Tabuik, Ritual Memeringati Gugurnya Cucu Nabi Muhammad Saw

Tabuik, Ritual Memeringati Gugurnya Cucu Nabi Muhammad Saw

Ada ritual unik ketika datang 10 Muharram setiap tahunnya. Ritual ini disebut juga “Tabuik” dan dilakukan di Pariaman setiap tahunnya.

Ritual Tabuik atau dalam bahasa Arabnya Tabut yang memiliki arti mengarak tidak bisa dilepaskan dari sejarah Islam. Disinyalir, ritual yang diperingati setiap 10 Muharram di Pariaman Sumatera Barat ini dibawa oleh penganut Syiah berabad-abad yang lalu.

Seperti kita ketahui, 10 muharram merupakan tanggal yang bersejarah. Dalam tanggal ini, Cucu Nabi Muhammad Saw, yakni Sayyidina Hussein r.a dibantai oleh pasukan Yazid yang jumlahnya ribuan di padang Karbala, Irak.

Ritual  ini sebagai simbol dan bentuk ekspresi rasa duka yang mendalam dan rasa hormat umat Islam di Pariaman terhadap cucu Nabi Muhammad Saw.

Proses ritual ini lumayan cukup panjang. Dua minggu menjelang pelaksanaan upacara Tabuik, warga Pariaman sudah sibuk melakukan berbagai persiapan. Mereka membuat serta aneka penganan, kue-kue khas dan Tabuik. Dalam masa ini, ada pula warga yang menjalankan ritual khusus, yakni puasa. Pada hari yang telah ditentukan, sejak pukul 06.00, seluruh peserta dan kelengkapan upacara bersiap di alun-alun kota. Para pejabat pemerintahan pun turut hadir dalam pelaksanaan upacara paling kolosal di Sumatera Barat ini.

Selain sebagai nama upacara, Tabuik juga disematkan untuk nama benda yang menjadi komponen penting dalam ritual ini. Tabuik berjumlah dua buah dan terbuat dari bambu serta kayu. Bentuknya berupa binatang berbadan kuda, berkepala manusia, yang tegap dan bersayap.

Biasanya umat Islam menyebut binatang ini sebagai Buraq dan dianggap sebagai binatang gaib. Di punggung Tabuik, dibuat sebuah tonggak setinggi sekitar 15 m. Tabuik kemudian dihiasi dengan warna merah dan warna lainnya dan akan di arak nantinya.

Satu Tabuik diangkat oleh para pemikul yang jumlahnya mencapai 40 orang. Di belakang Tabuik, rombongan orang berbusana tradisional yang membawa alat musik perkusi berupa aneka gendang, turut mengisi barisan. Sesekali arak-arakan berhenti dan puluhan orang yang memainkan silat khas Minang mulai beraksi sambil diiringi tetabuhan.

Saat matahari terbenam, arak-arakan pun berakhir. Kedua Tabuik dibawa ke pantai dan selanjutnya dilarung ke laut. Hal ini dilakukan karena ada kepercayaan bahwa dibuangnya Tabuik ini ke laut, dapat membuang sial. Di samping itu, momen ini juga dipercaya sebagai waktunya Buraq terbang ke langit, dengan membawa segala jenis arakannya.

disarikan dari beragam sumber.

Comments

About author

You might also like

Komunitas

Jakarta dan Bandung : Kota Penggemar Vespa Terbesar di Dunia

Pontedera-Tuscany, Italia, Kota Paling bersejarah dalam pembuatan Motor scooter Vespa Piaggio, tidak mampu menandingi Jakarta dan Bandung

Artikel

Setelah Little Boy, Fat Man Meluluh Lantakkan Nagasaki Sekejap

Sejarah senantiasa mencatat, pada Agustus ini selain Hiroshima, Nagasaki adalah kota yang terpapar tragedi kemanusiaan terbesar.

Artikel

Memilih Sekolah TK Bagi si Kecil

Memilih sekolah TK bagi anak merupakan tantangan tersendiri, terutama bagi pasangan muda .