Ternyata, “The Proclamator” Turut Menginspirasi Rakyat Malaysia

Ternyata, “The Proclamator” Turut Menginspirasi Rakyat Malaysia

Beberapa hari yang lalu terjadi demonstrasi besar-besaran yang bernama Bersih 4.0 di Malaysia. Ribuan warga Malaysia dengan kompak menggunakan pakaian warna kuning berkumpul di Dataran Merdeka.

Tujuan para demonstran gerakan Bersih 4.0 ini adalah meminta hak demokrasi yang telah hilang dari Malaysia. Para demonstran berpakaian kuning juga meminta penyelamatan ekonomi Malaysia yang sedang terpuruk, serta menggulingkan perdana menteri Najib dari jabatannya.
Ada 4 tuntutan dari para demonstran Bersih 4.0, antara lain: 1. Pemilu yang Bersih 2. Pemerintah yang Bersih 3. Menyelamatkan ekonomi Malaysia 4. Hak membantah (berpendapat).

Berdasarkan pantauan siloka.com, ada sebuah hal unik pada gerakan Bersih 4.0 ini. Para demonstran yang merupakan warga Malaysia menggunakan ucapan Presiden Soekarno, yang juga terkenal dengan semboyan “Ganyang Malaysia” pada tahun 1963.

Kejadian unik tersebut berawal saat tiga orang mahasiswa mendapat kesempatan untuk berorasi di hadapan ribuan demonstran Bersih 4.0. Ketiga mahasiswa naik ke atas panggung yang sudah dilengkapi dengan sound system di Dataran Merdeka, Kuala Lumpur, Malaysia, (30/8/2015).

Tiga mahasiswa ini adalah Adam Fistival Wilfrid , Lau Yi Loong, dan Khairol Najib Hashim. Dalam orasinya, Adam Wilfrid mengaku terharu melihat ada ribuan massa bersatu untuk menggulingkan Najib dari tampuk kekuasaan.
“Saya teteskan air mata saya, semua ras bersatu di sini demi Bersih, anak muda harus berjuang, bertahan melawan untuk kebenaran. Anak muda should defend, should protect, and fight for the truth!,” teriak Adam yang merupakan mahasiswa Malaya University ini.

Pada akhir orasinya, Adam Wilfrid mengutip sebuah ucapan Presiden Soekarno, tentu saja dengan sedikit modifikasi.
“Saya mau bilang, beri seratus orangtua akan kugegarkan Everest. Beri aku sepuluh orang pemuda, akan kugoncang dunia”.

Pekikan Adam pun disambut positif oleh ribuan demonstran Bersih 4.0 yang memadati Dataran Merdeka dengan bernyanyi, berteriak, meniup terompet, membawa spanduk atau poster yang menuntut agar PM Najib mundur dari jabatannya.

Adapun kalimat asli Soekarno tersebut berbunyi “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya … Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”.
Pernyataan Presiden Soekarno tersebut mencitrakan kedahsyatan pemuda sebagai agen perubahan. Tentu saja pemuda yang dimaksud ialah mereka yang memiliki  pikiran positif, dan berprestasi.

Sebuah perubahan memang tidak pernah lepas dari karakter kalangan muda. Daya imajinasi, kreasi, dan inovasi senantiasa melekat pada semangat generasi muda. Karena itu, tidak heran jika Presiden Pertama Indonesia Soekarno dalam sebuah pidatonya secara tegas mengatakan peran pemuda yang bisa diandalkan untuk melakukan perubahan.

Sejalan dengan pernyataan Presiden Soekarno, Rhenald Kasali mengatakan, “Pemuda mencintai perubahan karena seiring dengan pola berpikir mereka yang terus berkembang.Termasuk, kapasitas mereka dalam mengasah potensi dan bakat mereka agar terus mencapai perubahan atau kesempurnaan”.

Pemuda yang menyukai perubahan, kelak akan meraih kesuksesan. Sementara mereka yang tidak mau berubah akan tetap terpuruk dan menjadi orang tertinggal.

(dari berbagai sumber)

About author

You might also like

Komunitas

Sejarah Awal Mula Scooter Vespa Piaggio

Sejarah mencatat ketika Enrico Piaggio secara tak sengaja berseru “Sambra Una Vespa” (terlihat seperti Tawon). Inilah cikal bakal penamaan Vespa.

Tokoh 1Comments

Siapakah Prabu Siliwangi itu ?

Nama Siliwangi, atau Prabu Siliwangi tak lepas dari Tatar Sunda. Namun, sosok satu ini masih diselimuti kabut misteri. Antara fakta dan mitos masih melingkupinya. Siapakah sebenarnya Prabu Siliwangi dan bagaimana

Napak Tilas

Kota-Kota Kuno Yang Tenggelam Ke Dasar Laut (bagian-1)

Peradaban manusia berlangsung ribuan tahun. Banyak kota yang telah dibangun, namun tak sedikit yang hilang tenggelam ke dasar laut. Penyebabnya bisa beragam. Dari unsur kesengajaan, hingga bencana alam yang meluluhlantakkan