Yunani Pasca Referendum; Kontraksi Pasar Saham Eropa dan Asia

Yunani Pasca Referendum; Kontraksi Pasar Saham Eropa dan Asia

Referendum Yunani untuk menerima atau menolak persyaratan IMF dalam pengucuran hutang baru bagi Yunani -yang baru-baru ini dinyatakan gagal bayar 1.5 millar Euro ke IMF, memicu kekhawatiran para petinggi Eropa. Berdasarkan hasil pemungutan suara tersebut, 61% rakyat Yunani menolak persyaratan Uni Eropa, Bank Sentral eropa dan IMF. Hasil ini disambut gegap gempita oleh rakyat Yunani.

Keputusan rakyat Yunani ini sejalan dengan Perdana Mentri mereka, Alexis Tsipras, yang jauh-jauh hari sudah menyatakan sikapnya mengenai hal ini. Seperti yang dikutip dari Reuters, Tsipras bahkan dengan keras menyatakan bahwa Uni Eropa tidak dapat lagi memeras mereka.

Penukung OXI atau NO dalam referendum Yunani yang menolak persyaratan Uni Eropa dan IMF untuk pengetatan anggaran

Penukung OXI atau NO dalam referendum Yunani yang menolak persyaratan Uni Eropa dan IMF untuk pengetatan anggaran

Penolakan Yunani terhadap persyaratan pengetatan anggaran seperti yang diharapkan oleh Uni Eropa ini dianggap sebagai sinyal kuat kalau Yunani akan keluar dari Eurozone atau yang dikenal dengan istilah Grexit.

Grexit tentu saja akan sangat merugikan bagi Uni Eropa, mata uang Euro akan mendapat tekanan yang luar biasa. Para pemimpin Uni Eropa menyatakan kekecewaannya terhadap hasil referendum.

Di Paris, perdana Mentri Prancis Francois Hollande dan Kanselir Jerman Angela Merkel dalam konferensi pers menyatakan menghormati dan menerima hasil referendum. Meskipun juga menyesali hasil tersebut, Hollande dan Merkel menyatakan pintu diskusi bagi Tsiprass untuk menemukan langkah bersama penyelamatan Yunani terbuka lebar. Mereka ingin mendengarkan usulan dari Tsipras untuk pertumbuhan dan kesejahteraan Yunani. Hari Selasa ini (9/7) para pemimpin Uni Eropa akan mengadakan pertemuan untuk membahas solusi bagi Yunani pasca referendum.

Pasar Eropa merespon hasil referendum ini dengan negatif. Kontraksi pasar ini ditandai dengan pelemahan berbagai indeks saham di Bursa Pasar Saham Eropa termasuk Asia. Bahkan, Bursa Saham Athena telah ditutup sejak 29 Juni sebagai bentuk kontrol atas modal. Prospektus Yunani yang tidak jelas ini dikhawatirkan akan memengaruhi pasar regional, yang dapat berimbas pada perekonomian Indonesia.

Analisa ini memunculkan beragam pendapat dari masyarakat Indonesia. Pantauan Siloka.com pada berbagai media sosial di Indonesia, publik cenderung memandang isu bangkrutnya Yunani akan mengembalikan Indonesia ke era krisis moneter ’98, setidak-tidaknya demikian yang banyak dinyatakan oleh netizen.

Beberapa petinggi negara seperti Presiden PKS, Anis Matta, dalam akun Twitternya @anismatta, menyatakan kekhawatirannya kalau krisis mata uang ini akan dengan mudah menular (contagious) dengan luar biasa ditengah-tengah pelemahan rupiah saat ini. Dalam twitnya, Anis matta juga menyoroti kasus Yunani ini adalah tanda-tanda kegagalan sistem kapitalisme internasional.

Senada dengan Anis, Fahri hamzah, wakil ketua DPR RI juga menyatakan kehawatirannya terhadap krisis ekonomi Yunani ini. Melalui tanda pagar #waspadaPHK di lini masa akun @fahrihamzah, Fahri menyatakan krisis Yunani diyakini akan berdampak terhadap ekonomi kawasan Eropa dan Amerika Serikat, dan tentunya juga akan berimbas bagi perekonomian dalam negeri.

Berbeda dengan pendapat dengan Anis matta dan Fahri Hamzah, Kepala Ekonom BRI Anggito Abimanyu, menyatakan kalau Indonesia tidak akan terlalu berdampak terhadap krisi Yunani. Anggito yakin pemerintah tentunya sudah bersiap dengan skenario terburuk dari krisis Yunani ini. Senada dengan Anggito, Alidan Taloputro, Analis Mandiri Sekuritas, menyatakan Indonesia kemungkinan tidak akan terpengaruh oleh krisis Yunani. Namun dengan catatan pemerintah harus tetap mewaspadai aliran dana keluar yang merupakan imbas dari krisis tersebut.

Bloomberg dan IMF Outlook menunjukkan kalau perekonomian Indonesia merupakan yang terkuat di dunia pada saat ini. Bahkan diprediksi hingga akhir tahun 2015, perekonomian indonesia akan bertengger di 5 besar negara dengan performance ekonomi terbaik di dunia.*

 

Comments

About author

You might also like

Napak Tilas

Anne Frank dan Buku Harian Seorang Gadis Kecil Korban Holocaust (1)

Pepatah “don’t judge a book from it’s cover” memang benar adanya. Dari buku harian yang tampak tak berharga dengan sampul sederhana dan catatan seorang gadis kecil di dalamnya namun sanggup mengguncang dunia.

Gaya Hidup

Jodha Akbar, Bagaimanakah Fakta Sesungguhnya ?

Pernah nonton Film Jodha Akbar ? Film ini berhasil menyedot perhatian pemirsa, namun benarkah cerita ini berdasarkan fakta sesungguhnya ?

Artikel

Wayne Rooney Kembali Menjadi Pemain Everton?

Rooney menjadi kejutan bagi fans Everton karena tampil dalam pertandingan testimonial salah satu mantan striker Everton, Duncan Ferguson.