Sejarah Awal Budaya Tattoo

Sejarah Awal Budaya Tattoo

Saat ini Tattoo merupakan salah satu gaya hidup masyarakat dunia, termasuk di Indonesia. Tak jarang kita melihat orang-orang memiliki beragam lukisan di kulit tubuhnya.

Tato (Tattoo dalam bahasa inggris atau Rajah dalam bahasa Indonesia) disinyalir berasal dari kata “Tatau” dari bahasa Tahiti, yang berarti “menandakan sesuatu”.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tattoo berarti gambar atau lukisan pada bagian anggota tubuh.

Praktek tattoo sudah berlangsung sejak beberapa abad yang lalu dan tersebar di seluruh dunia, sesuai dengan fungsi adat istiadat setempat. Sehingga fungsi, kegunaan dan tujuan tattoo sangat beragam di setiap daerah.

Apakah tatto bisa diartikan sebagai simbol untuk identitas suatu bangsa, suku, dan ras?
Dahulu, Tattoo dibuat oleh kalangan-kalangan suku terasing dengan fungsi sebagai penandaan wilayah, derajat, pangkat dan bahkan menandakan kesehatan seseorang.

Di Indonesia sendiri, budaya tattoo dianggap sebagai hal negatif. Cukup banyak masyarakat Indonesia memberikan penilaian buruk terhadap orang yang bertatto (memiliki tattoo), misalnya di-cap sebagai penjahat.

Penilaian buruk terhadap tattoo berkembang di zaman orde baru, saat pemerintahan Presiden Soeharto. Berdasarkan cerita dari masyarakat, saat itu orang-orang bertattoo diculik dan dinyatakan hilang serta diberi stempel “penjahat”. Sehingga tak jarang orang memutuskan untuk menghapus tatto pada tubuhnya, agar terhindar dari sanksi sosial dan juga penculikan.

Ironisnya, Indonesia merupakan salah satu negara yang dinyatakan sebagai cikal bakal budaya tattoo, lebih spesifiknya berasal dari Mentawai. Meskipun ada banyak klaim dari beragam suku bangsa serta statement peneliti lain di dunia mengenai asal muasal tattoo. Setidaknya, Indonesia merupakan salah satu bangsa tertua dalam hal budaya tattoo.

Penilaian mengenai tattoo memang beragam, tergantung dari perspektif mana kita menilai. Mungkin dari perspektif agama Islam, tattoo merupakan hal yang dilarang. Dari perspektif budaya sosial Indonesia saat ini pun, tatto merupakan hal yang dinilai negatif.

Namun dari semua hal tersebut bukan berarti kita layak menghakimi atau men-cap orang bertattoo sebagai orang yang buruk seperti penjahat. Bagaimanapun juga, kita harus menerima bahwa budaya tattoo di Indonesia sudah exist jauh sebelum Indonesia terbentuk. Dengan kata lain, tattoo adalah salah satu warisan budaya nusantara yang wajib kita lestarikan.

Comments

About author

You might also like

Budaya

Bicara Soal Seks, Kamasutra Jawa Ini Jauh lebih Dahsyat

Bagi pembaca membicarakan “Kamasutra” mungkin tidaklah aneh. Namun, bicara soal seks, Kamasutra Jawa dalam Serat Centhini ternyata lebih dahsyat.

Budaya

Perang Tomat, Ritual Mensyukuri Hasil Bumi

Perang kali ini tidak berdarah-darah. Perang ini juga tidak terjadi di luar negeri, namun di Indonesia, tepatnya di Lembang, Jawa Barat

Napak Tilas

Kenali Teknik Dan Posisi Bercinta Melalui Buku “kamasutra”

Salah satu karya yang menghebohkan dunia karena berisi teknik dan cara bercinta dari zaman kuno adalah Kamasutra.