Twelve Years A Slave : Perbudakan Yang Buruk

Twelve Years A Slave : Perbudakan Yang Buruk

12-years-a-slave

Meski diliris 2013 lalu, film ini masih layak direview, mengingat temanya masih aktual hingga sekarang.

Film yang disutradai Steve McQueen ini diganjar beragam penghargaan, dari mulai Golden Globe hingga Academy Award atau Piala Oscar, penghargaan film paling prestisius sejagad.

Film ini juga termasuk “Box Office” dengan raihan 187 juta dollar dari ongkos produksi yang hanya 20 juta dollar ! Tema film ini diangkat dari memoar dengan judul yang sama, yakni “Twelve Years A Slave” karya Solomon Northup pada 1853. Dengan kata lain, film ini “based on True Story” alias dari kisah nyata Solomon Northup sendiri.

Solomon Northup (Chiwetel Ejiofor) adalah seorang Afro Amerika kelahiran New York yang semula merdeka. Profesinya adalah sebagai pemain biola. Suatu hari ia bertemu dengan dua orang, Brown dan Hamilton yang menawarinya pekerjaan sebagai pemusik selama dua minggu di Washington DC. Ketika tiba disana, Northup dicekoki obat, sehingga ia tak sadarkan diri dan diculik. Ketika ia bangun, ia sudah dijual menjadi budak dan dikirimkan ke New Orleans bersama budak-budak lainnya.

Ia dipekerjakan di perkebunan yang dimiliki majikan bernama William ford. Ford sendiri adalah majikan yang cukup baik. Bahkan, Northup dihadiahinya biola karena kerjanya yang mengesankan. Namun, Tukang Kayu Ford, Jhon Tibeats merasa iri dengan Northup dan membuat gara-gara dengannya. Dalam sebuah perkelahian, Northup mengalahkan Tibeats, dan ini membuatnya semakin dendam. Bersama teman-temannya Tibeats hendak membunuh Northup, namun hal ini bisa dicegah Ford.

Demi menyelamatkan Northup, Ford menjual Northup kepada pemilik perkebunan lain, yakni Edwin Epps. Majikannya kali ini berkebalikan dengan Ford. Edwin Epps menganggap penyiksaannya terhadap para budak memang dijustifikasi oleh Al-Kitab. Di perkebunan tersebut siksaan demi siksaan harus diterimanya, jika pekerjaannya tidak memenuhi tuntutan si majikan.

Di sana ia juga bertemu dengan Patsey Picks, seorang budak wanita. Nasib Patsey jauh lebih buruk, karena ia sering diperkosa Epps dan menimbulkan kecemburuan Istri Epps yang lagi-lagi menyiksa Patsey. Singkat cerita, Northup berkenalan dengan Bass (Brad Pitt) yang sedang sama-sama mengerjakan sebuah Gazebo. Bass bersimpati kepada Northup, dan bersedia membantunya. Akhirnya setelah melalui perjalanan menjadi budak selama 12 tahun, Solomon Northup bisa menghirup udara bebas kembali dan menemui keluarganya.

Film ini menceritakan kebiadaban perbudakan. Idealnya tidak ada satupun negara-negara modern saat ini yang masih melegalkan perbudakan, tetapi praktek-praktek perbudakan tidak pernah terhapus sama sekali. Inilah mengapa tema film “Twelve Years A Slave” masih terasa aktual sampai detik ini.

Comments

About author

You might also like

Hits

Ohen, Batu Hijau Garut Menyaingi Bacan Doko

Meski demam batu akik disinyalir memudar, batu akik Garut tetaplah memesona dan bersaing. Batu akik Garut memang beragam.

Komunitas 0 Comments

Motor Antik: Legenda, Jati Diri dan Investasi (1)

  Motor antik atau motor klasik merupakan sebutan bagi motor-motor yang sudah berumur ujur. Walaupun sebenarnya tidak ada batasan apa yang disebut antik atau klasik tersebut hanya diukur dari tahun

Kesehatan

Dunia Medis Berperang Melawan Sel Kanker

Kemoterapi bisa meningkatkan usia harapan hidup penderita kanker, namun tidak dapat memberikan kesembuhan total.

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply