Pasca Legalisasi Pernikahan Sejenis di AS dan Mereka yang Membela

Pasca Legalisasi Pernikahan Sejenis di AS dan Mereka yang Membela

Seminggu setelah Mahkamah Agung AS melegalkan pernikahan sejenis ternyata tidak serta merta menyelesaikan masalah diskriminasi dan perbedaan pandangan antara yang menolak dan menerima pernikahan sejenis. Sama halnya dengan di tanah air, perdebatan mengenai LGBT masih tetap marak baik itu di forum chat maupun media sosial.

Berdasarkan polling yang dilakukan sebelum pengambilan keputusan oleh MA, 61% rakyat AS mendukung pernikahan sejenis dilegalkan. Angka ini merupakan angka tertinggi sepanjang sejarah Amerika.

Seperti yang diberitakan siloka.com beberapa waktu yang lalu, kelompok pendukung LGBT saat ini tidak kalah keras dari kelompok penentangnya. Salah satunya adalah seperti yang dialami oleh JR Salzman yang mendapatkan serangan di media sosialnya karena tidak setuju dengan legalisasi pernikahan sejenis.

Beberapa waktu ini, seperti yang diberitakan oleh hufftington post, sebuah toko kue di Greysham, Oregon harus menghadapi tuntutan karena menolak pesanan kue untuk pernikahan sejenis. Pengadilan memutuskan Aaron and Melissa Klein sebagai pemilik harus membayar denda sebesar US$ 135.000,- untuk ganti rugi akibat penolakan tersebut. Tidak hanya di Amerika, pada bulan Mei yang lalu sebuah toko kue di Irlanida utara harus menghadapi tuntutan karena menolak membuatkan kue bagi pernikahan sejenis.

Aaron dan Melisa Klein, pemilik toko sweet cakes yang harus membayar sekitar US$ 135.000 karena menolak pesanan kue pernikahan untuk pasangan lesbian di Oregon-AS

Aaron dan Melisa Klein, pemilik toko sweet cakes yang harus membayar sekitar US$ 135.000 karena menolak pesanan kue pernikahan untuk pasangan lesbian di Oregon-AS

Kondisi ini tentu saja nampak bertentangan terhadap gerakan perlindungan terhadap hak-hak kaum LGBT. Kelompok yang menolak pernikahan sejenis saat ini seolah-olah menjadi pihak yang dipersekusi secara perlahan karena pendapatnya yang menolak pernikahan sejenis. Padahal tidak semua yang menolak legalisasi pernikahan sejenis tersebut membenci ataupun tidak menghormati hak-hak kaum LGBT. Bahkan beberapa diantaranya adalah kaum LGBT sendiri.

Seperti yang dikemukakan oleh Paul Rosnick dalam tulisannya di the federalist.com, meskipun seorang gay, ia menentang legalisasi pernikahan sejenis. Salah satu alasannya adalah karena menurutnya pernikahan bukanlah sebuah kontrak (love contract). Menurutnya, pernikahan dimaksudkan untuk sebuah usaha pro-kreasi. Pelibatan negara dalam sebuah pernikahan adalah untuk melindungi bayi-bayi yang akan dilahirkan sebagai konsekuensi dari hubungan dua orang heteroseksual. Jika lembaga pernikahan memang sudah terdegradasi hanya sebagai kontrak antara dua orang -apakah mereka heterosexual ataupun homosexual, sampai pada kurun waktu tertentu, maka tidak perlu sampai negara harus ikut campur akan hal ini.

Seperti yang dikemukakan Rosnick, yang menyatakan terpaksa menggunakan pseudonym, kaum LGBT penentang pernikahan sejenis ketakutan untuk menyatakan penolakannya. Mereka bukannya takut pada kaum yang menolak pernikahan sejenis, tetapi pada reaksi aktivis pembela hak-hak kaum LGBT -yang kebanyakan adalah kaum heterosexual, yang dinilai berlebihan. Kelompok ini juga kerap disebut sebagai Gaystapo karena kerasnya reaksi mereka terhadap mereka yang menolak pernikahan sejenis. Di lain pihak, kelompok fundamentalis juga memanfaatkan isu Gaystapo ini untuk mendapatkan dukungan terhadap gerakan mereka yang menolak dengan keras terhadap perilaku LGBT.

Gaystapo, sebutan untuk para aktivist pembela hak-hak kaum LGBT yang cenderung agresif terhadap mereka yang menentangnya.

Gaystapo, sebutan untuk para aktivist pembela hak-hak kaum LGBT yang cenderung agresif terhadap mereka yang menentangnya.

Berbeda dengan yang dilakukan oleh para Gaystapo,  proses penerimaan publik AS tersebut tentu saja selain melalui jalan yang sangat panjang juga membutuhkan pola-pola gerakan yang simpatik.

Seperti contoh, kalangan remaja AS sempat menggunakan kata “gay” dengan maksud mengolok-olok atau menyatakan sesuatu yang mereka anggap aneh dengan ungkapan “he is so gay“. Mengahadapi hal tersebut, para aktivist yang lebih simpatik menanganinya dengan cara edukasi. Alih-alih menyerang para remaja yang kerap menggunakan ungkapan tersebut mereka malah membuat gerakan edukasi dengan menjelaskan makna sebenarnya dari kata “gay” tersebut.

Seperti yang umum diketahui, kelompok LGBT kerap mendapatkan perlakukan yang tidak menyenangkan bahkan tindak kekerasan dari masyarakat. Mereka kerap dijadikan bahan olok-olokan, didiskriminasi bahkan diperlakukan dengan tidak manusiawi. Maka sangat wajar hingga akhirnya publik AS menjadi berempati terhadap kelompok LGBT dan memenangkan suara di Mahkamah Agung AS.

Namun pola gerakan pembelaan terhadap pernikahan sejenis yang cenderung Gaystapo perlu ditinjau kembali. Jangan sampai pada akhirnya intoleransi meningkat dari orang-orang yang memiliki pendapat berbeda atas hak LGBT, sebagai akibat dari perlakuan negatif yang justru menimbulkan anti-empati terhadap kelompok LGBT.

Comments

About author

You might also like

Napak Tilas

Kota-Kota Kuno Yang Tenggelam Ke Dasar Laut (bagian-1)

Peradaban manusia berlangsung ribuan tahun. Banyak kota yang telah dibangun, namun tak sedikit yang hilang tenggelam ke dasar laut. Penyebabnya bisa beragam. Dari unsur kesengajaan, hingga bencana alam yang meluluhlantakkan

Tokoh

Sekelumit Cerita Dwitunggal Yang Terlupakan Sejarah

Dalam sejarah RI yang kini sudah berusia 70 tahun kita pernah memiliki Dwitunggal. Yang dimaksud adalah Bung Karno dan Bung Hatta.

Ekonomi

Yunani Pasca Referendum; Kontraksi Pasar Saham Eropa dan Asia

61% rakyat Yunani menolak persyaratan Uni Eropa, Bank Sentral eropa dan IMF.