Tradisi Potong Jari, Ungkapan Berkabung Bagi Suku Ini

Tradisi Potong Jari, Ungkapan Berkabung Bagi Suku Ini

Nusantara dikenal karena keragaman tradisi dan budayanya. Ada tradisi nan unik meski dibilang tak lazim, yakni potong jari.

Tradisi ini masih bisa ditemui, khususnya jika kita menemui para sesepuh Suku Dani di Papua.  Kalau kita pernah menonton film Denias, Senandung di Atas Awan karya sutradara John de Rantau maka tidak akan asing lagi dengan tradisi yang satu ini.

Tradisi Potong Jari adalah tradisi berkabung yang dimiliki suku Dani untuk mengungkapkan kesedihan karena ditinggalkan oleh anggota keluarga. Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa potong jari? Bagi Suku Dani, jari bisa diartikan sebagai simbol kerukunan, kebersatuan dan kekuatan dalam diri manusia maupun sebuah keluarga.

Kehilangan salah satu ruasnya saja, tangan kita tidak lagi berfungsi optimal. Itulah nilai filosofi dari tradisi ini. Zaman sekarang, tradisi ini sudah mulai ditinggalkan, tapi masih bisa dijumpai pada sesepuh suku Dani yang jemarinya sudah tidak utuh lagi.

Tradisi ini dalam bahasa mereka disebut “Ikipalin.”  Jika kita melihat tradisi potong jari dalam kekinian pastilah tradisi ini tidak seharusnya dilakukan atau mungkin tradisi ini tergolong tradisi ekstrim.

Akan tetapi dalam menilai dan membahas sebuah tradisi jangan selalu memakai kacamata pihak kita. Sebab, bagi masyarakat pegunungan tengah Papua, tradisi ini adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan. Mereka beranggapan bahwa memotong jari adalah simbol dari sakit dan pedihnya seseorang yang kehilangan sebagian anggota keluarganya.

Tradisi potong jari di Papua dilakukan dengan berbagai cara ada yang menggunakan benda tajam seperti pisau, kapak atau parang. Cara lainya yaitu mengikat jari dengan seutas tali sampai beberapa lama waktunya sehingga menyebabkan aliran darah terhenti dan pada saat aliran darah berhenti baru dilakukan pemotongan jari.

disarikan dari beragam sumber.

Comments

About author

You might also like

Artikel

Mengapa Soekarno Layak Disebut Seniman ? (Bagian 1)

Sebagai Proklamator, sebagai Presiden, Sebagai Founding Father begitulah kita mengenal sosok Soekarno. Namun, sebagai seniman ?

Artikel

Wow ! Muda Usia dan Kaya Raya

Memang terdengar di dunia fantasi. Muda, kaya raya…dan mungkin mati masuk surga. Tapi tidak dengan cerita Evan. Usianya masih di bawah 10 tahun, malah tepatnya 9 tahun. Tapi coba tebak

Hits

Warisan Dunia dengan Kondisi Mengkhawatirkan (1)

Pengelolaan pariwisata yang tidak tepat akan menjadi boomerang yang akan merugikan destinasi wisata itu sendiri.