Menyelamatkan Laut Indonesia

Menyelamatkan Laut Indonesia

Sebagai negara maritim, tentu kita wajib untuk menjaga wilayah perairan dan laut Indonesia seutuhnya. Bukan hanya perikanan, tapi juga ekosistem laut.

Apa yang telah dilakukan oleh Ibu Susi Pudjiastuti dalam hal kelautan dan perikanan di Indonesia sangat perlu kita apresiasi. Seluruh dunia sudah mengetahui program pemberantasan ilegal fishing yang digagas oleh Ibu Susi, demi mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Peningkatan hasil produksi perikanan dari laut Indonesia layak diacungi jempol. Disisi lain, Indonesia juga ‘berhasil’ menjadi produsen sampah plastik kedua di dunia, dengan jumlah 187,2 ton. Nomor dua terbesar di dunia setelah China, dengan total jumlah 262,9 ton.

Tentu saja masalah polusi laut Indonesia akan berkaitan dengan kualitas hasil tangkapan ikan dan hasil laut secara umumnya. Beragam jenis sampah temasuk sampah plastik bertebaran dimana-mana, mulai dari bibir pantai hingga ke laut dalam.

Sampah plastik yang ditemukan dalam perut bangkai ikan raja laut. (sumber: Fukushima Aquamarine, Japan)
Beragam hasil penelitian mengenai polusi di Laut Indonesia telah dipublikasi oleh para ilmuwan. Salah satu hasil yang mencengangkan adalah ditemukannya sampah plastik didalam perut ikan Coelacanth, atau disebut juga ikan raja laut di perairan Sulawesi. Serta partikel plastik di dalam perut crustacea (udang kecil) di palung Laut Banda.

Coelacanth adalah ikan purbakala yang hidup di goa-goa bawah laut pada kedalaman 200 meter atau lebih. Coelacanth atau ikan raja laut dikatakan ikan purbakala karena telah ada di bumi sejak 60 juta tahun yang lalu.
Habitat coelacanth hanya ada di pantai timur afrika, dan juga Laut Indonesia bagian utara seperti Sulawesi Tengah, Gorontalo, Manado, dan Papua bagian utara.

Coelacanth, atau Ikan Raja Laut di perairan Sulawesi. (sumber: National Geographic)
Hal ini dapat diartikan jika berbagai jenis sampah termasuk sampah plastik juga ada di laut dengan kedalaman lebih dari 200 meter. Maka kita jangan heran jika ikan-ikan hasil tangkapan nelayan memakan sampah-sampah yang dihasilkan oleh manusia. Karena pada umumnya ikan-ikan tangkapan nelayan berada di kedalaman dibawah 200 meter.

Berdasar catatan arkeologi, perairan adalah sumber kehidupan manusia sejak jaman purbakala. Hal ini dibuktikan dengan letak kota-kota tua pusat peradaban manusia yang selalu terletak di pinggir perairan seperti sungai, pantai dan laut.
Begitu juga dengan Indonesia, mayoritas kota-kota besar Indonesia selalu berada di bibir pantai.

Tentu saja hal ini dikarenakan laut Indonesia memiliki kekayaan nutrisi yang mampu menopang kehidupan umat manusia. Mulai dari ikan yang menghasilkan protein, omega-3, lemak dan kolagen. Hingga rumput laut yang mengandung protein nabati, anti oksidan, dan juga spirulina.

Dalam kehidupan sekarang, keindahan laut Indonesia pun bisa memberikan penghidupan yang layak bagi masyarakat sekitar dengan adanya pengembangan eco-wisata yang melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaannya.

Namun permasalahan sampah, terutama sampah plastik yang tidak bersahabat dengan lingkungan dapat merusak sejarah peradaban manusia, dan laut Indonesia secara khususnya.

About author

You might also like

Sains

Transplantasi Kepala: Ilmiah? atau Fiksi Ilmiah? (1)

Tahun 1970, transplantasi kepala seekor monyet hidup berakibat kelumpuhan akibat penolakan dari sistem kekebalan tubuh terhadap kepala.

Hits

Akar Wangi, Mewangikan Garut Ke Seluruh Penjuru Dunia

Garut tidak hanya identik dengan dodol dan kerajinan kulitnya. komoditas unggulan dari Garut adalah Akar Wangi. yang sudah mendunia.

Jalan-Jalan

Candi Cangkuang, Candi Hindu Di Tatar Sunda

Peninggalan candi di tatar Sunda tidaklah banyak. Namun, salah satunya yang terkenal adalah Candi Cangkuang di Garut.