Resort Kampung Sumber Alam, Resort Berbasis Green Tourism

Resort Kampung Sumber Alam, Resort Berbasis Green Tourism

Membincangkan Garut seakan tak pernah habis. Garut memang sudah menjadi tujuan pelancong sejak zaman “baheula.”

Iklimnya yang sejuk, suasananya yang asri, pemandangannya yang elok serta seni tradisinya yang kuat membuat Garut menjadi “magnet” hingga sekarang. Berbagai julukan pernah disematkan kepada Garut. Mulai dari julukan “Mooi Garut”yang artinya Garut yang elok, atau julukan “Swiss van Java” sudah dikenal dari awal abad 20.

Dari semua objek wisata di Kabupaten Garut, objek wisata Cipanas yang menjadi fokus pengembangan, karena Cipanas ini menjadi ikon tujuan wisata di Garut. Kawasan Cipanas akan dijadikan pusat promosi dan pemasaran seluruh potensi wisata dan produk UMKM Kabupaten Garut. Pada kawasan Cipanas ini akan dibangun gedung khusus yang meyediakan informasi objek wisata dan semua produk unggulan UMKM Kabupaten Garut (Novita, Rina Cipta, 2013, Peranan Sektor Pariwisata Terhadap Perekonomian Kabupaten Garut).

Geliat Pariwisata di suatu daerah tentu berdampak positif kepada daerah bersangkutan. Namun, bukan berarti dampak negatifnya tidak ada. Dengan berkembangnya tempat-tempat wisata -seperti di Cipanas Garut- tentu banyak pengusaha yang berinvestasi dalam sektor perhotelan. Sayangnya, tak jarang pembangunan hotel, resort mengabaikan lingkungan serta ekosistem sekitarnya. Ahli geologi dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno, mengatakan maraknya pembangunan hotel menjadi salah satu penyebab berkurangnya ketersediaan air tanah.” (H.U. Kompas, Selasa, 7 Oktober 2015). Model wisata yang konvensional dan mengabaikan lingkungan sudah ditinggalkan. Kini adalah era model wisata berbasis Green Tourism.

Model wisata berbasis Green Tourism bukan lagi menjadi pilihan, namun menjadi keharusan sekarang ini. Green Tourism yang mengusung idealisme ekoturisme berbasis konservasi sebenarnya bukan merupakan barang baru di dunia serta telah diimplementasikan di Indonesia. Menurut The International Ecotourism Society (TIES), ada enam point prinsip-prinsip Green Tourism atau Ekoturisme. Salah satunya point-nya adalah pilihlah hotel/hostel lokal dan ramah lingkungan.

Model wisata ini dapat membuat perbedaan yang lebih berarti bagi kita pribadi dan dampak berkelanjutan bagi komunitas lokal yang terlibat langsung di dalamnya. Selain itu pula meminimalisir perusakan terhadap alam, mendukung perlindungan suatu kawasan, mengedepankan pemberdayaan komunitas lokal, mengapresiasi lebih kebudayaan dan nilai lokal, serta berfungsi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap konservasi alam dan lingkungan sekitarnya (Special Report, The U.S. Ecotourism Market, WTO, 2002).

Salah satu resort di daerah Cipanas yang sudah mulai menerapkan konsep Green Tourism adalah Kampung Sumber Alam. Kampung Sumber Alam adalah sebuah resort tradisional yang unik dengan konsep kampung yang ditata secara artistik khas arsitektur Sunda, dengan bangunan di atas balong, beratapkan ijuk, dan teras ngapung seolah mencerminkan budaya arsitektur Kampung Cipanas Tempo Doeloe. Semua bungalow dilengkapi dengan bak mandi dan shower, dimana kita bisa menikmati mandi di dalam air panas belerang dari gunung berapi terdekat, yaitu: Gunung Guntur.

Bungalow-bungalow yang keseluruhannya dibangun di atas balong (kolam ikan) dengan luas 2,7 hektar ini, dikemas apik nyaman dengan gaya arsitektur Sunda, dimana masing-masing tipe bungalow memiliki keunikan interior yang berbeda. Bungalow-bungalow tertentu seperi jenis Suite dan Siluhur juga dilengkapi dengan kolam renang mini atau whirlpool selain bak mandi yang telah ada. Jenis bungalow seperti Siluhur bahkan dilengkapi lagi dengan pancuran air sebagai sarana aqua medic therapy. Fasilitas lain untuk bersantai rileks pada jenis bungalow Siluhur adalah adanya pendopo/gazebo.  Dengan demikian, Sumber Alam merupakan resort yang berwawasan lingkungan dan berupaya terus-menerus untuk mencapai kesempurnaan dan  sangat peduli akan kelestarian alam sekitar.

Salah satu pola kampung tradisional Sunda secara umum adalah memiliki unsur-unsur pembentuk kampung, di antaranya adalah balong atau kolam (Amalia, 2013, Taman Budaya Sunda, Laporan Tugas Akhir). Dengan keberadaan balong-balong di sebagian besar area resortnya, Sumber Alam, melakukan dua macam konservasi. Pertama, adalah konservasi budaya, yakni melestarikan arsitektur budaya lokal Sunda yang sudah mulai langka belakangan ini. Berbicara mengenai konservasi budaya, di KSA juga tidak pernah sepi dari kegiatan senit tradisi yang dikemas dalam kegiatan tradisional Urang Cipanas Tempo Doeloe seperti   permainan jadul ‘troktrak’, ‘balap karung’, ‘balap bakiak’. kegiatan tradisional rakyat Cipanas tempo doeloe seperti : ‘ngabedahkeun balong’ (menguras kolam ikan), ‘ngala belut’ (ambil belut) atau ‘nguseup’ (mancing). 

Kedua, adalah konservasi air, di mana dengan adanya balong-balong tersebut air hujan dapat dimanfaatkan melalui sistem Rain Water Harvesting (RWH), sedangkan penggunaan air tanah dapat diminimalkan. Selain itu, karena konsep Kampung Sumber Alam adalah Kampung Tradisional Sunda, di mana pemakaian bahan-bahan yang ramah lingkungan menjadi prioritas utamanya, maka sungguh tepat jika Kampung Sumber Alam sudah menerapkan konsep Green Property. Konsep Green Property, secara sederhana dimaknai sebagai pengadopsan sistem yang hemat air dan listrik, penggunaan energi terbarukan, konservasi air, kualitas udara yang baik, hingga pemakaian bahan bangunan yang ramah lingkungan dan hemat energi (H.U. Kompas, Jumat, 18 Februari 2011).

disarikan dari beragam sumber.

Comments

About author

You might also like

Napak Tilas

Jasa Soekarno Menyelamatkan Universitas Al-Azhar Mesir

Mesir bukan semata soal Piramida. Di sana ada Universitas Al-Azhar. Mesir dan Universitas ini ibarat dua sisi mata uang.

Artikel

Angeline Diperkosa Sebelum Dibunuh?

Angeline (8) yang dikabarkan hilang sejak 16 Mei, pernah mengalami kekerasan seksual di rumah Margaret.

Artikel

Batu Giok, Dari Perhiasan, Senjata, Hingga Baju Pemakaman Raja Tiongkok

Dalam kebudayaan Tiongkok, batu giok sudah dikenal ribuan tahun lalu. Pemakaiannya tidak terbatas pada perhiasan semata, bahkan untuk pemakaman !