Si Jalak Harupat

Si Jalak Harupat

Si Jalak Harupat

Fotonya memang menghiasi uang pecahan Rp.20.000,- Namun, sepak terjang Pahlawan satu ini seolah terlupakan. Padahal Ia adalah tokoh besar pada masanya. Siapakah Ia sebenarnya ?

Selepas Proklamasi, Ia pernah didapuk menjadi Menteri Negara pada kabinet yang pertama. Ia bertugas menyiapkan terbentuknya BKR –cikal bakal TNI- dari laskar-laskar yang tersebar di seluruh Indonesia. Ia berdarah Sunda. Namanya adalah Oto Iskandardinata. Ia seorang tokoh pergerakan yang aktif dan progresif. Pernah menjadi pucuk pimpinan Boedi Oetomo (BO). Berbeda dengan kalangan tua yang cenderung ke-priyayi-an, Oto mendesak BO bersikap “non-cooperatie” dengan pemerintah kolonial. Sikapnya ini menggelisahkan kaum tua BO. Karena sudah tidak sejalan, Oto akhirnya meletakkan jabatannya.

Oto juga duduk di Volksraad atau Dewan Rakyat (semacam DPR) yang mewakili Pasundan.Duduk di dewan itu tidak membuat Oto menjadi jinak. Ia  berpidato yang mengkritik keras kolonialisme dan membuat kuping-kuping tuan penguasa menjadi merah. Oto juga aktif di organisasi budaya Sunda, Paguyuban Pasundan, dan pernah menjadi ketuanya. Di zaman pendudukan Jepang, Ia menjadi Pemimpin Redaksi Surat Kabar Tjahaja (1942-1945). Menjelang kemerdekaan Oto aktif di BPUPKI dan PPKI.

Tragedi 19 Desember

Pada Oktober 1945, Oto diculik kelompok tak dikenal, dan diduga dari kelompok Laskar Hitam. Menurut beberapa saksi, pada 19 Desember 1945, Oto dan salah seorang rekannya di bawa ke sebuah pantai Desa Ketapang, Mauk Tangerang. Di sana Ia disiksa dan dibunuh. Jenazahnya dilemparkan ke laut dan tidak pernah ditemukan.

Penyebab kematiannya sendiri masih menjadi misteri. Beberapa spekulasi muncul, ada laskar-laskar yang tidak puas dalam pembentukan BKR. Ada juga spekulasi yang menyebutkan Oto dibunuh karena sikap dan ucapannya yang tegas.

Oto Iskandardinata dijuluki “si jalak harupat.” Jalak Harupat adalah sejenis ayam jantan dalam bahasa Sunda. Julukan itu diberikan karena sosoknya yang pemberani. Oto ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 088/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973.

Comments

About author

You might also like

Napak Tilas

Suasana Idul Fitri Zaman ‘Baheula’ di Bandung (1)

Penentuan awal puasa dan lebaran tahun ini semoga tidak menjadi polemik. Daripada mengedepankan perbedaan, mari utamakan persatuan.

Napak Tilas

Di Manakah Letak Ibu Kota Kerajaan Majapahit ?

Nusantara dahulu mempunyai 2 kerajaan Maritim yang besar, yakni Sriwijaya dan Majapahit. Majapahit bahkan kerajaan terbesar se-Asia Tenggara.

Hits

GBK Jadi Penentu Siapa Jawara Piala Presiden, Persib atau Sriwijaya FC ?

Minggu, 18 Oktober nanti jadi tanggal penentuan, siapa juara sejati ? Siapa juara Piala Presiden, apakah Persib atau Sriwijaya FC ?