamarnya.

Untuk itu, Sultan pun memberi.tantangan bagi siapa saja yang ingin melamar putrinya, yaitu harus melewati pohon beringin kembar dengan mata tertutup. Menurut Sultan, hanya orang yang memiliki hati baik dan tulus yang dapat melewati beringin kembar dengan mata tertutup.

Konon, yang berhasil melewatinya dan menjadi menantu Sultan hanyalah Prabu Siliwangi. Versi lain dari pohon beringin ini mengatakan beringin kembar digunakan sebagai pertahanan gaib untuk mengecoh pasukan Belanda yang ingin menyerang keraton agar mereka kehilangan arah.

Tata cara permainan Masangin :
1. Permainan Masangin dilakukan dengan cara posisi berdiri tegak lurus, sekitar 25 meter dari pohon beringin kembar dekat Gedung Sasana Hinggil.
2. Dalam keadaan mata tertutup kain hitam, badan pemain diputar lebih dahulu 360 derajat berkali-kali
3. Setelah dirasa cukup, tubuh pemain diarahkan pada posisi lurus ke depan.
4. Setelah ketiga proses tersebut dijalankan barulah pemain mulai berjalan lurus menuju arah tengah pohon beringin kembar tanpa bantuan orang lain.

Mitos dalam permainan Masangin :
Jika peserta dalam permainan Masangin dapat berjalan tepat di tengah-tengah pohon beringin kembar dan mampu melewati dengan posisi lurus tanpa menabrak atau berbalik arah , maka dia akan mendapatkan keberkahan dalam hidup. Namun, jangan sekali-kali kita mencoba mengikuti permainan ini dengan curang, yaitu dengan mengintip, konon jika hal ini dilakukan maka diri kita akan memasuki dunia lain, yaitu dengan mendapati diri kita di alun-alun dalam keadaan sepi sendirian
Konon katanya, bagi yang bisa melintas masuk di dua pohon beringin itu, maka kelak apa yang diinginkan akan terwujud dan juga hatinya lurus atau bersih.

Antara percaya dan tidak, tapi kenyataannya atraksi ini selalu saja menarik minat wisatawan, baik wisatawan domestik maupun wisatawan luar negeri. Karena itulah seringkali di Alun-Alun Kidul ini diadakan lomba Masangin.Resiko permainan Masangin adalah jika kita tidak berhasil karena salah arah, menabrak orang atau menabrak pedagang kaki lima, maka kitalah yang akan menjadi bahan tertawaan bagi orang-orang yang melihatnya.

Nah, meskipun Masangin hanya sebuah mitos, tetapi banyak orang yang penasaran dan ingin membuktikannya, meskipun banyak di antara mereka yang hanya hiburan belaka. Memang belum ada orang pernah menyatakan membenarkan mitos tersebut dalam hidupnya, namun kehadiran Masangin, menjadikan orang sadar jika pada suatu saat dalam hidupnya manusia memerlukan arahan dari mitos yang mereka akuinya.

Inilah yang perlu disadari dalam ruang beringin kembar di Yogyakarta, ia hadir bukan bagian dari agama atau suatu ajaran hidup, namun ia hadir sebagai saksi bahwa manusia membutuhkan mitos dalam kehidupannya.

Entah itu sebuah alasan pencarian makna baru ataukah kefrustasian, namun yang pasti, beringin kembar di Yogyakara adalah saksi bahwa manusia adalah the Seeker, para pencari. Jika mampir ke Yogyakarta, yuk kita ukur sendiri kelurusan hati dengan melihat berbagai orang yang ada di sekeliling Beringin Kembar, semua tumplek blek dalam ruang alun-alun kidul.

Penulis : Munawar Ahmad

Comments

About author

You might also like

Hits

Abah Edong, Pancawarna dan Garut

Gaung batu akik tidak begitu kuat lagi, namun kini Garut dikenal sebagai penghasil batu akik berkualitas, salah satunya pancawarna. 

Artikel 0 Comments

May Day, Dari Isu Komunisme Hingga Libur Nasional

May Day menjadi agenda tahunan bagi kaum buruh. Di sinilah, pada 1 Mei, buruh bisa mengungkapkan aspirasi mereka dengan lebih leluasa. Namun, sesungguhnya, perjuangan hingga mencapai itu tidaklah mudah. Harus

Makanan

Dari Manakah Kuliner Soto Berasal ?

Siapa yang tidak mengenal soto? Uniknya, soto sangat beragam dan setiap daerah memiliki ciri khasnya.

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply