Si Pitung, Robinhood Betawi Yang Kebal Peluru

Si Pitung, Robinhood Betawi Yang Kebal Peluru

Si Pitung pernah difilmkan pada era 70-80-an

Si Pitung pernah difilmkan pada era 70-80-an

Cerita Robinhood tidak melulu milik rakyat Inggris. Kita pun, di Indonesia pernah memiliki Robinhood, yakni Robinhood Betawi alias Si Pitung.

Si Pitung sudah menjadi cerita rakyat dan Legenda Betawi. Tokoh satu ini, dijuluki sebagai Robinhood dari Betawi.

Mengapa Si Pitung dijuluki Robinhood ? Karena seperti Robinhood dari negara asalnya, Inggris, Si Pitung merampok orang-orang kaya, penguasa-penguasa setempat yang bobrok, untuk kemudian hasil rampasannya itu dibagi-bagikan pada orang-orang miskin. Siapakah sebenarnya sosok Si Pitung yang begitu legendaris itu ? Berikut penelusurannya.

Apakah si Pitung tokoh Fiksi ataukah memang tokoh yang benar-benar ada ? Si Pitung menggambarkan sosok pendekar yang suka membela kebenaran dalam menghadapi ketidakadilan yang ditimbulkan oleh penguasa Hindia Belanda pada masa itu. Kisah pendekar Si Pitung ini diyakini nyata keberadaannya oleh para tokoh masyarakat Betawi terutama di daerah Kampung Marunda di mana terdapat Rumah dan Masjid lama.

Dalam catatan yang tertera di Rumah Pitung, dikatakan bahwa ibu kandung Pitung berasal dari Rawa Belong, Jakarta Barat, dan ayahnya berasal dari daerah Cikoneng, Tangerang, Banten. Si Pitung diperkirakan lahir pada tahun 1866, di Cikoneng.

Pada usia 14 tahun si Pitung mengembara. Dalam pengembaraannya, kemudian sampailah Pitung di sebuah kampung yang bernama Kemayoran, Jakarta Pusat. Di kampung ini, ia bertemu dengan Guru H. Naipin, seorang kiai ahli thariqat yang pandai bermain silat. Selanjutnya, Pitung pun belajar pada H.Naipin, kira-kira selama 6 tahun.

Selama delapan tahun (1886–1894 ) Si Pitung, oleh kolonial Belanda dianggap sebagai orang yang meresahkan Batavia (Jakarta). Dengan segala cara, Si Pitung dapat ditangkap dan dijeboskan ke dalam penjara Meester Cornelis pada 1891. Namun, karena kesaktiannya, Pitung pun berhasil meloloskan diri.

Selanjutnya, ketika sudah berada di luar penjara, Si Pitung dikabarkan masih sempat membunuh seorang Demang Kebayoran yang menjadi musuh para petani di daerah tersebut. Di mana, sang Demang, sebelumnya pernah menjebloskan Ji’ih, saudara sepupu Pitung ke dalam sel tahanan Belanda.

Seperti diceritakan di awal, meski Pitung suka merampok, tapi bukan untuk memperkaya diri melainkan untuk perjuangan. Sebagaimana dikenal bahwa Pitung kerap melakukan perampokan terhadap tuan-tuan tanah dan para Demang yang menzalimi rakyat kecil, hal itu, konon dilakukan tanpa berkomplot.

Alwi Shahab, budayawan Betawi, menulis bahwa jagoan kelahiran Rawa Belong, Jakarta Barat, ini telah membuat repot pemerintah kolonial di Batavia. Berdasarkan cerita rakyat, Pitung mati setelah ditembak dengan peluru emas Kepala Polisi, Schout van Hinne dalam suatu penggerebekan karena ada yang mengkhianati dengan memberi tahu tempat persembunyiannya.

Makam yang diduga makam jagoan Betawi, Si Pitung, terletak di depan Gedung Telkom, Palmerah, Jakarta Barat

Makam yang diduga makam jagoan Betawi, Si Pitung, terletak di depan Gedung Telkom, Palmerah, Jakarta Barat

Ia ditembak dengan peluru emas Schout van Hinne (setara Kapolres) karena dikabarkan kebal dengan peluru biasa. Begitu takutnya penjajah terhadap si Pitung, sampai tempat ia dimakamkan dirahasiakan. Seperti yang diceritakan oleh legenda bahwa kesaktian Si Pitung hilang akibat jimat-nya diambil orang (Versi Film Si Pitung Banteng Betawi), tetapi yang menarik, versi lain menyatakan, bahwa Si Pitung dapat di-“lemahkan” jika dipotong rambut-nya.
Disarikan dari beragam sumber.

Comments

About author

You might also like

Artikel 0 Comments

Setahun Tak Terdengar, Olga Syahputra Dikabarkan Wafat.

Dunia hiburan nusantara dirundung duka. Olga Syahputra dikabarkan meninggal dunia di Rumah Sakit Mount Elizabeth Singapura, Jumat 27 Maret 2015.   Kabar duka tersebut pertama disiarkan oleh NET TV pada acara Breaking

Artikel

Kecap Blitar Nomor Satu Di Dunia (2-tamat)

Tulisan ini merupakan tulisan wartawan senior Susanto Pudjomartono yang pernah dimuat di Majalah Gatra, 9 Juni 2001 :

Budaya

Babancong, Garut Kota Intan dan Bung Karno

Mungkin pembaca bertanya-tanya, apa kaitan di antara ketiganya ? Dan apakah yang di maksud Babancong ? Nama yang terdengar asing bagi awam.

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply