Suatu Sore Bersama Gandhi, MLK dan Mandela (2)

Suatu Sore Bersama Gandhi, MLK dan Mandela (2)

bersama-gandhi-di-suatu-sore

Mandela menimpali : “Perjuangan Anda Tuan Gandhi, melintasi ruang dan waktu. Kami di Afrika Selatan juga tidak bisa dipisahkan dari pengaruh Tuan. Ini saya tegaskan dalam artikel saya “The Sacred Warrior.”Anda adalah seorang pejuang suci, seorang revolusioner antikolonial. Konsep Ahimsa, perlawanan tanpa kekerasan menginspirasi perjuangan anti kolonial dan anti rasis di abad ini. Namun, dalam artikel itu pula saya menegaskan tidak di semua situasi dan kondisi hal itu bisa dilakukan.”
Saya : “Kalian bertiga dikenal sebagai tokoh anti kolonial. Memimpikan kesetaraan di antara sesama manusia, namun saya baru tahu, ternyata pada derajat tertentu perlawanan tanpa kekerasan tidak bisa selalu dilakukan, itukah yang anda maksud Tuan Mandela ?”
Mandela : “Ya, tapi mungkin Tuan Gandhi bisa menjelaskannya…
Gandhi : “Pada suatu kesempatan saya pernah berkata, “ketika pilihan hanyalah dua, yakni kepengecutan atau kekerasan, saya akan menyarankan kekerasan..saya lebih baik menggunakan tangan saya untuk memertahankan kehormatan daripada diam saja menyaksikan aib berlangsung.
Saya : Berarti prinsip perjuangan tanpa kekerasan bukan berarti tanpa kekerasan sama sekali ?
Gandhi : “Umpamanya seperti ini, “Saya memiliki sepetak perkebunan. Kebun itu sering dirusak oleh kera-kera liar yang datang dari hutan. Saya sadar sesadar-sadarnya bahwa semua bentuk kehidupan suci adanya, dan patut dihormati. Pun saya sepenuhnya memercayai prinsip Tanpa kekerasan. Namun, apa daya, ada kalanya saya mesti menggunakan kekerasan untuk mengusir kera-kera itu. Saya tidak ingin berbuat itu, tapi saya juga sadar betapa pentingnya hasil kebun itu bagi keberlangsungan hidup kita. Masyarakat di manapun tidak bisa bertahan hidup tanpa sawah, tanpa kebun dan hasilnya. Dengan penyesalan yang sangat dalam, hingga saat ini pun terpaksa saya mesti tetap mengusir kera-kera yang merusak tanaman itu, hingga pada suatu ketika saya menemukan cara lain untuk melindungi sawah” (Krishna, 2008:xxiv).

About author

You might also like

Gaya Hidup 0 Comments

Dutch Wife, Beda di Indonesia dan di Jepang

Budaya di Indonesia, tidur rasanya kurang lengkap tanpa guling, atau jaman dahulu disebut Dutch Wife yang tidak bisa kentut, jika dutch wife yang kita kenal adalah guling, dutch wife dijepang lebih dikenal

Gaya Hidup

Ubud Food Festival 2015: Berlibur Menikmati Kuliner Nusantara

Musim liburan segera tiba, bagaimana jika berlibur sambil menikmati beragam kuliner nusantara sambil menikmati pemandangan ubud?

Kesehatan

Hidup Sehat Dengan Donor Darah

Jangan jadikan rasa takut pada jarum suntik sebagai penghalang untuk mendapatkan hidup sehat.

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply