Soekarno dan Pidato Yang Menohok Kolonial

Soekarno dan Pidato Yang Menohok Kolonial

Pidato pembelaan Soekarno di depan pengadilan kolonial sungguh fenomenal, karyanya ini kemudian dibukukan dengan judul Indonesia Menggugat.

Indonesia Menggugat adalah pidato pembelaan yang dibacakan Soekarno pada persidangan di Landraad, Bandung pada tahun 1930. Soekarno tidak sendirian, bersamanya adalah Gatot Mangkupraja, Maskun dan Supriadinata. Mereka tergabung dalam Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) pimpinan Soekarno.

PNI dituduh hendak menggulingkan kekuasaan Hindia Belanda. Dari balik jeruji penjara, Soekarno menyusun dan menulis sendiri pidato tersebut. Isi pidato Indonesia Menggugat adalah tentang keadaan politik internasional dan kerusakan masyarakat Indonesia di bawah penjajahan. Pidato ini kemudian menjadi suatu dokumen politik penting menentang kolonialisme dan imperialisme.

Pidato Indonesia Menggugat ini sangat menarik. Kendati digarap di dalam ruang penjara yang gelap dan pesing, isi pidato itu sangat menggelegar dan menohok jantung kekuasaan kolonial. Pidato itu juga menelanjangi kebusukan imperialisme dan kapitalisme.

Naskah pidato itu kaya dengan literatur. Setidaknya, ada 60-an tokoh dan pemikir yang disitir oleh Soekarno. Mulai dari tokoh marxis, nasionalis, humanis radikal, hingga kaum etisi Belanda. Tokoh marxis yang dikutip, antara lain: Karl Marx, Karl Kautsky,  Henriette Roland Holsts, Jean Jaures, Troelstra, dan Sneevliet.

Sementara tokoh nasionalis yang dikutip, diantaranya: Sun Yat Sen, Mazzini, Sarojini Naidu, dan Mustafa Kamil. Dari kalangan ekonom ada Rudolf Hilferding. Dari kalangan sastrawan ada August de Wit. Dari kalangan intelektual belanda ada Prof Snouck Hurgronje dan Prof J Pieter Veth. Dan masih banyak lagi.

Yang menarik, dalam pidatonya itu Soekarno membagi dua jenis imperialisme berdasarkan cara mengakumulasi keuntunganya, yakni imperialisme tua dan imperialisme modern. Imperialisme tua, sebagaimana dijalankan oleh East India Company (EIC) dan VOC, adalah imperialisme yang ditopang dengan cara-cara akumulasi primitif. Sedangkan imperialisme modern, yang mulai merambah Hindia-Belanda di abad ke-19 dan 20, berdasarkan kelimpahan modal dan pembangunan industri besar.

Di naskah pidato itu Soekarno juga membeberkan empat ciri imperialisme modern: pertama, menjadikan Indonesia sebagai tempat pengambilan bekal hidup; kedua, menjadikan indonesia sebagai negeri tempat pengambilan bekal-bekal (bahan baku) bagi pabrik-pabrik di eropa; ketiga, menjadikan Indonesia sebagai pasar penjualan barang-barang hasil dari berbagai industri di eropa; dan keempat, menjadikan Indonesia sebagai tempat atau lapang usaha bagi penanaman modal asing.

Karya ini sungguh sebuah karya fenomenal, dan magnum opus Soekarno yang masih relevan hingga kini.

Disarikan dari beragam sumber.

 

Comments

About author

You might also like

Napak Tilas 0 Comments

Si Pitung, Robinhood Betawi Yang Kebal Peluru

Cerita Robinhood tidak melulu milik rakyat Inggris. Kita pun, di Indonesia pernah memiliki Robinhood, yakni Robinhood Betawi alias Si Pitung. Si Pitung sudah menjadi cerita rakyat dan Legenda Betawi. Tokoh

Hits

Bagaimana Kesan Eddi Brokoli Kehilangan Rambut Khas-nya?

Apa yang latar belakangi Eddi Brokoli mencukur habis rambutnya menjadi botak di tahun 2013.

Artikel

Dan Mesut Ozil pun Mengucapkan “Happy 70th Independence Day Indonesia !

Ucapan selamat hari Kemerdekaan tidak hanya bergema di tanah air, bahkan pesepakbola dunia sekelas Mesut ozil pun mengucapkannya.