Seperti Apakah Wajah Mahapatih Terkenal Dari Majapahit Ini ?

Seperti Apakah Wajah Mahapatih Terkenal Dari Majapahit Ini ?

Dari semenjak pelajaran IPS di tingkat sekolah dasar kita disuguhi cerita kehebatan sosok Gajah Mada, Mahapatih dari Majapahit.

Dengan sumpahnya yang terkenal, yakni Sumpah Palapa, Gajah Mada berjanji menyatukan seluruh Nusantara di bawah panji kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahit adalah kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara pada masa keemasannya. Wilayah Majapahit lebih luas dibandingkan dengan wilayah NKRI sekarang.

Namun, sampai sekarang sebenarnya belum diketahui secara pasti wajah Gajah Mada. Wajah Patih Majapahit yang dikenal selama ini masih kontroversial.

Peran Mohammad Yamin.

Lantas dari mana asalnya wajah Gajah Mada yang ada di buku-buku sejarah ? Wajah itu berdasarkan pendapat sejarawan Mohammad Yamin yang menemukan terakota di Trowulan yang ia sebut sebagai perwujudan wajah Gajah Mada.

Sebagian orang menyebut bahwa penggambaran rupa Gajah Mada itu hanya rekaan Yamin, pengarang buku Gajah Mada Pahlawan Nusantara, cetakan tahun 1945. Keterangan pada buku itu berbunyi, arca tanah liat ini dapat digali didekat Puri Gajah Mada di Trowulan.

Keberadaan Gajah Mada sebagai tokoh utama di kerajaaan Majapahit tak ada yang menyangsikan lagi. Bahkan, hanya Gajah Mada, seseorang yang bukan raja yang ”boleh” mewariskan sebuah prasasti yang ditemukan di Singosari Malang. Hal tersebut adalah diluar kelaziman.  Karena biasanya hanya raja yang diijinkan mengeluarkan prasasti. Ini menunjukkan bahwa Gajah Mada bukan tokoh sembarangan dalam istana Majapahit.

Beberapa sejarawan seperti Buchari (Fakultas Sastra Universitas Indonesia) dan S.I Purodisastro juga membantah. Buchari mengatakan bahwa itu bukan patung Gajah Mada. Itu hanya celengan peninggalan Majapahit yang ditemukan di Trowulan.

Bahkan S.I. Purodisastro mengatakan bahwa seorang arkeolog Belanda bernama Zissenis menulis bahwa ‘celengan’ itu ‘vermoedelijk een doodsmasker van Gajah Mada’ (boleh jadi topeng kematian Gajah Mada). Celengan semacam itu menurut S.I. Purodisastro berpeti-peti di gudang Dinas Purbakala di pekarangan candi Prambanan.

Yamin membantah. “Buktikan kalau itu bukan patung Gajah Mada,” ujarnya saat itu.

Sejarahwan UI, Agus Aris Munandar, dalam bukunya, “Gajah Mada, Biografi Politik”, mempunyai pendapat lain tentang Gajah Mada dalam arca perwujudan. Di dalam buku itu dituliskan, ia melakukan kajian mendalam tentang arca-arca yang banyak ditemukan di beberapa tempat. Di antaranya koleksi arca batu di Museum Nasional bernomor inventaris 310d yang berasal dari Gunung Penanggungan.

Ia sampai pada satu kesimpulan bahwa Gajah Mada merupakan tokoh yang dipuja-puja oleh pengikutnya. Untuk mengenangnya maka dibuatkan arca perwujudan, Gajah Mada disamakan dengan sosok Bima atau Brajanata.

Jika Gajah Mada digambarkan sebagai Brajanata maka arcanya memiliki ciri  berbadan tegap, kumis melintang, rambut ikal berombak. Di bagian puncak kepala terdapat ikatan rambut dan terdapat pita  membentuk seperti topi tekes. Busananya dilengkapi dengan perhiasan gelang dan kelat lengan atas berupa ular. Lingganya menonjol sehingga menyingkap kain yang menutupinya.

Sedangkan, jika digambarkan sebagai Bima, maka arcanya bercirikan badan tegap, lingganya menonjol menyingkap kain penutupnya, wajahnya sangar, kumis melintang dan mahkotanya supit urang.

disarikan dari beragam sumber.

Comments

About author

You might also like

Napak Tilas

Siapa Sangka, Foto Berwarna Ini Sudah Berusia 100 Tahun !

Bagi kita yang lahir di periode 80 hingga 90 puluhan mungkin tidak terlalu aneh melihat foto berwarna. Meski masih memakai film sebagai medianya, foto berwarna sudah begitu lumrahnya.

Artikel

Impian Meraih Emas Sea Games Sepakbola Terkubur Lagi

Penantian yang cukup lama dan belum terbayar dimana Timnas Sepakbola Indonesia terakhir kali mendapatkan emas pada tahun 1991

Artikel 0 Comments

Istimewa-nya Yogyakarta (1)

Yogyakarta adalah salah satu daerah yang istimewa di Indonesia selain Aceh. Beberapa alasan mengapa Yogyakarta dijadikan istimewa, yakni alasan politik, budaya, situs dan juga “tolerance city”-nya. Banyak tulisan tentang keistimewaan