PIN PKI bikin Heboh: Apakah AKSI Main Hakim Sendiri sesuai dengan Budaya PANCASILA ??

PIN PKI bikin Heboh: Apakah AKSI Main Hakim Sendiri sesuai dengan Budaya PANCASILA ??

Video Heboh dibawah ini berisi tentang PEMUKULAN seorang REMAJA oleh beberapa oknum sebuah LSM, karena remaja tersebut memakai PIN PKI. Link videonya: https://youtu.be/r2q8bWkbzYE

Video tersebut beredar di media sosial dan sangat menghebohkan. Padahal biasanya bahasan tentang PKI baru dimulai pada Bulan September, seiring dengan momen pengingat Gerakan 30 September (G 30 S PKI).

Video ini nampaknya sengaja diambil oleh seseorang yang disinyalir merupakan bagian dari sebuah LSM bernama KPK. Bahkan nampak di dalam video tersebut, aparat kepolisian pun membiarkan kejadian tersebut. Barangkali orang yang merekam adegan ini ingin menunjukkan bahwa PANCASILA harus dibela mati matian dengan cara apapun (termasuk melakukan penganiayaan??). Tapi apakah harus dengan cara MAIN HAKIM SENDIRI? Bukankah negara kita adalah negara hukum, yang melarang warga negaranya untuk melakukan aksi main hakim sendiri, karena bisa masuk pasal Penganiayaan.

Video

Gara-gara memakai PIN PKI, Seorang Pemuda hampir babak belur dihajar Oknum LSM

Video berdurasi 6 menit 43 detik ini sangatlah tidak mencerminkan Budaya Indonesia yang ramah, sopan santun, bijaksana dan adil dalam memperlakukan seseorang. Apalagi ketika yang dihakimi ternyata adalah seorang remaja, yang tidak menutup kemungkinan tidak mengetahui kalau memakai PIN PKI (pin dengan lambang PALU ARIT) tersebut bisa membuat masalah bagi dirinya. Ya harusnya diberitahu secara baik-baik sesuai dengan Budaya PANCASILA, terutama sila ke dua, Kemanusiaan yang adil dan beradab.

Dari laman riauonline.co.id (14/02), Rinaldi, seorang aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) Riau, mengatakan bahwa Patung Perjuangan Masyarakat Riau di persimpangan Jalan Diponegoro-Gajah Mada, menjadi saksi bisu bagaimana peradilan tanpa persidangan terhadap hal-hal yang berbau Partai Komunis Indonesia (PKI). Hukumannya hanya dua, hukuman penjara dan hukuman mati.

Pemutaran Film dokumenter bertajuk SENYAP garapan Joshua Oppenheimer yang dirilis tahun 2004 silam, menunjukkan betapa kacaunya Indonesia pasca-1965. Kerusuhan sosial ketika itu menjadi tragedi paling mengerikan sepanjang sejarah dunia modern.

Ratusan ribu bahkan jutaan orang dibunuh dan dibantai hanya karena dituduh komunis tanpa melalui proses peradilan.

Rinaldi menceritakan kesaksiannya. Di Rumbai, ia menemukan seorang kakek tua berasal dari Cilacap, Jawa Tengah. Kakek tua tersebut satu keluarganya ditangkap lantaran menyimpan alat musik milik organisasi kesenian yang berada di bawah PKI. Alat musik tersebut berupa Gong kecil yang biasa digunakan oleh Ludruk (pertunjukkan seni Jawa) yang sering dimainkan para seniman yang berafiliasi dengan PKI. Dimanakah keadilan pada saat itu?

Apakah hari ini juga akan kembali lagi seperti dulu?? Ramai-ramai orang menuduh orang lain PKI hanya karena orang tersebut memakai sebuah PIN dengan lambang Palu Arit. Sebelumnya, Puteri Indonesia 20015 pernah mengenakan kaos berlambang palu arit juga.

Padahal bisa saja karena kebodohan atau ketidaktahuan, dan atau bahkan Pin PKI itu sebenarnya malah bukan miliknya. Positif thinking dan bijaksana dalam menghadapi setiap persoalan. Bukankah sebaiknya Orang tua (dalam video diatas) haruslah mampu mencontohkan kepada remaja tadi dengan cara-cara yang berdasarkan kepada PANCASILA, diajak ngobrol dan ditanya baik-baik maksud pemakaian PIN PKI tersebut. Bukankah PANCASILA merupakan Falsafah Bangsa yang harusnya dijungjung tinggi, bukan malah bertindak sebaliknya.

PANCASILA : Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Comments

About author

You might also like

Gaya Hidup

Cari Teman Traveling? Gabung Couchsurfing!

Menjelajahi tempat-tempat baru, merasakan kehidupan sosial budaya di tempat lain mampu membuka pola pikir kita.

Hits

Bermain Agar.io, Menyegarkan Otak dan Pikiran

Disela-sela kepadatan aktifitas kita yang menguras pikiran serta bikin mumet, tak ada salahnya kita bermain game.

Gaya Hidup

“EXODUS : GODS AND KINGS” (1)

Menikmati film besutan Ridley Scott ini mau tak mau kita membandingkannya dengan film bertema sama, yakni “The Ten Commandments.” Tapi jangan coba membandingkannya dari segi efek visual atau kejernihan gambar.