Suasana Idul Fitri Zaman Baheula di Bandung (2-tamat)

Suasana Idul Fitri Zaman Baheula di Bandung (2-tamat)

Penentuan awal puasa dan lebaran tahun ini semoga tidak menjadi polemik. Daripada mengedepankan perbedaan, mari utamakan persatuan.

Berikut ada sepotong cerita yang dituliskan Pak Haryoto Kunto atau yang lebih dikenal sebagai “kuncen Bandung” dalam Buku “Ramadhan di Priangan (Tempo Doeloe)” mengenai suasana menjelang Idul Fitri di Bandung jaman baheula.

(kelanjutan…)

Baru kira-kira pukul 10 malam, Opas Kabupaten disertai petugas Kaum, berkeliling kampong sambil memukul gong kecil. Mengumumkan, bahwa besok telah tiba hari Lebaran. Agaknya berita tentang terlihatnya rukyatul hilal di Banten, pantai Tanjungkait, Betawi, dan Cianjur, terlambat datangnya. Maklum, komunikasi jaman baheula itu masih kurang lancar.

Begitu mendengar pengumuman tadi, dayeuh Bandung yang sunyi sepi, tiba-tiba berubah suasana menjadi meriah. Kaum ibu berlarian ke pasar yag mendadak dibuka malam itu. Begitu pula took dan warung ramai dirubung pengunjung yang butuh bahan makanan buat hidangan hajat walilat atau hajat lebaran.

Sedangkan kaum pria, terutama kepala keluarga, sibuk mencari Lebe atau Amil untuk membayar zakat fitrah. Soalnya, apa arti puasa tanpa membayar zakat fitrah, yang harus ditunaikan sebelum shalat Idul Fitri. Jika sampai melebihi batasnya membayar zakat fitrah, maka zakat tersebut hanya dihitung sebagai sedekah saja.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali warga Bandung berbondong-bondong pergi ke Alun-alun Bandung, menunaikan sholat Idul Fitri berjamaah. Sejak RHAA Wiranatakusumah V pulang menjalankan ibadah Haji ke tanah suci pada tahun 1924, maka suatu prosesi arak-arakan para menak Bandung disertai alim ulama Kaum diadakan, dengan jalan kaki dari Pendopo Kabupaten menuju Mesjid Agung Bandung.

Dalam barisan terlihat para menak mengenakan jubah, gamis, sorban seperti cerita 1001 malam. Mereka terdiri dari: Dalem di depan, diiringi Raden Patih, Raden Rangga, Raden Kanduruan, Ki Mas Rangga, Ki Mas Kanduruan, Ki Mas Jaksa, Ki Mas Ngabehi, Ki Mas Lengser, Ki Mas Camat, Ki Mas Patinggi, Pangarang, Kabayan, Panglaku, Lurah atau Kokolot, Mandor serta Priyayi.

Sedangkan dari kalangan Kaum terlihat Penghulu, Ketib, Modin, Amil atau Ulama Desa, yang berperan dalam sholat Idul Fitri tersebut. Bubar sholat Idul Fitri, warga kota, rakyat biasa, berebut untuk mencium tangan Dalam Bandung dan Penghulu, ngalap berkah konon katanya.

dari beragam sumber.

Comments

About author

You might also like

Hits

Charlotte Elizabeth Diana Puncaki Trending Topik

Semenjak Diumumkannya nama dari Royal Princess, putri dari pangeran William dan Kate Middletone ke publik Charlotte Elizabeth Diana langsung memuncaki trending topic dunia di twitter. Rasa penasaran publik Inggris yang beberapa hari

Napak Tilas

Benda-Benda Peninggalan Rasulullah Muhammad Saw

Selain ajarannya, Rasulullah Muhammad Saw banyak meninggalkan jejak fisik yang hingga kini disimpan di berbagai museum.

Artikel

Lais, Seni Akrobat Tradisional Khas Garut

Melihat pertunjukkan sirkus memang menarik. Namun, ternyata di Garut, seni semacam sirkus sudah ada semenjak lama, Lais namanya.