Sekelumit Cerita Dwitunggal Yang Terlupakan Sejarah

Sekelumit Cerita Dwitunggal Yang Terlupakan Sejarah

Dalam sejarah RI yang kini sudah berusia 70 tahun kita pernah memiliki Dwitunggal. Yang dimaksud adalah Bung Karno dan Bung Hatta.

Mereka berdua memiliki karakter berbeda. Meskipun demikian, mereka saling mengisi dengan keunikan masing-masing. Mereka adalah dua kualitas pemimpin yang langka.

Dalam bukunya, “Sewindu Dekat Bung Karno” ajudannya, Bambang Widjanarko menuturkan hubungan di antara Dwitunggal, yakni Bung Karno dengan Bung Hatta.

Ada satu hal yang menarik.

Hubungan erat Soekarno-Hatta, Dwi Tunggal Indonesia, pahlawan proklamator yang telah mengantarkan seluruh rakyat Indonesia menyeberangi jembatan emas kemerdekaan, telah pecah setelah Bung Hatta mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden RI pertama. Ternyata dalam melaksanakan politik mengisi kemerdekaan, mereka berdua berbeda pendapat. Sebagai seorang demokrat sejati dan seorang politikus kawakan, Bung Hatta mundur untuk memberi kesempatan kepada Bung Karno membuktikan pendirian dan konsepnya.

Seluruh rakyat Indonesia mencintai Bung Karno dan juga Bung Hatta, tetapi kini seluruh rakyat terpaksa harus menerima kenyataan bahwa kedua pahlawan bangsa itu tidak seiring dalam usaha mencapai tujuan revolusi. Mereka berdua telah bentrok pendapat dalam pengabdian masing-masing untuk nusa dan bangsa tercinta. Dwitunggal telah pecah, Bung Karno dan Bung Hatta tidak bersatu lagi.

Itu semua yang terlihat di luar dan banyak diketahui orang. Yang kurang diketahui masyarakat luas adalah bahwa mereka berdua tetap sahabat, dan terus saling menghargai.

Manusia Soekarno dan manusia Hatta tetap memelihara hubungan batin dan terus saling menolong bila salah satu memerlukannya. Perbedaan paham dalam politik tidak menggoyahkan ikatan antar dua insan itu. Mereka berdua tetap saling bertemu, keakraban hubungan dua manusia itu tetap terjalin.

Dalam tahun 60-an sewaktu Bung Karno mendengar bahwa Bung Hatta sakit, Bung Karno segera datang menengoknya dan memberikan perhatian serta bantuan agar Bung Hatta dapat segera berobat ke luar negeri. Begitu pula sewaktu Bung Karno sakit, ucapan semoga lekas sembuh serta iringan doa dari Bung Hatta diterima Bung Karno. Bung Hatta-lah yang maju mewakili Bung Karno menjadi wali dalam pernikahan Guntur Sukarnoputra tahun 1968, sewaktu Bung Karno berhalangan menghadiri saat penting bagi putra pertama dan tercinta itu.

Itulah sekelumit kedekatan Dwi Tunggal. Meski berbeda jalan, namun mereka saling menghargai dan tidak melunturkan persahabatan mereka.

disarikan dari beragam sumber.

Comments

About author

You might also like

Artikel

Harta Karun di Perairan Indonesia Diperkirakan Bernilai 127,6 Triliun ! (2)

Besarnya potensi harta karun dari kapal-kapal yang tenggelam di perairan Nusantara cukup Fantastik. Hal ini tidaklah aneh, karena semenjak berabad-abad lalu, Nusantara menjadi salah satu pusat perdagangan dan persaingan kapal-kapal dagang dari berbagai negara Eropa.

Gaya Hidup

Adakah Superhero Made in Indonesia ? (2 -tamat)

Tidak kalah dengan negeri Paman Sam, komikus Indonesia, khususnya semenjak era 1970-an banyak melahirkan tokoh-tokoh superhero. Dalam era tersebut, seiring dengan maraknya komik nasional, kehadiran superhero-superhero lokal tak kalah dengan

Ali Sadikin Sang Gubernur “Koppig” (2)

Sebelum menjabat Gubernur, Lelaki kelahiran Sumedang 7 Juli 1927 ini adalah adalah seorang letnan jenderal KKO-AL (Korps Komando Angkatan Laut). Ia pernah menjabat sebagai Deputi Kepala Staf Angkatan Laut, Menteri