Suatu Sore Bersama Gandhi, MLK dan Mandela (3)

Suatu Sore Bersama Gandhi, MLK dan Mandela (3)

suatu-sore-bersama-Gandhi-Mlk

Mandela : “Kalau boleh menambahkan, konsep Ahimsa bukan berarti pasifisme. Itu adalah aksi. Itu adalah perlawanan. Seperti itulah yang saya maksudkan dalam The Sacred Warrior. Saya mengikuti strategi Tuan Gandhi, tetapi sampai pada suatu titik ketika penindas brutal tidak bisa lagi dihadapi dengan perlawanan tanpa kekerasan. Kekerasan di sini tanda kutip. Dari sudut pandang Si Penindas, Konsep Ahimsa Tuan Gandhi bisa saja disebut aksi teror bukan? Begitu juga perjuangan saya dengan teman-teman Afrikan National Congress (ANC). Saya menambahkan sayap militer di dalamnya. Namun, saya memilih cara-cara sabotase karena menurut saya cara ini tidak menimbulkan korban jiwa.”
MLK : “Dan jangan sampai dilupakan, Kami bertiga adalah pembaca Esai Thoreau, “Civil Disobediance.” menurutnya, kita harus melawan terhadap sesuatu yang salah. Pemerintahan yang amoral dan jahat dapat dilawan oleh setiap individu dengan cara tidak bekerja sama dengannya.”
Gandhi : “Saya pertama kali membacanya ketika saya berada dalam penjara di Afrika Selatan.”
Saya : “Dan Tuan Mandela benar-benar menjadi pembuktian dari kata-kata Thoreau, “tempat terbaik bagi manusia yang jujur adalah di penjara”
Mandela : “Itulah konsekuensi perjuangan. Ia harus siap dengan itu, bahkan yang lebih buruk dari itu”
Saya : “Maksud Anda kematian ? Itulah yang justru membuat saya tergelitik. Bukan tanpa maksud saya mengundang Tuan-Tuan. Di bulan Januari ini, Tuan Gandhi, begitu juga Anda Tuan King…Anda berdua harus berkorban nyawa. Kalian menjadi martir. Pertanyaan saya selanjutnya, apakah dengan kemartiran Anda berdua, kita jangan berharap lagi pada strategi non kekerasan ?”
Gandhi : “Saya pernah mengatakan, “perjalanan menuju Kebenaran melibatkan penderitaan, terkadang bahkan sampai kematian….“Saya melihat kehidupan di tengah kematian, kebenaran di tengah kebohongan, dan cahaya di tengah kegelapan.” “Sebaliknya, kemartiran Saya atau Tuan Martin Luther King tidak membuat jalan ini tertutup, justru semakin melebar. Di setiap zaman, di setiap massa, gaungnya tidak akan pernah berhenti. Tuan Mandela mengikuti jalan kami, dan Ia berhasil mengalahkan sistem apartheid di negaranya, dan Ia tidak menjadi martir. Ke depan, masih banyak Mandela-Mandela lain, mungkin di negara Anda juga ?”

About author

You might also like

Artikel 0 Comments

5 Tujuan Wisata di Yogyakarta (2)

  Cinderamata Banyak sekali barang-barang souvenir atau cinderamata etnik Yogyakarta yang sering diburu pengunung, yakni perak di Kota Gede.Dengan biaya yang terjangkau dan beraneka ragam model dengan kualitas terjamin, menjadikan

Gaya Hidup

Jangan Tertawa, Nama-Nama Ini Memang Ada

Syahdan Pujangga Inggris, Shakespeare berkata, “what is in a name ?” Apalah artinya sebuah nama, namun kenyataannya nama memang berarti.

Gaya Hidup 1Comments

Belajar Dari Nepal : Bangunan Tradisional Lebih Tahan Gempa

Gempa Nepal yang berkekuatan Mw 7,8 sungguh begitu menakutkan. Sejauh ini tercatat menewaskan, 3.617 jiwa dan melukai 6.833 orang. Jumlah ini masih bisa membengkak dalam hari-hari ke depan. Berada pada

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply