Suasana Idul Fitri Zaman ‘Baheula’ di Bandung (1)

Suasana Idul Fitri Zaman ‘Baheula’ di Bandung (1)

Dua tahun belakangan ini, proses perhitungan dan penentuan 1 Syawal tidak banyak membuat polemik. Semua kelompok bersepakat untuk menetapkan 1 Syawal bersama-sama.

Hal yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana banyak selisih pendapat dalam menentukan awal tahun Hijriah. Perselisihan yang menimbulkan polemik di masyarakat dan kemudian menyebabkan berbagai kelompok yang berbeda, menyelenggarakan Idul Fitri di tanggal Masehi yang berbeda pula.

Nah, kira-kira waktu zaman baheula*, adakah polemik tentang penentuan lebaran? Apakah serepot itu, proses menentukan awal tahun Hijriah di Indonesia?

Lantas, bagaimana suasana lebaran zaman baheula khususnya di kota tercinta Bandung?

Berikut ada sepotong cerita yang dituliskan Pak Haryoto Kunto atau yang lebih dikenal sebagai ‘kuncen Bandung’ dalam buku Ramadhan di Priangan (Tempo Doeloe), mengenai suasana menjelang Idul Fitri di Bandung zaman baheula;

Pernah terjadi di kota Bandung tahun 1930-an. Pada sore hari para alim ulama di beberapa mesjid, terutama di Mesjid Kaum Cipaganti yang terletak di lahan tinggi, beramai-ramai berkumpul dan mengamati garis cakrawala di arah barat. Ini dilakukan untuk ‘mengintip’ datangnya rukyatul hilal; saat sekelumit bulan muncul sedikit di garis cakrawala barat yang menandakan datangnya awal tahun Hijriyah. Atau dengan kata lain, untuk mengamati datangnya bulan Syawal yang menandakan umat Islam dapat merakayan Idul Fitri.

Namun kala itu, mendung dan hujan rintik-rintik menghalangi pemandangan. Sehingga saat matahari tenggelam, sang rembulan yang ditunggu-tunggu tak terlihat wajahnya. Padahal seluruh warga Bandung telah menunggu-nunggu bunyi dulag pitrah yang akan ramai ditabuh orang di mesjid dan pesantren. Bunyi tersebut menandakan agar kaum muslimin segera menemui Lebe atau Alim Ulama untuk membayar zakat fitrah, karena esok harinya tiba perayaan Idul Fitri. Tapi, peristiwa tersebut tak kunjung tiba.* (…bersambung)

 

*baheula: lampau.

About author

You might also like

Hits

Inilah Negara-Negara Paling Lama Waktu Puasanya

Pelaksanaan puasa di berbagai belahan dunia memiliki keunikan tersendiri. Salah satunya adalah soal waktu puasa yang beragam.

Napak Tilas 0 Comments

Istimewa-nya Yogyakarta (2)

Secara budaya dan situs, keistimewaan Yogyakarta terletak pada konservasi bangunan Keraton Yogyakarta sebagai artefak budaya maupun manusia Jawa dengan kekuasaannya. Meskpun konservasi bangunan keraton terdapat di beberapa daerah yang pernah

Lingkungan

Mana Saja Kota yang Cocok Menggantikan Jakarta Sebagai Ibukota ?

Semenjak zaman Presiden Pertama kita, Bung Karno, wacana perpindahan ibukota mengemuka. Pada masa itu ada wacana memindahkan ibukota dari Jakarta ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah.