Rokok Di Persimpangan Jalan

Rokok Di Persimpangan Jalan

Di minggu pagi yang cerah, saya mengajak anak dan isteri ke salah satu taman di Bandung, yang kebetulan letaknya tidak terlalu jauh dari pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat.

Keindahan taman yang sudah direvitalisasi Walikota Bandung, Ridwan Kamil sedikit ternodai oleh ulah sekumpulan anak sekolah dasar yang sedang berkerumun di salah satu sudutnya. Alih-alih melakukan kegiatan positif, mereka sedang asyik merokok layaknya orang dewasa.

Terbetik dalam benak saya, betapa suksesnya perusahaan rokok meracuni generasi bangsa. Anak-anak sekecil itu sudah meniru kebiasaan buruk, tanpa ada upaya efektif untuk mencegahnya. Mengapa tidak efektif ? Sebab, upaya preventif seperti pencantuman peringatan di bungkus-bungkus rokok, peringatan hari tanpa tembakau setiap tahun dan pembatasan akses perokok di tempat-tempat umum ternyata tidak mengurangi pertumbuhan jumlah perokok di tanah air.

Tak urung, Indonesia menjadi “surga para perokok”. Data dari The Tobacco Atlas 2015 menunjukkan sebanyak 66 persen pria di Indonesia merokok. Dus, negara kita meraih peringkat satu dunia untuk jumlah perokok pria di atas usia 15 tahun (kompas.com). Sementara faktanya, anak-anak sekolah dasar yang saya temui di taman tersebut mungkin usianya berkisar antara 10 hingga 12 tahun. Bisa jadi, fenomena perokok di Indonesia seperti Gunung Es. Jauh di bawah permukaan, jumlah perokok remaja lebih besar dari yang diperkirakan.

Pendapatan Negara dan Tenaga Kerja

            Setiap tahun industri rokok menjadi andalan pemasukan bagi kas negara. Pada 2015, rokok merupakan penyumbang terbesar pendapatan cukai dengan kontribusi sebesar 96 persen, dengan nilai Rp. 139, 5 triliun ! Bahkan, pada RAPBN 2017, pemerintah memasang asumsi target penerimaan cukai rokok menjadi Rp.149,88 triliun dari sebelumnya Rp.141,7 triliun di APBN perubahan 2016 (liputan 6.com). Faktor inilah yang agaknya menyandera pemerintah.

Pertanyaannya, sudahkan pemerintah mengkaji dan mencari alternatif untuk menambah kas negara selain dari rokok ? Atau jangan-jangan pemerintah seperti berada dalam “zona nyaman” dan tidak mau bersusah payah mencari sumber pemasukan yang lain. Faktor lain yang membuat pemerintah terkesan ragu-ragu adalah mengenai isu tenaga kerja. Industri rokok selalu berlindung dengan nyaman di belakang isu ini. Mereka beralasan, banyak orang yang bergantung hidupnya dengan industri rokok. Mulai dari petani, buruh, distributor, pedagang yang disinyalir jumlahnya 6 juta orang. Faktanya, buruh di industri rokok mengalami penurunan seiring beralihnya proses produksi dari padat karya menuju mekanisasi. Walhasil, dengan dua asalan ini, pemerintah masih setengah hati melakukan langkah-langkah mendasar untuk mencegah tumbuh kembangnya generasi perokok yang kian masif.

Apakah pemerintah memikirkan generasi bangsa ini ? Apakah data dari World Health Organisation (WHO) bahwa merokok membunuh orang lebih dari penyakit apapun tidak menjadi pertimbangan utama ?  Masyarakat berhak menghirup udara sehat yang tidak terpapar asap rokok. Jaminan ini jelas termaktub dalam UUD 1945 Pasal 28 H ayat 1 “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.”

Upaya Global

Menghilangkan perokok di muka bumi ini seakan menjadi proyek yang mustahil. Paling tidak, cara aman untuk mengatakannya adalah mengendalikan atau mengurangi jumlah perokok. Berbagai lembaga dunia telah mencobanya. Bahkan, tahun lalu sebuah lembaga global dicetuskan Bill Gates dan mantan Walikota New York City, Michael Boomberg. Tujuan lembaga ini adalah untuk membantu negara berkembang menghadapi perlawanan industri rokok terhadap langkah-langkah pengendalian tembakau (bbc.com).

