“Panas-Dingin” Menyebabkan Ratusan Ribu Kematian.

“Panas-Dingin” Menyebabkan Ratusan Ribu Kematian.

Haraldus Sigurdsson, ekskavasi gunung tambora. (nbcnews)

Haraldus Sigurdsson, ekskavasi gunung tambora. (nbcnews)

 

Beberapa abad lalu, lebih dari 100.000 orang meninggal dunia. Berawal dari bagian Timur Nusantara, lalu menjalar ke benua-benua lain seperti Australia, Asia, Afrika, bahkan sampai ke Eropa dan Amerika.

10 April 1815, Gunung Tambora di Sumbawa meletus. Lebih besar dari letusan Gunung Krakatau di tahun 1883, serta 20 kali lebih besar dari letusan Gunung Vesuvius di Italia yang melenyapkan kota Pompeii dari peta Italia dan dunia.

Estimasi angka kematian akibat letusan Gunung Tambora mencapai 71.000 hingga 121.000 jiwa. Mayoritas disebabkan oleh gelombang panas, debu vulkanik, serta puing-puing bebatuan dari letusan. Pemukiman warga yang berjarak 25 kilometer dari Tambora pun lenyap beserta warganya.
Kesimpulan ini didapat dari bukti-bukti arkeologis hasil penggalian. Artefak-artefak yang tertimbun longsoran tanah, dan juga tulang belulang manusia yang menjadi arang disebabkan oleh panas dari letusan Gunung Tambora.

artefal-artefak yang ditemukan pasca ekskavasi tambora. (nbcnews)

artefal-artefak yang ditemukan pasca ekskavasi tambora. (nbcnews)

Haraldur Sigurdsson, volkanologis dari University of Rhode Island mengatakan, “Kita dapat mengetahui dari kejadian meletusnya Gunung Tambora menyebabkan pendinginan global selama dua hingga tiga tahun”.
debu dan sulfur yang dihasilkan Gunung Tambora melayang ke atmosfir bumi, menyebabkan redupnya sinar matahari, lalu menurunkan temperatur global hingga 1,7° Celcius.
Perubahan iklim inilah yang menyebabkan kegagalan panen didunia, jelas Sigurdsson.

Kekacauan pun terjadi di wilayah Eropa ketika orang-orang kesulitan mendapatkan makanan pasca letusan Gunung Tambora. Wood, seorang pakar sejarah lingkungan memaparkan kengerian yang terjadi di sekitar Swiss. Para ibu yang kesulitan mendapat makanan lebih memilih untuk membunuh anaknya daripada melihat anak-anaknya mati kelaparan. Akhirnya para ibu tersebut dihukum, sampai ada yang dihukum mati.
“Bahkan dengan teknologi canggih yang kita miliki saat ini, tak ada yang dapat kita lakukan untuk menghindari krisis iklim seperti itu.” ~ Wood.

Janine Krippner, seorang volkanologis dari Universitas Pittsburgh mengatakan, ilmu pengetahuan saat ini pun belum dapat memecahkan kode untuk memprediksi kapan dan dimana letusan gunung akan terjadi. Masih sangat banyak yang harus dipelajari.

Mengawasi gunung berapi aktif, terutama gunung api besar yang dapat beresiko besar pada kehidupan. Hal inilah yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan kehidupan saat ini.

Gillen D’Arcy Wood, pakar sejarah lingkungan dari Universitas Illinois mengatakan, “Jika letusan seperti Tambora terjadi kembali saat ini, para peneliti mengatakan bahwa dampaknya akan lebih besar. Meskipun infrastruktur kehidupan saat ini jauh lebih baik dari periode 1800-an. Tapi perlu kita ingat bahwa populasi manusia di dunia saat ini mencapai 7 miliar jiwa”.

Dengan 7 miliar penduduk dunia, dan juga kepadatan manusia yang bertambah pesat. Janine Krippner mengatakan, “Jika Tambora meletus pada saat ini, potensi jumlah korban jiwa akan jauh melampaui 121.000”.

 

“Teknologi secanggih apapun yang kita miliki saat ini, tak ada yang mampu menghindari kekuatan alam”

Comments

About author

You might also like

Artikel

Facebook Mengganti Logonya yang Sudah Berusia 10 Tahun

Tanpa terlalu gembar-gembor, ternyata facebook mengubah logonya. Perubahan ini nampak kecil, namun besar artinya bagi facebook sendiri.

Artikel

Adakah Superhero Made in Indonesia ? (2 -tamat)

Tidak kalah dengan negeri Paman Sam, komikus Indonesia, khususnya semenjak era 1970-an banyak melahirkan tokoh-tokoh superhero. Dalam era tersebut, seiring dengan maraknya komik nasional, kehadiran superhero-superhero lokal tak kalah dengan

Napak Tilas 0 Comments

Braga Tempo Dulu

Braga sebuah kawasan yang sejak zaman “baheula” sampai “kiwari” menjadi ikon kota Bandung. Jalan yang pernah dijuluki Jalan Culik karena terkenal kerawanannya ini disebut juga Jalan Pedati pada 1900-an. Disebut

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply