Mengapa Soekarno Layak Disebut Seniman ? (Bagian 1)

Mengapa Soekarno Layak Disebut Seniman ? (Bagian 1)

Sebagai Proklamator, sebagai Presiden, Sebagai Founding Father begitulah kita mengenal sosok Soekarno. Namun, sebagai seniman ?

Ya, Soekarno sebagai seorang seniman tidak banyak yang membahasnya. Padahal, dalam diri Sang Proklamator ini mengalir darah seniman yang kental.

Sosok Soekarno mencintai dunia kesenian salah satunya adalah dunia teater, bahkan menjadi seniman teater. Diceritakan bahwa Soekarno remaja menyumpal dadanya dengan dua potong roti manis. Nah, sekarang dua potong roti itu disulapnya menjadi payudara palsu yang nemplok di dadanya. Dengan bedak, lipstick dan gaun yang dikenakannya, sekarang dirinya tampak bak gadis jelita. “Untung saja di adegan itu aku tidak perlu mencium laki-laki”, kenang Bung Karno.

Masih lekat di ingatannya tentang pentas tonil yang sering diadakannya dengan teman sekolahnya. Di jaman itu belum banyak perempuan yang bersekolah. Karena itu Soekarno remaja sering terpilih memerankan wanita di setiap pentas tonil. Itu karena wajah remajanya yang karena begitu tampannya, hingga terkesan ayu seperti perempuan.

Jiwa seni dan budaya Soekarno semakin terasah meski sedang ditekan. Ketika diasingkan ke Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 1934-1938, aktivitas Bung Karno antara lain membina grup tonil atau sandiwara bernama Klub Tonil Kelimutu. Lewat tonil itu, Bung Karno mengobarkan semangat juang mengusir penjajah Hindia Belanda.

Judul tonil karya Bung Karno, yakniRahasia Kelimutu (dua seri), Tahun 1945, Nggera Ende, Amuk, Rendo,Kutkubi, Maha Iblis, Anak Jedah, Dokter Setan, Ero Dinamik, Jula Gubi, dan Siang Hai Rumbai. Tonil itu tak hanya dipentaskan di Ende, tetapi juga di kota lain di Flores, bahkan sampai tempat pembuangannya di Bengkulu (1938-1942).

Lewat tonil berjudul Tahun 1945 tampaknya Bung Karno telah membayangkan kalau bangsa Indonesia akan terbebas dari belenggu penjajahan pada tahun 1945. Bahkan, lewat tonil itu, kemerdekaan Indonesia akan direbut dari penjajah.

Soekarno adalah manusia yang multitalenta. Dengan seabrek perannya, Soekarno ternyata juga memiliki darah seni. Nah, pertanyaannya, adakah generasi sekarang memiliki bakat multitalenta seperti Sang Proklamator ?

disarikan dari beragam sumber.

Comments

About author

You might also like

Tokoh

“Cintamu yang Selalu Menjiwai Rakyat.Cinta Fat”

Saat Bung Karno meninggal, pada 21 Juni 1970, Fatmawati tidak hadir. Ia hanya mengirimkan karangan bunga dan tulisan itu.

Artikel 1Comments

PSSI Dibekukan, Bagaimana Nasib Kompetisi ?

PSSI VS Kemenpora Kementerian Pemuda dan Olahraga akhirnya mengeluarkan surat pembekuan terhadap PSSI pada tanggal 17 April 2015. Hal ini disinyalir dilatarbelakangi oleh tidak diakuinya hasil rekomendasi Badan Olahraga Profesional,

Napak Tilas

Mahasiswa Swedia Membuat Bendera Planet Bumi.

Apakah ini pertanda adanya makhluk extra-terrestrial? Atau mungkin pertanda bahwa kelak kita memiliki relasi dengan planet lain?