Ratusan triliun telah digelontorkan.  Lembaga dunia, termasuk lembaga swadaya di tanah air turut serta dalam kampanye ini. Memang, mesti diakui, banyak regulasi baru yang membatasi perokok dan industri rokok. Iklan tidak boleh terang-terangan memerlihatkan aktivitas merokok. Bungkus rokok sudah dilengkapi peringatan dengan foto-foto mengerikan akibat rokok. Fasilitas umum menyediakan ruang atau sekat pemisah antara perokok dan warga yang tidak merokok. Namun, ini hanyalah kemajuan minor. Buktinya, jumlah perokok bukannya berkurang, tapi bertambah setiap tahunnya.

Adakah cara efektif untuk menghentikan atau paling tidak mengendalikan jumlah perokok?

Efektifkah Jargon Agama ?

            Yang saya bicarakan dalam konteks tulisan ini adalah Islam, yang kebetulan mayoritas dianut masyarakat Indonesia. Apakah Islam secara tegas melarang rokok ?  Rokok dan aktivitas merokok pada zaman Nabi Saw belumlah ada. Karena belum ada, beberapa kalangan ulama melakukan ijtihad, sehingga keluarlah beragam fatwa mulai dari yang memerbolehkannya (mubah), memandangnya makruh hingga derajat haram.

Mayoritas kalangan Islam di tanah air memandang rokok sebagai barang makruh. Disebut markruh karena rokok membawa mudarat relatif kecil yang tidak signifikan untuk dijadikan dasar hukum haram. Meski berada “di tengah-tengah” kecenderungan merokok di kalangan umat Islam tanah air sangatlah besar dan belum ada upaya efektif untuk menguranginya.

Belajar dari Ahmadiyah

Lain halnya dengan Ahmadiyah. Hal unik yang ditemui dalam komunitas Islam satu ini adalah pilihan mereka untuk tidak merokok. Jadi, tanpa bersusah payah untuk mengampanyekan anti rokok, puluhan juta anggota Ahmadiyah di seantero dunia –termasuk di Indonesia- menaati perintah pimpinan tertinggi mereka untuk tidak menyentuh barang yang dinamakan rokok.

Bahkan, pendiri mereka –Hazrat Mirza Ghulam Ahmad- sudah jauh-jauh hari mewanti-wanti mengenai “kesia-siaan” aktivitas merokok. “Menghisapnya adalah perbuatan sia-sia. Allah Ta’ala telah berfirman mengenai keadaan orang-orang mukmin : mereka adalah orang-orang yang berpaling dari kesia-siaan.” Lebih lanjut beliau mengatakan, “Seandainya benda itu (rokok) ada pada zaman Rasulullah Saw, beliau Saw tentu akan membencinya dan tidak akan menyukainya bagi para sahabat r.a. (al-Hakam, 24 Maret 1903).

Belajar dari kesuksesan ini,  Ahmadiyah dapat dijadikan “role model” di mana ketaatan positif terhadap pemimpin tertinggi dapat mengalahkan kampanye ratusan triliun yang sudah berjalan bertahun-tahun. (Aktivis Rajapena, Penulis Muda Muslim tinggal di Bandung).

sumber : qureta.com

Comments

About author

You might also like

Komunitas 0 Comments

Sejarah Asal Muasal Kampung Naga di Garut-Tasikmalaya.

Mungkin ada yang berpikir akan menemukan seekor naga ketika berwisata ke Kampung Naga. Penasaran dengan peradaban Kampung Naga?

Nasional

Keistimewaan Masjid Istiqlal Yang Tak Dipunyai Masjid Lain (1)

Masjid Istiqlal merupakan kebanggaan umat Islam Indonesia. Kemegahan dan arsitekturnya yang unik membuat Masjid satu ini begitu istimewa.

Budaya

Permainan Tradisional Ini Sudah Hampir Punah (1)

Beruntunglah mereka yang mengalami masa kecil di era 80 hingga 90-an. Dikarenakan mereka masih sempat menikmati permainan tradisional.